
Tring.
Bunyi notif di hp Yumna terdengar. Yumna segera membuka hpnya dan membaca pesan. Seketika tersungging senyum di bibirnya.
^^^Haidar 💌^^^
^^^Aku jemput, kita pulang bareng!^^^
Yumna segera mengetik balasan.
^^^Yumna 💌^^^
^^^OK.^^^
Pesan dari Haidar tak terasa membuat Yumna merasa lebih bersemangat.
"Masih satu jam lagi!" Yumna berujar sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Dia segera berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Jam kerja telah usai. Yumna bergegas membereskan barang-barangnya. Senyum masih setia di bibirnya.
"Cieee yang bahagia! Di jemput paksu ya? Jangan-jangan udah gak sabar mau mempersiapkan, ehemm-ehemm nih!" Sisil berujar menggoda Yumna, mendekat dan mencubit pipi Yumna hingga merah. Vera dan Rania ikut berdehem mengganggu Yumna membuat gadis itu memerah mukanya.
"Apaan sih. Kepo!" Yumna menepis tangan Sisil pelan.
"Aku kirim video kam*sutra ya. Siapa tahu berguna banget?!!" Vera mengedipkan satu matanya.
"PASTINYA!!!" Sisil dan Rania berseru membuat muka Yumna semakin merah.
"Ih kalian apa-apaan sih. Udah ah. Mau langsung pulang. Ladenin kalian mah gak ada uang lemburnya!" ucap Yumna seraya berlalu. Vera, Sisil, dan Rania tertawa geli melihat Yumna yang berjalan meninggalkan mereka dengan cepat.
Yumna berdiri di lobi menunggu Haidar yang datang menjemputnya. Lima menit menunggu Haidar belum juga datang.
"Yumna!" panggil seseorang.
"Eh. Hai Dion!" sapa Yumna.
"Lagi nunggu jemputan?" tanya Dion. Yumna mengangguk.
"Kamu lagi apa? Nunggu jemputan juga?" tanya Yumna.
"Iya, aku lagi nunggu ojol. Mobil aku sedang di bengkel, mogok." ucap Dion. Sambil menunggu mereka pun berbicara ringan. Dion sangat terpukau melihat Yumna yang selalu riang. Meski penampilan Yumna terkesan norak, tapi Dion lebih suka di banding dengan para gadis yang selalu berpenampilan menonjol dengan baju ketat kurang bahan.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi. Kaca pintu mobil di turunkan dan terlihatlah seorang pria tampan duduk di balik kemudi, melambaikan tangannya pada Yumna dengan senyuman yang lebar. Yumna balas melambaikan tangannya tersenyum senang saat melihat Haidar.
"Dion, jemputan aku sudah datang. Duluan ya!" pamit Yumna. Dia mengangguk pada Dion. Dion balas mengangguk pada Yumna.
__ADS_1
'Siapa laki-laki itu? Wah kayaknya ada niat terselubung ini!' batin Haidar, tak nyaman melihat kedekatan Yumna dengan pria lain.
Yumna berjalan dan membuka pintu mobil. Duduk di kursi penumpang. Haidar maju dan memasangkan seatbelt untuk Yumna. Dua detik Yumna mematung karena perlakuan Haidar. Haidar tersenyum saat melirik pria tadi yang bermuka masam melihat kedekatan Yumna dan dirinya.
'Bener kan. Kayaknya dia punya perasaan sama Yumna!' Haidar tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah safety. Ready?" tanya Haidar setelah kembali ke tempat duduknya. Yumna mengangguk sembari merasakan detak jantungnya yang tidak normal.
Mobil pun melaju meninggalkan area perusahaan.
"Siapa pria itu? Apa pacar Yumna? Apa jangan-jangan cincin itu karena mereka sudah tunangan?" gumam Dion pelan, meraba dadanya yang terasa sakit dan sesak, namun bukan karena sakit jantung maupun asma.
Dion berjalan ke arah basemen, menuju ke mobilnya. Karena ingin mengobrol dengan Yumna sampai dia berbohong jika mobilnya sedang di bengkel.
Hampir satu jam mereka berkendara. Jalanan padat karena jam pulang kantor. Apalagi gerimis mulai turun membasahi jalanan.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Haidar fokus menyetir, sedangkan Yumna sedang melihat medsos di hpnya. Yumna tersenyum sendiri saat melihat video lucu artis favoritnya disana.
"Seneng banget, mentang-mentang dah ketemu sama cowok gebetan ya?" tanya Haidar.
"Siapa?" tanya Yumna tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu, yang tadi!" Haidar melirik sedikit ke arah Yumna yang menggerakkan jarinya di atas layar hp.
