
Yumna kini membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Dia memeluk bantal guling di tangannya. Wajahnya masih terasa panas akibat mengingat apa yang tadi dia sampaikan pada Haidar. Kembali Yumna merutuki dirinya.
Aku malu! Apa yang harus aku lakukan kalau bertemu lagi dengannya nanti? batin Yumna.
Yumna terdiam sebentar. Apakah dia terlalu pede memikirkan Haidar akan bertemu lagi dengannya? Bukankah pria itu tadi sudah mengatakan kalimat menyerah?
Hah, ya ampun. Sepertinya dia sudah menyerah terhadapku, tapi kenapa aku malah mempermalukan diriku sendiri? batin Yumna dengan sedih.
Entahlah. Lihat saja besok atau lusa, atau entah sampai kapan. Jika memang apa yang dikatakan Mami Mitha benar, mungkin Haidar akan menemuinya lagi.
"Aaaah, tapi pastinya aku akan malu. Harusnya tadi aku diam saja dan menunggu inisiatif dia," gumam Yumna seraya menutup wajahnya yang panas.
"Ah sudahlah. Masa bodoh. Dia mau kembali mendekati atau tidak, yang terpenting aku sudah memberikan kode kepadanya," ujar Yumna lalu kemudian bangkit dari berbaringnya.
...***...
Haidar mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. Senyum yang tersungging di bibirnya tidak pernah surut. apa yang tadi Yumna katakan, dan apa yang tadi Mami terangkan, sungguh membuat dirinya kini menjadi bahagia.
Haidar menghentikan mobilnya di samping mobil-mobil yang lain. Dia juga melihat mobil yang dipakai sopirnya untuk menjemput sang Papi sudah sampai di rumah. Dengan langkah yang cepat Haidar setengah berlari ke dalam rumah itu.
"Mami!" teriak Haidar dengan keras, tapi tidak ada jawaban dari maminya itu.
Haidar kembali berlari mencari Mita di dapur, tapi hanya Bi Nah yang dia lihat di sana.
"Mami mana bi?" tanya Haidar kepada Bi Nah.
"Ada di dalam kamar sama Bapak," ujar Bi Nah. Haidar memutar bola matanya dengan malas, sudah pasti percuma jika dia memanggil ibunya, entah berapa lama mami akan keluar dari kamar itu. Sepertinya akan berlangsung sangat lama.
__ADS_1
Haidar kini tidak mau ambil pusing. Dia dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah kamar.
Tubuhnya ia lemparkan ke atas kasur yang empuk, dia mengambil bantal guling dan memeluknya dengan erat. Senyum masih tersungging di bibir Haidar. Tiba-tiba saja dia merindukan sosok Yumna yang dulu menemani di setiap malamnya, meski mereka tidak pernah melakukan apa-apa.
Haidar kini sedang membayangkan apa yang harus dia lakukan nanti ketika bertemu dengan Yumna. terutama dia harus merangkai kata-kata. Padahal selama ini dia tidak pernah melakukannya. Bahkan dengan Vio dia tidak pernah merasa gugup seperti tadi.
"Sungguh bodohnya diriku, dulu terikat dengan Vio dan meninggalkan Yumna. Menyesal memang tidak berarti lagi sekarang," keluh Haidar dalam gumamannya.
Pagi ini, Haidar bersiap lebih pagi dari biasanya. Dia sudah terlihat sangat tampan dengan jas berwarna navy dan dasi yang senada. Rambutnya yang mullai panjang dia sisir ke belakang. Tak lupa dia kasih jel sebelumnya agar tisak berantakan saat terkena angin atau badai.
Dia tersenyum saat menatap cermin yang ada di depannya, sekali lagi mendekatkan dirinya, memindai dari atas hingga ke bawah, melihat apakah masih ada yang kurang atau tidak. haidar tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Perfect!" serunya sambil mengusap rambutnya yang sudah rapi.
Tak lupa dia juga mengambil parfum dan menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tangan. Lebih banyak dari biasanya.
Haidar turun dari lantai atas setengah berlari dengan cepat sambil memakai jam di pergelangan tangannya.
"Pagi, Mi," sapa Haidar lalu mencium pipi kiri Mitha, membuat wanita itu kini terpekur.
'Beneran ini Haidar?' batin Mitha tak percaya. Pasalnya sudah sangat lama sekali dirinya tidak pernah menapatkan ciuman di pagi hari dari anak satu-satunya ini.
"Pa-pagi," jawab Mitha.
"Sarapan?"
"Enggak ah, aku ga sarapan, ini aja," ujar Haidar seraya mengambil roti lapis yang ada di tangan Mitha, roti yang dia siapkan untuk suaminya itu kini telah berada di mulut sang putra.
__ADS_1
Mitha memutar bola matanya malas, "Itu juga sarapan!" serunya dengan mencibir. "Itu buat Papi, kenapa kamu makan?" tanya Mitha dengan kesal.
"Ah, Mami. Buat saja lagi, jangan ribet. Ini masih pagi. Aku berangkat dulu ya, Mi," pamit Haidar, sekali lagi mencium pipi Mitha. Kini dia berjalan meninggalkan sang mami di depan meja makan.
"Mau kemana sih? Ini masih pagi loh!" teriak mami bertanya.
"Jemput calon mantu!" jawab Haidar tak kalah teriak.
Mendengar hal itu, senyum yang ada di bibir Mitha mengembang. 'Calon mantu?'
Arya keluar dari dalam kamar, sudah bersiap untuk sarapan pagi. Dia melihat Haidar yang berjalan tergesa sambil memakan makanannya kini sudah hampir sampai di pintu.
"Hai, Pi. Bye Pi," sapa Haidar sekaligus pamit pada ayahnya itu.
Arya mengerutkan keningnya. Bingung dengan putra satu-satunyaitu. Dia kemudain mendekat ke arah Mitha dan mencium pipi istrinya.
"Haidar kemana sih? Gak biasanya dia berangkat pagi gini? Biasanya aja nanti paling terakhir!" tanya Arya pada sang istri.
"Mau jemput calon mantu katanya," jawab Mitha. Tangannya yang ramping menyodorkan piring berisikan roti lapis yang baru untuk sang suami.
"Calon mantu? Sedang dekat dengan siapa?" tanya Arya seraya mendudukkan dirinya di kursi. Dia meraih kopi yang kini sudah menghangat.
"Mantan menantu yang akan kembali jadi calon mantu," ujar Mitha.
Arya terdiam, mencoba mencari jawaban dari ucapan istrinya yang berputar-putar. "Yumna?" tanya Arya setelah bisa mencerna kalimat sang istri.
"He-em," jawab Mitha sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Syukurlah, semoga saja anak itu berhasil bawa Yumna kembali ke rumah ini lagi."
"Aamiin," sambut Mitha setuju.