
Yumna merasa kesal mengingat kejadian tadi saat bangun tidur. Dia memakan sarapannya dengan kasar hingga terdengar bunyi dentingan sendok dan piring yang beradu. Menatap Haidar dengan kesal. Lalu menyuapkan makanan dengan jumlah banyak ke dalam mulutnya.
"Napa sih neng lihatin abang mulu? Suaminya ganteng banget ya sampe segitunya di lihatin terus!" goda Haidar, dia meminum jus jeruk yang sudah tersedia. Rasanya sangat lucu sekali melihat wajah Yumna yang kesal. Rasa jus jeruk yang asam jadi terasa manis di lidahnya.
"Ih siapa juga yang terpesona? Jijik gue! Eh Haidar, gue gak rela ya tubuh gue di pegang-pegang sama elo! Gue udah gak perawan lagi! Ingat kesepakatan kita!" tunjuk Yumna dengan menggunakan garpu di tangannya.
Haidar tertawa. "Jadi definisi keperawanan elo karena ada yang pegang-pegang badan elo gitu? Terus kalau elo bercinta itu di sebut apaan? Pemerkosaan? Pembunuhan?" tanya Haidar.
Yumna mendecih tidak suka.
"Ya enggak gitu juga!" ucap Yumna. "Tapi gue gak suka elo pegang-pegang!" Yumna bicara sambil melotot.
"Iya-iya maaf. Tapi gue kan juga gak sengaja. Perasaan gue lagi mimpi main lempar balon air sama bang Ben, gak tahunya yang gue pegang dad..."
"Haidar rese!" teriak Yumna dia melemparkan serbet bersih tepat mengenai wajah Haidar. "Gak usah di sebut juga kali!" teriak Yumna. Haidar mengambil serbet dari wajahnya dan melihat Yumna sudah beranjak dari sana.
"Eh, mau kemana? Makanan elo belum habis loh ini!" tunjuk Haidar pada piring Yumna yang masih sisa setengahnya.
"Mau keluar! Gue gak mau lihat muka elo sementara ini!" geram Yumna lalu berjalan ke arah pintu. Haidar hanya tertawa melihat Yumna yang menghentakan kakinya dengan kasar ke lantai.
Yumna berjalan ke arah lift, dia masih kesal.
'Uughhh... Haidar dasar cabul! Bisa-bisanya dia anggap dada gue ini balon air?! Aset gue ini lebih berharga dari balon air! Meskipun to**t gue gak segede si Vio, tapi ini asli gak palsu kayak pacarnya! Aspal!' rutuk Yumna dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author : Ish Yumna... Dari mana dia tahu kata to**t pula? 😅
Yumna: Author bisa diem gak? serasa ingin nonjok muka elu tahu gak? 🤜🏻🙎🏼
Author: 🏃🏼kabuuurrr!!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yumna?!" suara seseorang menghentikan langkah kaki Yumna. Yumna berbalik dan mendapati mama dan papanya tengah berjalan di belakangnya.
"Mama, papa!" seru Yumna. Yumna segera mengubah ekspresi di wajahnya sebiasa mungkin.
__ADS_1
"Kamu ngapin di luar? Haidar mana?" tanya Lily. Yumna merasa salah tingkah, tidak menyangka jika mama dan papanya ada disini.
"Mama sama papa ngapain disini?" Yumna balik bertanya.
"Kita semalam nginap disini. Memangnya kamu gak tahu?" tanya Lily. Yumna menggeleng.
"Memangnya cuma pengantin baru aja yang bisa malam pertamanya di hotel?" sambar Bima yang kemudian mendapat cubitan maut di pinggangnya.
"Aww, sakit Yang!" ringis Bima mengelus pinggangnya yang ngilu.
"Itu mulut di kondisikan. Gak malu apa ngomong gitu di depan anak?" Lily mengeratkan giginya, melotot tajam pada sang suami.
"Iya maaf. Lagian kan Yumna juga sudah nikah! Gak perlu juga sembunyi-sembunyi mengumbar kemesraan, kan?" Bima membela diri. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Lily dan menarik Lily ke dalam pelukannya. Dengan beraninya menjilat cuping telinga Lily di depan Yumna. Lily berontak dari pelukan suaminya. Bima enggan melepaskan Lily. Yumna bergidik geli melihat kelakuan absurd kedua orang tuanya .
"Ih mama dan papa kalau mau mesra-mesraan balik ke kamar sana! Malu kalau di lihat orang pa!" ucap Yumna. Nyatanya dia sendiri yang merasa malu melihat kelakuan papanya sendiri.
"Oke, pasti balik ke kamar kok, tapi nanti setelah mama kamu sarapan dulu. Dia kelaparan setelah semalam papa makan!" ucap Bima ambigu. Yumna terdiam mematung, melongo seperti orang bodoh, sedangkan Lily menjewer telinga sang suami dengan kesal dan menyeretnya pergi.