"Oh, yang tadi!" Yumna kembali sibuk mengetik dalam komentar.
"Eh, ngapain lo!" Yumna berusaha merebut hpnya kembali.
Haidar menatap layar hp Yumna.
'Hahh gue kira lagi chat-tan sama cowok tadi!' Haidar tersenyum tipis, tak terlihat.
"Ngapain sih, pake rebut hp gue segala?!" Tanya Yumna.
"Lihat jam!" ujar Haidar lalu mengembalikan hp itu pada Yumna.
"Tapi gak perlu rebut hp gue juga kali! Kan bisa tanya. Lagian elo juga kan pakai jam tangan!" cibir Yumna.
"Gue lupa kalau pake jam tangan!" Yumna mendecih sebal, lalu kembali mengetik di layar hpnya.
Haidar kembali melajukan mobilnya, kembali pulang ke rumah.
Sampai di rumah. Yumna dan Haidar bersama-sama masuk ke dalam.
"Mbak. Mama mana?" tanya Haidar pada asisten yang sedang membereskan rumah.
__ADS_1
"Belum pulang, mas!" ucap asisten itu.
Mereka berdua kemudian pergi ke kamar. Haidar melemparkan tas kerjanya di atas sofa, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. Merasa pegal di beberapa bagian tubuhnya. Melepas kedua sepatunya dengan menggunakan kaki. Melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing kemejanya. Haidar memejamkan matanya.
"Haidar, gue mandi duluan ya!" Ucap Yumna.
"Hemm!" jawab Haidar malas.
Yumna segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Satu persatu di bukanya baju kerjanya dan di lemparkan ke dalam keranjang cucian.
Tiga puluh menit kemudian Yumna selesai dengan mandinya, dia memakai bathrobe dan handuk kecil di kepalanya. Melihat Haidar yang terlelap Yumna memberanikan diri membangunkan pria itu.
"Haidar!" mengguncang bahu Haidar. "Mandi sana. Gue udah selesai!" ucap Yumna.
Haidar hanya menepis tangan Yumna. "Emang elo bisa gitu tidur gak pake mandi duluan! Hei mandi. Badan elo bau!" Yumna setengah berseru, mulai menarik tangan Haidar.
"Apa sih! Mana ada badan gue bau! Coba cium nih kalau gak percaya!"
"Ih ogah! Gatel hidung gue cium-cium bau badan elo!" decih Yumna.
"Yee..., elo gak percaya kalau badan gue gak bau?" tanya Haidar lantas dia menyentak tangan Yumna hingga gadis itu hilang keseimbangan dan terjatuh tepat di atas tubuh Haidar. Handuk di kepala Yumna terlepas, hingga rambut basah itu tergerai menutupi wajah Haidar.
Wangi khas sampo dari rambut basah Yumna terasa lain di hidung Haidar. Sangat-sangat wangi. Haidar menyingkirkan rambut Yumna dari wajahnya, dia menatap wajah Yumna lamat.
Yumna terpaku, rasanya badannya mendadak kaku, tidak bisa di gerakkan karena menatap mata Haidar yang penuh kehangatan.
Haidar menurunkan pandangannya pasa bibir Yumna, bibir tipis merah tanpa lipstik itu cukup menggoda.
Haidar menelan salivanya dengan susah payah, tak sengaja melihat sesuatu yang membuat celananya sesak. Dada Yumna terlihat sangat jelas menggantung disana.
'Oh sial!'
"Elo mau sampai kapan di atas gue?" tanya Haidar. Yumna tersadar lalu segera bangkit dari atas tubuh suami kontraknya.
"Gara-gara elo!" Yumna merapikan bathrobe nya kemudian merapikan rambutnya. "Ngapain lo narik-narik gue?!" sewot Yumna.
Haidar duduk di tepi ranjang. "Kan elo gak percaya kalau gue gak bau! Jadi gue izinin elo buat cium aroma badan gue!" Haidar bangkit berdiri.
"Cih, aroma elo gak enak!" kembali mendecih sebal, menutupi detak jantungnya yang tidak karuan. Haidar tertawa sambil membuka jas kerjanya dan menyimpannya di atas kepala Yumna.
"Haidaaaarrr!!" teriak Yumna kesal. Haidar segera berlari ke arah kamar mandi sembari tertawa keras.
Yumna melemparkan jas Haidar ke lantai, dia bergumam kesal. Lalu sedetik kemudian dia mengambil kembali jas itu dan menggantungkannya di tempatnya.
Yumna menarik nafasnya, mencoba untuk tetap bersikap tenang. Dia lalu berjalan ke arah lemari dan membukanya.
__ADS_1
"Oh My God!"