YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
263. Ghibahin Menantu


__ADS_3

Makan siang telah selesai, semua anggota keluarga telah pulang ke rumah masing-masing, hanya dua keluarga inti yang masih ada di sana untuk melanjutkan perbincangan.


"Jadi, kalian benar tidak mau tinggal lagi di rumah?" tanya Mitha sedih saat mendengar Yumna ingin menempati rumah milik Bima terdahulu.


Yumna mengangguk kecil. "Iya, Mi. Kami hanya ingin hidup mandiri. Kami akan sering berkunjung ke rumah Mami dan juga Mama," ucap Yumna menatap ibu dan mama mertuanya.


Mitha menghela napas dengan sedih. Dia sudah senang sebelumnya karena mengira Yumna akan kembali tinggal dengannya.


"Ya sudah lah. Mami juga gak bisa melarang kalian, kalian berhak untuk menikmati hidup berdua," ucapnya sedih. "Mami hanya minta sama kamu, Haidar. Jaga Yumna dan kalian harus akur, saling menyayangi dan juga bantu apa yang Yumna kerjakan. Jangan egois, buang jauh-jauh sifat kekanakan kamu," tambah Mitha lagi.


"Iya, Mi. Tentu aja aku akan jadi suami yang baik bagi Yumna. Dia istriku sekarang, tanggung jawabku mulai dari hari ini," ujar Haidar.


Lily yang mendengar itu menjadi sedih, sekali lagi melihat putrinya kini akan dibawa pergi oleh suaminya. Semoga saja Haidar bisa memegang janjinya kali ini.


"Aku permisi ke toilet dulu." Lily bangkit dan berdiri, dia membawa tas kecilnya dan pergi ke luar ruangan tersebut, mencari toilet. Bima yang melihat sang istri pergi kini hanya diam.


"Jadi, kapan kalian akan pindahan? Seminggu saja dulu di tempat kami, ya?" pinta Mitha dengan memohon.


"Ish, Mami nih. Jangan halangi kita buat berduaan napa?" ujar Haidar kesal.

__ADS_1


"Mami tuh kangen sama Yumna. Apa salah kalau Mami pengen deket lagi sama dia? Dasar pelit!" ujar Mitha kesal.


Bima masih melihat ke arah pintu, baru tiga menit istrinya pergi, tapi hatinya terasa tidak tenang.


"Mas Arya, Mbak Mitha, saya permisi mau ke tolilet juga," ucap Bima berdiri.


"Oh, iya." Arya mempersilakan. Bima kemudian pergi dari sana dan menyusul sang istri. Rasanya ada yang aneh saat melihat wajah Lily tadi. Jelas terlihat sangat sedih. Bima pergi ke toilet, semoga saja memang Lily ada di sana.


Di depan pintu toilet Bima berdiri, hampir sepuluh menit lamanya, tapi yang ditunggu belum muncul juga. Akhirnya Bima mengeluarkan hpnya dan memutuskan untuk menghubungi Lily.


"Kamu ada di mana?" tanya Bima pada sang istri.


"Aku di toilet," ucap Lily.


Lily menggigit bibir bawahnya. "Aku ada di taman," ucap Lily akhirnya.


"Aku akan menyusul," ujar Bima. Bima menutup teleponnya dan memutuskan untuk menemui Lily. Di taman yang berada di belakang area hotel terlihat Lily yang sedang duduk di sana. Wanita itu terlihat sedang merenung. Bima mendekat dan duduk di samping istrinya.


"Kenapa tidak kembali ke dalam?" tanya Bima. Lily tidak menolehkan kepala, hanya menyusut sudut matanya yang basah.

__ADS_1


"Aku gak kuat."


Bima mengambil bahu Lily dan mengusapnya. "Anak kita sudah besar, sudah seharusnya dia bersama dengan suaminya," ucap Bima, paham.


Lily hanya diam, meski memang benar, tapi rasanya tidak rela melepaskan Yumna dengan Haidar. Rasa takut masih tetap ada meski katanya kedua anak itu kini saling mencintai.


"Aku paham perasaan kamu, gak ada seorang ibu yang ingin jauh dari anaknya, tapi kita hanya orang tua yang harus melepaskan anak-anak saat mereka sudah memilih jalannya," ucap Bima pelan, ibu jarinya tak henti mengusap bahu Lily lembut.


"Aku tau, Mas. Tapi rasanya baru kemarin aku menimang Yumna," ucap Lily, lalu terdiam dan tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya lagi.


"Aku paham perasaan kamu. Aku juga sama, apalagi aku bertemu dengan Yumna saat usia tiga tahun. Banyak momen yang terlewatkan dengan dia." Bima menatap langit yang mendung, seperti hati mereka berdua kini.


"Apa menurut kamu pernikahan mereka berdua ini akan berjalan dengan baik?"


"Semua serahkan saja kepada Yumna. Dia yang sudah memilih jalannya, aku rasa tidak akan mungkin jika dia akan menempuh jalan yang sama. Dia sudah besar, dia sudah tau konsekwensi atas putusan yang dia ambil." Helaan napas terdengar dari mulut Bima, Lily yakin jika suaminya juga merasakan hal yang sama.


"Apa kita bisa kembali ke ruangan? Kasihan Yumna kalau terus ditanya mertuanya. Aku senang dengan Mitha, tapi tidak terlalu senang dengan anaknya," ucap Bima yang telah sukses membuat Lily tertawa kecil.


"Aku juga, tidak terlalu suka dengan anaknya," tambah Lily. Bima tersenyum melihat wanita yang disayanginya sudah tertawa kini, dia berdiri dan sedikit menarik tangan Lily.

__ADS_1


"Ayo, malah ghibahin menantu , sih!" Lily tertawa, lalu berdiri di samping suaminya.


Bima dan Lily kembali ke ruangan di mana besan dan anaknya yang lain masih berada di sana.


__ADS_2