YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
301


__ADS_3

Syifa menatap kedua adiknya dengan marah, dua pemuda itu berjalan terus menuju ke arah kamar mereka dan tidak peduli dengan tatapan Syifa yang kesal. Sudah hampir satu bulan tidak bertemu dengan kakaknya itu, dan kali ini si kembar tidak mengajaknya sama sekali.


"Kalian nyebelin!" teriak Syifa sekali lagi saat kedua adiknya masuk ke dalam kamar masing-masing. Teriakan Syifa sangat keras sehingga terdengar sampai ke lantai bawah.


"Pa, itu suara Syifa kenapa?" tanya Lily membuat Bima yang ada di atas tubuhnya menghentikan gerakan.


"Biarin aja. Palingan Syifa marah sama si kembar," ucap Bima, lalu kembali melahap sesuatu yang sangat nikmat meski tidak pernah membuatnya kenyang.


"Ish, kamu ini. Itu ... Syifa ...." Lily tidak tahan pasalnya tangan Bima sedang bergerak, seperti memainkan squishy, membuatnya sangat nyaman. Pikirannya kini terbagi, antara mendatangi putrinya atau melanjutkan kegiatan yang seru ini.


"Kamu sudah capek urusin anak-anak. Mereka juga sudah besar. Sekarang jangan pikirin mereka. Biar aku yang sekarang urusin kamu."


Lily tidak kuasa menolak, benar apa kata Bima, semua anak-anaknya sudah besar. Sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Dia kini memilih pasrah dalam kungkungan sang suami.


Hayoooo siapa yang gak bisa move on dari Papa Bima sama Lily? 🤣🤣


...***...


Syifa berjalan ke arah kamar Yumna, tepat di samping kamar Azkhan. Gadis manis itu menjatuhkan tubuhnya yang mungil di atas kasur sang kakak.


"Jahat banget sih gak ajak aku pergi!" teriak Syifa kesal. Seperti biasanya, jika rindu dengan kakaknya yang satu itu Syifa hanya bisa tidur di kamar ini. Rasanya sepi jika tidak ada Yumna, terutama tidak ada yang membelanya dari sifat usil kedua adiknya itu.


...***...

__ADS_1


Pagi menjelang, Lily bangun dari tidurnya. Sakit sekali pinggangnya akibat permainan dengan Bima semalam. Dia akui, meski Bima sudah tidak lagi muda, tapi untuk yang satu itu semangatnya masih sangat besar sekali.


Lily segera pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Hampir jam setengah tujuh pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan, tapi satu-satunya tuan putri di rumah ini belum bangun juga. Lily yang masih menata makanan di meja makan meminta Azkhan membangunkan Syifa.


"Kalau dia gak bangun juga? Boleh aku seret?" tanya anak bungsunya itu yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari sang ibu.


"Yang bener aja, Az. Jangan keterlaluan kamu sama kakak kamu. Sana bangunin dia, nanti kalau ditinggal ke kampus bakalan marah lagi loh!" titah Lily pada anaknya itu.


"Iya." Azkhan terpaksa bangkit dari duduknya dan menuju ke arah kamar Syifa.


"Kakak kamu gimana kabarnya? Mama bener gak denger waktu kalian mau pergi," tanya Lily pada Arkhan.


"Mama enggak nonton sinetron, tapi kemarin tuh lagi nonton berita. Itu tuh, Pa. Kasihan banget tau. Artis tuh, masa masih muda, baru aja nikah kemarin, kok KDRT. Pake dicekik segala sama dibanting suaminya. Kan kurang ajar banget, ya. Mana Mama kira tuh ya, dari dulu, kalau dia gak deket tuh sama istrinya nggak bakalan deh dia terkenal dan punya popularitas. Kan dulu sedikit tuh yang tau sama dia. Pas deket sama tuh artis cewek, melambung deh popularitasnya. Nggak nyadar diri dia, dulu gimana, sekarang gimana," ucap Lily panjang dan lebar dengan nada yang terdengar gemas. Akhir-akhir ini telah terjadi berita yang menghebohkan, lantaran tidak menyangka dengan berita yang seperti itu. Mereka berdua tampak harmonis dan terlihat sangat bahagia di setiap kebersamaan mereka.


