YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
96. Haidar yang Keras Kepala


__ADS_3

“Tidak, Haidar! Mami tidak akan setuju kamu berpisah dengan Yumna.!” jerit Mitha.


“Mami tidak akan mau datang ke sana untuk menyerahkan Yumna. Mami ingin bawa dia pulang ke sini.” Mitha terlihat kesal dan emosi saat Haidar mengutarakan apa yang dikatakan Papa Bima.


Terasa berat memang baginya, tapi mungkin ini memang yang terbaik untuk mereka. Dia tidak bisa menguasai Yumna, gadis itu hanya istrinya di atas kertas.


(Waaah judul baru. ISTRI DI ATAS KERTAS)


Haidar hanya terdiam.


“Haidar, tidak bisakah kalian bersama?” tanya Papi Arya. “Kalian tidak perlu bercerai, kalian selama ini sudah saling mengenal mungkin dengan bersama sebentar lagi kalian akan saling jatuh cinta.” papi mencoba membujuk Haidar.


“Aku tidak suka dengan Yumna.” lagi-lagi jawaban itu yang mereka dengar.


“Apa kurangnya dia. Yumna cantik, dia juga baik!” ucap Mitha emosi.


“Tapi aku tidak suka dengan Yumna. Yang aku suka itu Vio!”


“Sadar Haidar. Vio itu tidak baik.”


“Tidak baik dari mana. Hanya karena mami beberapa kali melihat dia jalan dengan orang lain, mami bilang dia tidak baik?” Haidar mulai tersulut emosinya. Tak terima dengan sang mama yang terus men jelek jelek kan Vio.


“Kalau dia menghargai kamu sebagai kekasihnya dia pasti akan menuruti semua yang kamu mau, demi kebaikan dia juga. Dia tidak akan pergi dengan lelaki lain. Mana rasa hormat dia sama kamu.”


”Apa salahnya kalau dia keluar dari dunia model? Apa salahnya kalau dia menjadi wanita yang berpakaian normal. Toh banyak model yang terkenal dengan pakaian tertutupnya.”


“Mi, aku tidak suka mami mengatur Vio. Dia bahagia dengan dirinya sekarang. Dan aku juga bahagia melihat dia bahagia. Lalu kenapa mami tidak bisa melakukan seperti itu buat aku. Apa mami tidak bahagia melihat aku bahagia?” protes Haidar.


“Bahagia yang seperti apa? Bahagia karena kamu buta dengan cinta?” ucap Mitha dengan penuh penekanan.


“Terserah apa kata Mami. Aku cinta dia dan aku akan mempertahankan dia. Meski aku harus keluar dari rumah ini!” Haidar berdiri lalu melangkah meninggalkan Mitha dan Arya di ruangan itu.


Mitha menghempaskan punggungnya pada sofa. Dia memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.

__ADS_1


Ah, entah harus bagaimana lagi. Sepertinya dia lebih baik berbicara dengan pohon. Bicara dengan Haidar membuat tensi darahnya naik.


“Aku akan bicara dengan Haidar.” Arya bangkit lalu pergi ke kamar Haidar. Bi Nah datang dengan segelas teh lemon hangat di atas nampan.


“Aku tidak tahu lagi harus bicara seperti apa dengan Haidar, Bi. Dia sangat keras kepala sedari dulu. Kalau saja aku tahu dia berbohong aku pasti tidak akan menikahkan Haidar dengan Yumna.” ucap Mitha tanpa menoleh pada Bi Nah.


Bi Nah memang tempat curhat Mitha. Wanita paruh baya itu sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Mitha sangat percaya pada Bi Nah, wanita itu sangat bisa memegang rahasia. Tak jarang dia juga memberikan masukan dan nasihat.


“Mata hati Mas Haidar belum terbuka. Suatu saat dia pasti akan bisa melihat kebenarannya.” Bi Nah menenangkan Mitha.


“Sayang sekali. Meskipun aku pernah memberikan bukti foto-foto vio dengan yang lain kepada Haidar, tapi anak itu tidak pernah mau percaya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membuat dia pergi dari sisi Haidar?” tiba-tiba saja Mitha teringat dengan isi novel yang kemarin dia baca.


