
Suara telepon berdering dengan nyaring hingga membuat seorang gadis menggeliat di dalam selimut. Udara dari pendingin ruangan membuat dia malas untuk bangun, apalagi ini adalah hari minggu. Seharusnya dia akan bermalasan sampai menjelang siang. Bahkan, orangtuanya pun tidak berani mengganggu dirinya jika hari minggu.
Yumna membuka sedikit selimutnya, dia menggapaikan tangan ke atas nakas, mencari ponsel miliknya. Suara dering telepon itu masih juga terdengar.
"Hem? Apa?" tanya Yumna dengan malas, khas dengan suara baru bangun, dia tidak melihat siapa yang menelepon dia saat ini. Biasanya Tia yang selalu mengganggunya sering menelepon akhir-akhir ini.
"Apa kamu masih belum bangun?" tanya seseorang di kejauhan sana, membuat Yumna melonjak bangun. Selimut yang ada di tubuhnya terjatuh ke pangkuan. Yumna melihat siapa yang menelepon, tertera nama Haidar disana.
"Eh, Haidar. Aku baru bangun, kok. Baru bangun." Yumna tersenyum dengan malu sambil menutupi wajahnya dengan selimut, padahal Haidar tidak ada di sana.
"Jam segini? ya ampun, kenapa malas sekali? Dulu saja kamu rajin bangun pagi saat di rumah ini," ucap Haidar lagi. Yumna tersenyum malu, tapi kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Semalam aku lembur, mengerjakan berkas penting. Baru tidur jam dua malam, jadi wajar kalau aku bangun siang," ucap Yumna.
"Lembur? Kenapa tidak telepon aku? Kan aku bisa temani kamu sampai selesai," ucap Haidar lagi.
"Gak ah, yang ada malah haha hihi, bukannya kerja," jawab Yumna. Haidar tertawa kecil mendengar Yumna bicara seperti itu. Lucu menurutnya.
"Apa haha hihi? Gak kok, palingan aku akan gombalin kamu aja," ucap Haidar.
"Tuh, kan. Dasar tukang gombal!" seru Yumna kesal, tapi juga sama tertawa mendengar Haidar pagi ini, moodboster sekali pagi-pagi mendengar suara Haidar sepagi ini.
"Tadinya aku mau ajak kamu lari pagi, tapi kalau kamu masih ngantuk, tidur saja lgi, deh."
Yumna terkesiap mendengar ajakan Haidar.
"Lari pagi? Sekarang?" Pertanyaan bodoh bukan?
"Iya lah, kan ini masih pagi, kalau siang apa disebut lari pagi?" tanya Haidar. Yumna menepuk dahinya. Benar-benar pertanyaan tadi adalah hal yang tidak perlu kan?
"Mau tidak? Kalau mau akau akan jemput ke rumah kamu sekarang juga," ucap Haidar.
"Eh, iya, tapi aku mandi dulu."
"Jangan lama-lama, aku pergi sekarang, ya?"
__ADS_1
"Oke," jawab Yumna lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Saking semangatnya, dia sampai tidak sadar jika kakinya terlilit selimut, hingga membuat dia jatuh ke bawah kasur.
"Aww!" Yumna memegangi lututnya yang sakit. Lumayan juga jatuh dengan lutut terlebih dahulu. Untung saja lantai di bawah kasurnya terdapat karpet yang cukup lembut, kalau tidak mungkin akan memerah lututnya.
Yumna sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan baju olahraga miliknya, tak lupa dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya.
"Kakak mau kemana?" tanya Syifa saat Yumna masuk ke area dapur. Yumna mengambil air minum dan mengambil apel dari dalam kulkas, mencuci dan memakannya. Sedangkan Syifa sedang makan kue sisa semalam.
"Mau lari pagi," jawab Yumna.
"Eh? Tumben!" Syifa bingung dengan kakaknya, Yumna sama seperti dirinya, tidak suka olah raga, tapi kali ini tumben sekali mau lari pagi.
"Ah, sama yang kemarin chat itu ya? bang Ha ... humpptt." ucapan Syifa terhenti saat Yumna membekap mulutnya dengan cukup keras hingga membuat Syifa terkejut.