"Mama ini, tadi tanya apa. Kok, sekarang malah bahas apa." Kritik sang suami. Lily tersadar dan tersenyum malu, berita yang ada di tv telah membuat dirinya gemas dan lupa jika tadi tengah menangkan Yumna.


"Hehe, lupa. Kak Yumna sehat, kan? Mama belum ketemu lagi." Kali ini Lily kembali pada tujuannya.


"Sehat, Ma." Arkhan menjawab singkat dan hal itu sudah cukup untuk Lily menjawab ke khawatirannya.


"Syukur, deh. Mama kangen banget sama Kak Yumna. Pa, suruh Yumna pulang ke sini, nginap di sini," pinta Lily pada suaminya.

__ADS_1


"Lebih baik Mama saja yang telepon Yumna. Papa masih takut kalau Yumna nanti mengira kalau Papa paksa dia buat kembali ke kantor," ucap Bima. Lily mendengkus sebal, menatap suaminya dengan tajam.


"Heran, deh. Tinggal jangan bahas itu, bilang aja kangen, pengen ketemu, suruh Yumna nginap. Kok gitu aja kayak gengsi!" ucap Lily.


Bima tidak terima dengan ucapan istrinya itu. "Bukan gengsi, Ma. Tapi kan siapa tau aja Yumna masih mikir gitu. Kan daripada nanti dikiranya begitu bukannya lebih baik Mama yang telepon Yumna."


Arkhan menatap malas kedua orang tuanya, dia lebih memilih fokus dengan makanan yang ada di piring. Debat saat pagi hari sudah biasa untuk ibu dan ayahnya ini, tapi dia tahu, hal itu seperti bumbu dari kelanggengan rumah tangga mereka.


'Gue dan Ameera ... apa bakalan gini juga?' batin Arkhan. Rasanya rindu sekali dia kepada kekasihnya itu. Entah apakah hubungan mereka masih bisa terselamatkan atau tidak, nyatanya sifat keras kepala keduanya telah membuat hubungan mereka sedikit merenggang. Akan tetapi, ikatan yang kuat membuat keduanya juga cepat membaik. Hanya saja beberapa bulan ini dirinya belum bertemu dengan Ameera lagi.


Sementara Bima dan Lily berdebat, Arkhan sedang galau, di lain tempat Azkhan tengah bersusah payah membangunkan Syifa yang ternyata ada di dalam kamar Yumna.


"Kak Syifa, nggak mau bangun gue seret lo ya!" seru Azkhan dengan kesal menarik selimut yang menutupi tubuh kakaknya.


"Apaan sih. Gue masih ngantuk. Nanti lah, sejam lagi!" Syifa merasa kesal, berbicara dengan nada protes dan berusaha untuk mempertahankan selimutnya. Akan tetapi, Azkhan tidak mau melihat itu. Bisa-bisa dia diomeli sang mama jika Syifa tidak juga bangun.


"Kak, kita mau berangkat loh. Nanti elu berangkat sendiri, ya."


"Hem. Ya udah, kalian berangkat aja duluan. Gue bolos aja deh," ucap Syifa lagi dengan malas.


Azkhan menatap buntalan besar di dalam selimut biru langit dengan kesal, kedua tangannya berkacak pinggang serta terdengar decakan dari mulutnya.


"Astaga. Kak, elu bangun napa ih, gue nanti yang dimarahin mama kalau elu gak bangun juga!" kesal Azkhan, tapi Syifa tidak peduli dengan hal itu, dia mengantuk sekali sekarang setelah semalam menonton dracin kesukaannya.

__ADS_1


Tak habis pikir, Azkhan mendekat dan memanggul Syifa di bahunya yang baru saja ingin tidur kembali. Dan membawanya ke dalam kamar mandi. Sontak karena kejadian itu membuat Syifa terkejut dan berteriak


__ADS_2