“Maksud Ibu memberi dia uang yang banyak, dan menyuruhnya ke luar negeri?” tanya Bi Nah, lain dengan Mitha, Bi Nah korban sinetron.


Mitha menyingkirkan tangannya dari wajahnya, menatap Bi Nah. Seakan tahu dengan arti tatapan majikan nya itu, Bi Nah segera menggelengkan kepalanya.


“Saya kira jangan, Mas Haidar akan semakin benci dengan Ibu.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


"Tapi sampai kapan? Aku takut Haidar semakin jauh jika dia tetap bersama Vio.”


Mitha dan Bi Nah sama-sama terdiam.


“Ah... Aku rindu dengan Yumna.” lirih Mitha.


"Bibi juga. Rasanya rumah sepi sejak tidak ada Mbak Yumna” Bi Nah merasa hampa sejak kepergian Yumna.


Pantas saja Yumna tidak kunjung mengandung. Mitha sangat kecewa saat mendengar penuturan Haidar kalau mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri.


...*...


“Haidar. Papi sangat kecewa dengan kamu. Papi tidak menyangka kalau kamu berani melakukan ini kepada kami. Kamu sudah berbohong” ucap papi setelah mendaratkan bokongnya di tepian ranjang milik Haidar.

__ADS_1


Haidar terdiam di depan jendela kamarnya.


“Mami dan Papi tahu dari dulu, aku suka dengan Vio. Lalu kenapa kalian tidak pernah mau menerima dia, apa hanya karena dia itu model?” tanya Haidar. Dia lebih nyaman berbicara dengan papinya. Bicara dengan mami hanya akan membuat dia emosi.


“Mami pasti tahu alasannya. Dan mungkin saja yang mami lihat itu benar. Bagaimana kalau dia berkhianat sama kamu?” tanya papi. Intuisi seorang wanita sangatlah tajam.


“Aku tidak peduli pak. Mungkin saja Vio sedang jenuh. Hubungan kami terlalu lama, dan dia butuh suasana baru.”


“Dengan jalan bersama orang lain?” tanya Arya. Haidar terdiam. Hatinya memang sakit ketika melihat bukti foto yang mami berikan dulu. Tapi dia menutup mata dan telinga nya. Rasa cintanya pada Vio sangatlah besar hingga dia tidak mau melihat kebenarannya.


“Aku yakin vio hanya jenuh.”


“Lalu bagaimana dengan Yumna. Apa kamu akan tetap bercerai dengan Yumna demi Vio?” tanya Arya.


“Ya.” ucap Haidar mantap. Dia tidak ingin lagi terpengaruh. Yumna hanya sementara, Vio adalah masa depannya.


“Hah...” Arya menghembuskan nafasnya. Anak ini memang keras kepala, sama seperti istrinya.


“Papi hanya ingin kamu memikirkannya sekali lagi. Kalau Papi lihat selama ini kamu cukup perhatian dengan Yumna. Papi pikir kamu mencintai dia.” ucap papi.


Haidar menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku yakin ini hanya perhatian seorang teman. Bukan karena aku cinta dengan dia.”


Papi berdiri. Dia menatap putranya yang masih berdiri di tempatnya.


“Papi hanya ingin kamu pikirkan baik-baik. Papi tidak ingin kamu menyesal pada akhirnya. Lebih baik kamu selidiki apa yang Vio lakukan di luar sana. Jika mungkin apa yang dikatakan mami salah, Papi akan bujuk mami untuk menerima dia.”


Haidar memalingkan pandangannya kepada Arya. Tak percaya.


“Papi setuju?” tanya Haidar.


“Kalau memang itu menjadi kebahagiaan kamu, Papi akan setuju. Tapi kalau apa yang dikatakan Mami benar, yang akan merasakan sakit kamu sendiri.” ucap papi.

__ADS_1


Haidar terdiam dengan ucapan papi, dia hanya menatap Arya yang keluar dari kamarnya.


'Tidak. Vio tidak mungkin seperti itu!'


__ADS_2