
"Iya. Ayo kita makan!" teriak Yumna. Haidar melepas celemeknya, menggantungkan kembali di tempatnya semula, dan duduk di kursinya di samping Yumna, sedangkan kedua adik iparnya duduk di seberang mereka dan bersiap untuk mengambil makanan.
"Waaah, ini Bang Haidar semua yang masak?" tanya Azkhan sambil menggosokkan kedua tangannya di depan dada. Melihat ayam dengan bumbu rica-rica yang kental di depannya membuat air liur hampir saja menetes.
"Iya. Makan cepat," ucap Haidar sambil memberikan piring kosong untuk Azkhan. "Dan cepat pergi dari sini!" batinnya berbicara.
"Kayaknya enak banget nih." Tanpa menunggu yang lainnya, Azkhan segera menyendok nasi yang mengepulkan asap tipis, lalu mengambil lauk yang sangat menggiurkan di depannya.
"Arkhan, ayo makan." Tak lupa Haidar juga berbicara kepada adik iparnya yang sangat pendiam ini, berbeda dengan Azkhan yang lebih mudah untuk da dekati.
"Makasih," ucap anak itu sambil menerima piring kosong dari Haidar. Arkhan masih memperhatikan adiknya yang menyendok ayam di depannya.
"Istriku, mau makan sama apa? Aku ambilkan," tanya Haidar kali ini pada sang istri. Malu rasanya saat Haidar memanggilnya seperti itu di depan kedua adiknya.
"Aku bisa ambil sendiri," tolak Yumna. Akan tetapi, Haidar menepis halus tangan Yumna dan bertanya kembali.
"Biar aku yang ambilkan. Kamu mau coba ayam rica yang aku masak?" tanya Haidar lagi, kedua adiknya itu saling melirik dan menjadikan Haidar objek tatapan selanjutnya. Tak bisa dipungkiri perhatian kakak iparnya itu tidak bisa diragukan, sejauh ini masih terlihat baik. Akan tetapi, keduanya tidak akan lengah begitu saja.
"Lihat aja, kalau sampai nanti sakitin Kak Yumna lagi. Akan aku gantung dia di pohon depan rumah!" batin Arkhan sambil melirik suami kakaknya.
Azkhan melihat dengan malu dan juga kagum atas perlakuan dan perhatian kakak iparnya ini. Rasanya dia juga harus belajar untuk bisa romantis agar kelak Ana semakin jatuh cinta padanya. Lihat saja kakak sulungnya ini, wajahnya semakin merah saat sang suami memberikan perhatian kepadanya. Orang yang dia tahu tak mudah jatuh cinta kini tampak bahagia dengan lelaki yang dipilihnya.
__ADS_1
Haidar menyodorkan piring yang telah terisi ke hadapan Yumna. "Makasih," ucap Yumna dengan malu, sedikit melirik ke arah dua adik kembarnya dan mendapati jika mereka juga menatapnya.
"Kalian makan juga. Ayo, makan yang banyak. Bang Haidar pasti suka kalau kalian makan banyak. Iya kan, Ha ... Suamiku?" ucap Yumna yang meralat panggilannya kepada sang suami. Haidar yang mendengar panggilan itu tersenyum senang. Dia tahu sekali jika Yumna sedikit sulit memanggilnya dengan sebutan itu. Setidaknya dia berusaha menghormati dirinya di depan kedua adiknya.
"Iya, kalian makan lah yang banyak. Semoga saja rasanya enak, karena Abang juga baru belajar masak," ucap Haidar dengan malu.
Azkhan tentu saja senang, mencicip ayam yang ada di ujung sendoknya. "Enak, Bang." Azkhan berseru, lalu menyendok nasi dengan banyak sehingga sendoknya penuh. Arkhan yang melihat adiknya makan dengan lahap akhirnya mengambil sedikit nasi dan juga lauk yang ada tak jauh dari jangkauannya.
"Gimana rasanya, Sayang?" tanya Haidar pada sang istri.
