YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
178. Rasa Cemburu Juan


__ADS_3

Jarum jam bergerak, mengeluarkan suara detak yang teratur. Ruangan itu sepi membuat suara halus dari jam yang ada di sana terdengar dengan jelas, mengalahkan suara samar dari kendaraan-kendaraan yang ada di luar.


Seorang pria sedang berdiri di dekat jendela. Kedua tangannya bertumpu pada tepian jendela yang ia buka setengah. Matanya menatap ke arah bawah, di mana aktivitas-aktivitas terjadi di luaran sana. Dia memperhatikan mobil dan manusia terlihat sangat kecil seperti semut dari tempatnya berdiri di lantai dua puluh.


Lelah dengan apa yang dia lihat di bawah sana, dia mengalihkan pandangannya ke langit. Sedikit awan hitam menggantung di sana diantara warna biru dan putih.


Dia menghela nafasnya dengan berat, mengingat kejadian semalam.


*S*ebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan mereka?


Semalam setelah Juan kembali dari mengambil mobilnya, dia tidak menemukan Yumna di sana. Dia kira semalam wanita itu pulang dengan mantan suaminya.


Juan merasa hatinya sakit waktu itu. Dari sikap dan pandangan Yumna seakan dia itu belum bisa melupakan pria itu.


Pandangan Yumna kepadanya terlihat berbeda, seperti pandangan orang yang sedang menahan rindu.

__ADS_1


*A*pakah dia masih punya rasa? batin Juan.


Juan mengepalkan tangannya hingga jari jarinya memutih. Dia baru saja ingin mengejar Yumna, tapi bagaimana kalau wanita itu memang masih menyimpan rasa kepada mantan suaminya. Bukankah itu akan terasa sangat sulit?


Apa yang harus aku lakukan? Juan membatin lagi.


Dia pernah merasakan sakit hati, kali ini dia tidak ingin merasakannya lagi. Apalagi kali ini orang tuanya sudah memberikan restu, meskipun sebenarnya mereka masih menginginkan jika Juan menikah dengan wanita yang belum mempunyai status. Menurut mereka status Yumna akan membuat mereka menjadi malu, tapi juan tidak peduli. Dia hanya ingin merasakan kebahagiaan.


Pintu terbuka, seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa berkas di tangannya. Dia mendekat dan menyimpan berkas itu di atas meja.


Juan tetap tidak menoleh. Bahkan, dia seperti tidak peduli padanya.


"Sedang apa kamu?" tanya wanita itu kepada Juan.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Juan.

__ADS_1


"Aku lihat kamu seperti sedang bermalas-malasan. Kembalilah bekerja atau tidak papa akan mencabut izin nya untuk mendekati wanita itu," ucapan itu yang membuat Juan menoleh kepadanya.


Juan menghela nafasnya dengan kesal, "Apa Papa yang bilang sama kamu?" tanya Juan kepada wanita itu. orang yang ditanya hanya terkekeh.


Juan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap suasana yang ramai di kejauhan sana. Banyak gedung-gedung yang berdiri menantang langit, jalanan yang ramai dengan kendaraan, dan para pedagang yang berada di sejajaran trotoar.


"Kenapa pria tua itu ember sekali," ucap Juan.


Wanita itu tertawa, menutup mulutnya dengan menggunakan tangan.


"Dia ayahmu, bukan ember. Dia hanya perhatian," ucap wanita cantik itu. Dia membalikkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada tepian jendela. Kedua tangan dilipat di depan dada. Matanya menatap kearah lukisan yang ada di dalam ruangan itu.


"Kenapa kamu masih saja kesal dengan papa, padahal dia sangat sayang sama kamu," ucap wanita itu dengan sendu.


Juan mengubah posisinya. Dia membungkuk membiarkan lengannya bertumpu pada tepi jendela.

__ADS_1


"Aku tahu dia sayang, tapi terkadang caranya salah."


__ADS_2