"Apa sih? Jangan sebut-sebut juga!" bisik Yumna dengan geram. Syifa memukul lengan kakaknya agar melepaskan bekapan di wajahnya.
"Kalian ini kenapa sih?" Lily baru saja masuk ke dalam area dapur, melihat apa yang Yumna lakukan pada adiknya. Yumna melepaskan tangannya dari wajah Syifa.
"Gak ngapa-ngapain, Ma. Ini Syifa aja, tadi Yumna lihat ada lalat terbang, mau masuk ke dalam mulut Syifa," ujar Yumna, membuat Syifa melotot. Asisten yang ada di sana tertawa geli mendengar penuturan Yumna.
"Yumna!" tegur Lily, melihat Syifa yang sedari tadi ingin mendapatkan kebebasannya, membuat Lily menegur anak sulungnya.
"Yumna pergi dulu, deh."
"Syifa, awas kamu kalau bicara yang tidak-tidak sama Mama," ancam Yumna dengan menunjuk adiknya tepat di depan hidungnya.
Syifa tidak banyak bicara, dia hanya mengedipkan kelopak matanya dengan gerakan cepat seraya tersenyum jahat. Yumna mengerti sekali dari gerakan dan senyuman itu.
"Nanti saja kamu bilang sama Kakak. Apapun akan Kakak belikan asal kamu diam," ujar Yumna pasrah.
"Yess!!" Syifa mengepalkan tangannya dengan semangat, berteriak hingga membuat Lily menolehkan kepalanya.
Yumna berdecak kesal, tak apa lah, hilang beberapa lembar uang untuk membekap mulut sang adik agar tidak bocor kemana-mana.
"Ma, Yumna pergi, ya." oamit Yumna.
__ADS_1
"Iya, hati-hati. Jangan terlalu siang pulangnya, Nenek nanti sampai loh di bandara sekitar jam satu," ucap Lily mengingatkan sang putri.
"Oh, iya. Hari ini datang ya?" tanya Yumna, dia lupa jika Nenek Ratih dan Kakek Hadi akan datang berkunjung.
"Iya, jangan bilang kalau kamu lupa, Yumna!"
Yumna tersenyum meringis. "Lupa, tapi sekarang ingat kok," ucapnya malu.
"Dah sana, Kak. Nanti terlambat, loh," ucap Syifa. Mulutnya penuh dengan kue yang bau saja dia makan.
Yumna pergi keluar dari rumah, dia sengaja berlari sedikit menjauh dari rumah itu, tidak ingin jika dirinya ketahuan pergi dengan Haidar. Semoga saja Syifa tidak membocorkan rahasia dirinya dan Haidar.
"Tadi, Kak Yumna kenapa? Kok, bekap-bekap mulut segala?" tanya Lily yang ingin tahu.
Syifa memalingkan wajahnya, mulutnya terus mengunyah kue dengan sedikit cepat.
"Syifa! Kalau gak bilang, tiket konser Babang Korea gak jadi Mama belikan, deh. Padahal Mama dah pesen sama salah satu teman Mama loh," ucap Lily.
"Halo, Jeng. Tiket konser–,"
"Eh, Ma. Jangan di batalin dong, Ma. Jangan!" seru Syifa, menjauhkan tangan Lily yang sedang menelepon dari telinganya.
"Jadi?"
"Iya. Syifa akan bilang, tapi jan batalin dong. Please," mohon Syifa.
"Nah bilang deh," ucap Lily.
Aduh, Kak Yumna. Maafin Syifa. Ini untuk kebaikan kita berdua. Mama juga gak mungkin kalau Kak Yumna gak tau sedang dekat dengan Bang Haidar, dan aku juga sebagai adik yang baik, akan membantu Kak Yumna bicara sama Mama. Jadi ini gak buruk, kan? Bukan karena tiket konser Babang Korea juga, tapi pure, murni karena Syifa ingin membantu Kak Yumna mendapatkan restu dari Mama.
"Malah bengong!" tegur Lily.
"Eh. Iya, Ma. Itu ... Kak Yumna kayaknya sekarang lari dengan Bang Haidar deh, ma," ucap Syifa dengan dada yang berdebar.
"Hah? Haidar?"
__ADS_1