YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
276. Haidar, Kang Bucin


__ADS_3

Yumna melihat bungkusan makanan yang ada di meja dapur, sedikit bingung dengan bungkusan tersebut karena dia tidak merasa memesannya. Sedikit mengintip ke dalam sana, terdapat dua bungkus makanan. Satu kotak dia buka, ada nasi dan juga ayam goreng serta sambal dan lalapan di dalamnya. Seketika perutnya terasa sangat lapar setelah melihat makanan tersebut.


"Punya siapa ini?" tanya Yumna dengan bergumam. Dia kemudian menutup kembali makanan tersebut dan pergi ke luar untuk bertanya kepada Pak Dani. Tampak laki-laki tersebut kini tengah menyiram tanaman.


"Pak Dan," panggil Yumna. Pak Dani yang dipanggil menolehkan kepalanya dan tersenyum. Tampak pandangan laki-laki itu tertuju pada apa yang Yumna pakai dan juga warna merah yang ada pada leher Yumna.


"Iya, Mbak?"


"Anu, itu di dapur makanan punya Pak Dan?" tanya Yumna.


"Oh, itu saya yang belikan, buat Mbak Yumna dan Mas Haidar sarapan," jawab Pak Dani. "Maaf, tadi saya cari sarapan di luar, mau tanya Mbak Yumna, tapi kayaknya tadi belum bangun. Jadi, Pak Dan belikan sekalian karena di dapur juga gak ada nasi dan sayur," ucap laki-laki tersebut.


Yumna tersenyum senang akan perhatian Pak Dani. "Makasih, Pak. Kebetulan sekali saya juga lapar sih. Kesiangan bangun," ucap Yumna dengan tertawa kecil, malu rasanya karena tidak biasanya dia bangun sangat kesiangan seperti ini.


Mata Pak Dani kini tertuju pada sesuatu yang Yumna pegang. "Itu ... ada yang sakit, kah?" tanya Pak Dani. Yumna tersadar dan menyembunyikan salep tersebut di belakang punggungnya.


"Ah, ini bukan apa-apa. Ya sudah kalau begitu, saya ke dalam dulu deh, nanti saya ganti ya uang sarapannya," ucap Yumna kepada Pak Dani.


"Gak usah, Mbak. Lagian juga gak seberapa." Tolak Pak Dani.


"Oke, makasih, deh. Yumna masuk dulu, ya." Pamit Yumna, lalu tanpa menunggu jawaban dari Pak Dani dia pergi ke dalam rumah kembali.


"Kok lama?" tanya Haidar saat Yumna baru saja kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ketemu Pak Dani dulu," jawab Yumna lalu mendekat kepada suaminya.


"Ada apa?" tanya Haidar.


"Ada makanan di dapur, aku tanya ternyata Pak Dan belikan makanan buat kita." Yumna menepuk tempat di tepi kasur, Haidar mendekat dan duduk membelakangi istrinya.


"Baik banget ya Pak Dani," celetuk Haidar.


Yumna mulai mengoleskan salep tersebut pada punggung Haidar yang terdapat beberapa guratan merah.


"Emang baik banget, dia udah aku anggap kayak orang tua sendiri. Dia tuh di sini sedari aku belum lahir," ucap Yumna.


"Oh. Akh. Pelan-pelan, Sayang!" pekik Haidar pelan, rasanya sedikit perih di belakang sana saat Yumna memberikan salep pada lukanya.


Haidar menolehkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Sakit, tapi gak sebanding sama sakitnya aku kalau gak ada kamu," ucap Haidar sambil terkekeh.


"Ish, kamu nih." Yumna menahan rasa bahagia di dalam hatinya, ucapan Haidar ini membuatnya kecanduan. Inginnya dibucinin terus.


Yumna menyelesaikan mengoleskan salep pada punggung Haidar. "Sudah selesai."


Haidar hendak memakai kaosnya kembali, tapi terhenti saat Yumna melarangnya. "Lebih baik jangan pakai kaos, nanti malah salepnya hilang lagi," ucap Yumna. Dia segera pergi ke depan lemari dan mencari kaos dalam Haidar. Bagian belakang pundaknya yang terbuka tidak akan menghilangkan salep yang baru saja dia oleskan. Tak lupa dia juga membantu Haidar memakaikan kaos tersebut.


"Terima kasih, Ayang." Haidar memberikan bentuk cinta dengan menggunakan jari tangannya.

__ADS_1


"Sama-sama," ucap Yumna dengan malu. Haidar paling suka melihat wajah Yumna yang seperti itu, bersemu merah seperti tomat yang hampir matang.


Haidar mencubit pipi Yumna yang merah, menggerakkan kepala istrinya ke kanan dan ke kiri. Gemas sekali rasanya kepada istrinya ini.


"Haidar sakit!" teriak Yumna sambil menahan tangan Haidar dari pipinya. Sedikit linu pipinya akibat perbuatan suaminya itu.


"Aku tuh gemes sama kamu, kamu tuh bikin aku tergila-gila, Yumna," ucap haidar lalu mendekat dan memberikan ciuman singkat di bibir Yumna. Tak ada lagi rasa malu kepada istrinya ini. Dia hanya ingin membagikan rasa hatinya yang kini tengah bahagia dengan perlakuan yang nyata.


"Kamu jangan gombal terus bisa, gak?" tanya Yumna semakin malu dan menundukkan kepalanya.


"Aku gak gombal, aku serius."


"Tapi ucapan kamu bikin hati aku pengen meledak," ucap Yumna, lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan dua tangan. Haidar terkekeh dan membuat Yumna semakin malu dan ingin menyembunyikan diri di tempat lain. Entah apa yang dia pikirkan sampai bisa bicara seperti itu kepada Haidar.


Haidar tertawa kecil, mengambil Yumna dengan perlahan ke dalam pelukannya dan mencium kening istrinya dengan sangat lembut sekali. "Kamu tau, gak? Aku tuh bahagiaaaa sekali sekarang ini sudah bisa hidup berdua sama kamu. Aku laki-laki yang bahagia karena bisa menjadi suami kamu. Aku bahagia karena sekarang kita sudah bersama," ucap Haidar memeluk Yumna semakin erat.


Yumna merasa bahagia juga mendengar ucapan Haidar, laki-laki ini telah sukses membuat dirinya terbang tinggi, hanya saja sedikit khawatir dengan masa depan mereka. Akankah kebahagiaan ini selamanya mereka dapatkan? Hidup berumah tangga tidak serta merta tak akan ada halangan. Justru di sinilah pengalaman mereka akan diuji.


"Haidar," panggil Yumna pelan. Haidar tidak melepaskan pelukannya.


"Hem. Apa?" tanya Haidar.


"Kamu tuh bicara panjang lebar, tapi artian dari kalimat tadi tuh sama," ucap Yumna. Rasanya dia geli dengan kalimat Haidar tadi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Cinta itu satu, Yumna. Tapi, bagaimana orang mengartikannya dan juga menyampaikannya bisa sangat banyak sekali caranya," ujar Haidar lagi.


__ADS_2