
YUmna merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Rasa sakit yang timbul tenggelam membuatnya tidak bisa duduk dengan baik. Hal tersebut terlihat oleh Mitha dan membuatnya menjadi khawatir.
"Kamu kenapa, Yumna?" tanya Mitha mendekat dan duduk di samping menantunya. Yumna menggelengkan kepala tanda tak tahu.
"Perut Yumna agak sakit, sedikit," jawab wanita itu jujur.
"Sakit? Kenapa? Apa kamu jatuh?" tanya Mitha semakin khawatir. Lagi-lagi Yumna menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Mi. Nggak jatuh kok."
"Terus, kenapa?" tanya Mitha lagi. Dia tadi sempat melihat tanda merah di leher Yumna, mengerti dengan apa yang terjadi apalagi tadi Haidar terlihat sumringah saat pulang tadi.
"Apa kalian sudah olahraga malam?" tanya Mitha, mendengar mertuanya menanyakan itu Yumna tersenyum malu. "Apa mungkin terlalu kencang?" tanya Mitha lagi. Yumna mencoba mengingatnya.
Bisa jadi, sih. Itu lah yang Yumna pikirkan sekarang.
"Hei, Mami tanya juga. Kalian nggak terlalu kencang kan mainnya?" tanya Mitha menyenggol lengan Yumna hingga menantunya itu tersadar. Lagi-lagi Yumna tersenyum malu.
"Tapi segitu kayaknya nggak kencang deh, Mi."
__ADS_1
"Kalau gitu ayo kita periksakan ke rumah sakit. Mami nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Hiss, dasar Haidar. Tau istri lagi hamil gede mainnya nggak hati-hati lagi!" ujar Mitha sebal mencari-cari sosok Haidar, tapi anaknya itu tidak tampak keluar dari dapur sedari tadi.
Yumna mendengar itu, tapi dia tidak berbicara sepatah katapun. Tentu saja malu jika dia yang meminta kepada Haidar untuk sedikit membuatnya terpuaskan, juga mungkin karena dia yang bergerak leluasa di atas Haidar hingga membuatnya sakit perut bagian bawah.
"Haidar!" panggil Mitha keras. Beberapa kali dia memanggil putranya itu, barulah pada panggilan keempat Haidar keluar dari dapur dengan membawa piring berisikan nasi di tangannya.
"Heh, sini kamu!" teriak Mitha. Haidar yang baru saja keluar dari sana menatap bingung pada sang ibu.
"Heh, sini!" tunjuk Mitha pada sofa, menandakan jika Haidar harus duduk di sana.
Sambil memakan makanannya Haidar duduk di sofa tunggal yang ada di sana.
"Kamu apain Yumna sampai sakit perut begitu?" tanya Mitha. Haidar segera mengunyah makanannya dan menelannya dengan cepat.
"Eh, apain? Sayang, emang aku ngapain kamu?" tanya Haidar bingung.
Mitha melotot mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya.
"Jangan pura-pura kamu. Kamu kalau mau 3n4-3n4 sama Yumna pelan-pelan, tau istri lagi hamil besar. Jangan terlalu kencang mainnya!" seru sang mami.
__ADS_1
"Eh, kenapa jadi aku? Aku kan cuma nurutin apa mau Yumna, katanya masih aman," ucap Haidar. Yumna jadi tidak enak hati karena sang suami jadi diomeli oleh ibunya. Rasa sakit yang timbul kini sudah mereda.
"Mi, jangan salahin Haidar, memang tadi aku ... aku yang minta," ujar Yumna lirih. "Lagian ini juga sudah nggak sakit lagi, Mi. Sudah sembuh," ucap Yumna sambil mengelus perutnya yang membulat.
"Eh, beneran sembuh?" tanya Mitha heran. Yumna menganggukkan kepalanya.
"Iya, Mi. Udah nggak kerasa sakit lagi. Udah enakan," jawab Yumna. Haidar menyimpan piring yang ada di tangannya dan mendekat pada Yumna, mengelus perut sang istri yang kini menjadi candunya.
"Kamu kalau sakit kok nggak bilang ke aku?" tanya Haidar sebal.
"Nggak sakit lagi kok. Udah nggak sakit," jawab Yumna.
Haidar menghela napas lega, memang sedari tadi dia melihat Yumna sedikit aneh, tapi dia mengatakan baik-baik saja.
Menjelang sore hari mereka pulang ke rumah. Yumna merasa semakin tak nyaman di perutnya, kini sakitnya semakin sering saja.
"Ada apa ya? Perasaan kalau mau lahiran kan masih satu bulan lagi," gumam Yumna sambil membaca buku panduan kehamilan. Di sana tertulis gejala saat akan melahirkan, bagaimana ciri-ciri kontraksi dan sebagainya.
"Masa iya aku mau lahiran sekarang. Kan belum tanggalnya," ucapnya lirih. Akan tetapi, rasanya kini sudah tidak tahan lagi membuat dia memanggil Haidar.
__ADS_1