"Enak. Makasih kamu sudah masakkan buat kita," ucap Yumna di tengah kunyahannya. Haidar tersenyum dengan senang. Melihat istri dan adiknya makan dengan lahap membuat Haidar bahagia sekali.
"Aku boleh nambah gak, Bang?" tanya Azkhan membuat Yumna dan Arkhan sontak mengangkat kepala dari piringnya. Makanan yang ada di piring Azkhan sudah tandas, hanya menyisakan bumbu merah di permukaan piring yang berwarna putih.
"Hehe, lapar Kak. Masih pengen makan, nih. Enak juga, sih. Boleh nambah, nggak?" tanya Azkhan lagi dengan malu. Arkhan yang baru makan sebanyak tiga suapan juga sedikit shock melihat adiknya itu, entah seperti apa dia makan sampai belum lima menit sudah minta tambah lagi.
"Tambah aja. Sebanyak yang kamu mau. Bebas kok," ucap Haidar dengan senang hati. Rasanya dia bahagia saat ada seseorang yang puas akan makanan yang telah dia buat.
Tanpa menunggu lagi, Azkhan mengambil nasi dan juga lauknya, tidak ketinggalan dengan capcay yang Haidar buat. Rasanya lumayan enak untuk orang yang baru saja katanya belajar memasak. Entahlah, enak karena memang rasanya atau memang karena dia kelaparan?🤔
"Arkhan juga kalau mau nambah boleh, kok," ucap Haidar yang melirik adiknya yang satu lagi. Makanan yang ada di depannya tinggal sedikit, memang karena Arkhan tidak mengambil banyak tadi.
__ADS_1
"Nanti saja," jawabnya singkat.
"Iya, enak loh. Rugi kalau gak nambah." Azkhan berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kalau bicara tuh telan dulu makanannya, nanti kamu tersedak," tegur sang kakak sulung. Senyum malu tampak di bibir Azkhan.
"Habis aku lapar, dan ini lumayan enak," ucap pemuda itu.
Haidar kini mulai menikmati makanan di piringnya setelah memastikan jika tidak ada lagi yang Yumna butuhkan. "Syifa kenapa nggak diajak ke sini?" tanya Haidar pada keduanya.
"Syifa nggak tau kalau kita keluar, tadi lagi sama mama lagi nonton sinetron," jawab Azkhan lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Awas loh nanti kalau Syifa tau bakalan marah dia," ujar Yumna. Tentu saja Yumna sangat tahu dengan sifat semua adiknya itu, apalagi Syifa anak yang sangat manja sekali.
"Biarin, ah. Bawa dia terus bosan. Kayak lagi ngasuh adik kecil," ujar Azkhan lagi. Yumna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Azkhan yang juga seperti kalimat keluhan.
"Jangan begitu. Gitu-gitu juga dia kakak kalian. Bersyukurlah kalian punya saudara yang manja, suatu saat kalau dia udah gak ada di rumah pasti bakalan sepi, kalian juga bakalan kangen sama Syifa," ujar Haidar.
"Iya, sih. Tapi kalau dah datang manjanya itu loh, Bang, apalagi kalau dia udah ngerengek minta ini itu, persis kayak anak TK yang minta mainan. Kadang tuh ada temen yang nanyain, gak percaya kalau dia tuh kakak kita karena manja dan ... gitu deh," ucap Azkhan lagi.
Haidar mengerti akan maksud Azkhan, melihat dari sikap Syifa saat dia berkunjung ke rumah Keluarga Mahendra memang Syifa berbeda dengan yang lainnya. Dia yang paling manja di antara semuanya.
__ADS_1
"Pesan Abang, bagaimana pun Syifa. Tolong kalian jaga dia dengan baik. Syifa itu unik. Abang yakin kalau dia banyak yang suka dan juga bisa aja sebaliknya. Kalian harus jaga dia dari orang-orang yang enggak baik," ucap Haidar lagi. Azkhan mengangguk, sementara Arkhan melirik Haidar. Sempat tidak percaya dengan ucapan kakak iparnya ini yang dulu telah melukai hati kakaknya.
"Cih, pinter banget tuh ngomongnya!" decak batin sang adik ipar.