"Jangan dengerin kata-kata papa kamu!" Lily tertawa kikuk, wajahmu sudah memerah, malu. "Kalau kamu mau sarapan susul mama ke bawah, ajak sekalian menantu mama!" ucap Lily. Bima memegangi tangan Lily dan memohon supaya telinganya di bebaskan. Yumna menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orangtuanya.
"Eh Haidar, menantu mama." Lily tersenyum senang melihat Haidar yang baru saja muncul.
"Selamat pagi sayang. Gak sabaran banget sampe ninggalin aku!" ucap Haidar yang membuat Yumna membatu, apalagi saat Haidar mengecup kepalanya. Yumna terdiam, merasakan detak jantungnya yang berlompatan seperti kelinci. Haidar mengedipkan satu matanya saat Yumna masih terdiam beberapa saat lamanya.
"Ah iya, sayang. Habisnya kamu... lama banget di kamar mandi, jadi aku keluar lebih dulu. Iya... maaf" ucap Yumna dengan senyuman kaku di wajahnya.
"Terus kalian ini mau kemana pagi-pagi gini udah keluar kamar?" tanya Lily melirik keduanya tajam.
"Kita... mau... emm..." Yumna tidak bisa berfikir dan menjawab, dia merasa bingung.
"Kita mau ke taman belakang kok ma. Jalan-jalan santai, mama mau ikut? Kita double date!" ucap Haidar memotong ucapan Yumna yang terbata-bata.
"Ooh... tidak usah." Ucap Lily dengan senyum senang nan bahagianya. "Ya sudah. Sana. Kalian pergi saja berdua. Kami gak akan ganggu. Mama juga mau ketemu mami dan papi kamu di bawah sarapan bersama." ucap Lily sambil mengibaskan tangannya.
"Loh mami dan papi ada disini juga?" tanya Haidar sedikit kaget.
"Iya, kami sudah siapkan kamar khusus untuk mami papi kamu menginap tadi malam di lantai atas. Memangnya cuma kalian pengantin aja yang mau bersenang-senang. Kami para orangtua juga mau mengenang masa malam pertama kami lah!" jawab Lily enteng. Yumna dan Bima melongo mendengar Ibu Ratu mereka berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Tadi siapa yang bilang kalau tidak boleh bicara sembarangan?" Bisik Yumna pada sang papa.
"Ya itulah mama kamu!" jawab Bima. Dia tersenyum saat sang istri menatap ke arahnya.
"Ya sudah ma. Kami... Kalau mama mau sarapan sama mami, kalian pergi saja. Kami juga mau pergi ke... taman..." Tunjuk Yumna ke sembarang arah, Haidar menggeser arah tangan Yumna ke arah yang benar.
"Ah.. ya taman di sebelah sana!" senyum Yumna kikuk.
"Ya sudah sana! Pergi saja duluan!" Lily kembali mengibaskan tangannya.
"Mama dan papa mau bareng sama kami turun bersama?" tawar Haidar. Bima melangkah maju, tapi di tahan sang istri.
"Tidak, nanti saja kami akan tunggu mami kamu. Kami belum telfon untuk mengajaknya sarapan. Kalian duluan saja sana. Sana. Pergilah!" usir Lily.
"Baik ma, kalau begitu kita turun duluan. Pa, kami duluan!" pamit Haidar lalu menarik Yumna masuk ke dalam lift.
"Sayang kenapa biarkan mereka turun?!" protes Bima.
"Mas bisa gak sih biarkan mereka menikmati waktu berdua? Jangan suka gangguin gitu! Kayak gak inget aja gimana mas marah kalau ada yang gangguin kita lagi berdua dulu!" ucap Lily smbil melotot tajam. Serasa tak berdaya Bima hanya menuruti ucapan sang permaisuri.
"Mas." panggil Lily.
"Hem?"
"Mas, lihat ada yang aneh gak sama Yumna?" Bima menoleh pada sang istri, terdiam sebentar. "Ish, Mas nih. Maksud Lily, mereka apa belum berhasil ya? Yumna kok cara jalannya biasa aja gitu!" ucap Lily sambil menjepit dagunya.
Bima baru mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Ya kali Yang, kalau mereka langsung tancap gas. Mereka pasti cape tuh sesudah acara semalam! Mungkin belum membuka jalan!" jawab Bima. Lily mengangguk.
"Iya juga sih!" gumam Lily membenarkan.
"Sekarang ayo. Kita turun sarapan, setelah itu kita yang tancap gas!" bisik Bima sensual.
"Dasar mesum!"
"Awww.... sakittt!!" Bima mencebik mengusap perut kotaknya yang baru saja di cubit sang istri.
__ADS_1