
Pagi menjelang. Sinar matahari terasa sedikit panas kali ini mengusik ketenangan seorang gadis yang masih terlelap dalam mimpinya. Boneka kesayangan tergeletak di lantai, selimut tebal pun hanya menutupi sebagian kakinya. Dia terlihat sangat damai dalam tidurnya.
Suara ketukan di pintu mengusik tidurnya yang lelap. Dia membalikan dirinya ke kanan lalu ke kiri, menutup telinganya dengan bantal merasa terganggu.
Lagi, suara pintu di ketuk semakin terdengar keras dari luar di iringi teriakan sang mama yang memanggilnya.
"Syifaaaa!!! Syifaaa. Ini sudah siang!" teriak Lily sambil menggedor pintu kamar putri keduanya.
Syifa mengulurkan tangannya mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Syifa bangun, nanti kamu terlambat sekolah. Lihat jam berapa sekarang!" Lily sudah mulai kesal dengan putri manjanya ini. Syifa mencoba meraih hpnya yang tergeletak di atas nakas, dia memicingkan satu matanya lalu terlonjak bangun setelah melihat angka yang tertera di layar hp itu.
"Aku kesiangan!!" teriak Syifa sembari menghambur berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia mandi dengan cepat. Melepas semua bajunya, mengguyur tubuhnya dan menyabuni seluruh permukaan kulitnya. Semua itu ia lakukan hanya dalam waktu sepuluh menit plus dengan memakai seragam sekolahnya.
"Aduh gawat kenapa aku bisa terlambat! Ini gara-gara Ameera!" rutuknya sambil memasukan buku pelajaran ke dalam tasnya.
"Harusnya aku masukan buku ini ke dalam tas tadi malam. Gara-gara keasyikan ngobrol jadi ketiduran deh!" dia menarik tasnya dan menggendongnya di punggung. Setelah itu Syifa berlari keluar kamarnya dan dengan cepat menuruni tangga menuju ke arah dapur.
"Pagi ma!" sapa Syifa sambil mencium pipi mamanya.
"Pagi!" Lily balas menyapa sambil memberikan piring berisi roti lapis pada Syifa. Syifa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ketiga saudaranya tidak terlihat disana.
"Yang lain mana ma?" tanya Syifa seraya duduk dan menggigit sarapannya.
"Sudah berangkat semua. Si kembar juga udah berangkat, baru saja. Mereka bilang ada ujian pagi ini jadi berangkat duluan karena kamu lama banget." tutur Lily sambil membawa piring kotor ke wastafel.
"Kok aku di tinggal? Kejam!" ucap Syifa. "Aku berangkat sama siapa dong?" Syifa mendengus kesal, kedua pipinya menggembung karena makanan yang sedang ia kunyah.
"Nunggu ojol juga bakal telat ma. Sudah siang ini!" Syifa merengut kesal mulutnya tak berhenti mengunyah. Di saat yang bersamaan Reyhan terlihat menaiki tangga dia baru saja pulang dari acara lari paginya.
"Kamu minta mas Rey antar saja ya. Mama ada urusan harus ke toko kue setelah ini. Ada banyak pesanan!"
"Yah mama, anterin Syifa dulu napa ma?"
"Mama gak bisa Syifa, lagian salah kamu juga bangun telat. Kenapa..."
"Ya udah deh, salim dulu. Syifa minta om Rey buat anterin." Syifa memotong ucapan Lily dan meraih tangan Lily, mencium punggung tangannya. Dia berlari ke arah tangga dengan membawa serta sarapan di tangannya.
Dengan nafas terengah Syifa mengetuk pintu kamar Reyhan. Beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
"Om. Buka dong!" teriak Syifa, masih tidak ada jawaban. "Om Rey, anter Syifa ke sekolah bisa gak? Syifa udah kesiangan nih!" Syifa merasa kesal karena masih tidak ada juga jawaban dari dalam sana. Dia memegang handle pintu...
"Eh tidak di kunci." Syifa membuka pintu kamar Reyhan dan melongokan kepalanya di celah pintu, mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Reyhan tidak ada disana.
"Apa om Rey di kamar mandi ya?" gumam Syifa, dia melangkahkan kakinya ke dalam sana.
__ADS_1
"Om Rey... Om dimana?" Syifa berseru, lalu melangkah kan kakinya ke arah kamar mandi, Syifa menempelkan telinganya di daun pintu, terdengar suara gemericik air dari dalam sana.
"Aduh, orangnya lagi mandi. Gimana dong. Aku bisa telat ini, mana kelas pertama bu Mimi lagi." gumamnya. Syifa mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kamar mandi, dia menggigit bibirnya sendiri. Ragu.
Biarlah, yang penting aku gak di hukum. Batin Syifa. Baru saja Syifa akan mengetuk pintu, pintu itu terbuka. Reyhan sedang mengelap rambutnya yang basah. Syifa terkesiap melihat tubuh Reyhan yang setengah telanjang, sampai dia terdiam mematung memperhatikan belahan roti sobek yang sempurna milik Reyhan. Mulutnya menganga. Tidak pernah dia melihat pria yang tubuhnya begitu sempurna secara nyata, Syifa hanya pernah melihat itu di majalah saja. Hingga dia tak sadar mengulurkan jarinya, penasaran ingin menyentuh otot sempurna itu.
Reyhan tak kalah terkejutnya mendapat Syifa berada di dalam kamarnya, tepat di depan pintu kamar mandi. Apa lagi tangan Syifa yang semakin maju dengan telunjuk teracung mengarah ke perutnya.
"Mau apa?" Reyhan menahan pergelangan tangan Syifa hingga pergerakannya terhenti. Syifa terkejut hampir melonjak.
"Eh, om. A-aku mau...itu...mau..." mendadak Syifa tidak bisa berkata dengan jelas. Dia memalingkan wajahnya saat Reyhan menatapnya dengan tajam.
"Mau apa?!" tanya Reyhan. Wajah Syifa memerah, gugup, takut, dan malu, karena ketahuan. Reyhan menarik tangan Syifa ke arahnya. Wajah gadis itu terlihat lucu saat merasa ketakutan.
"Anu... itu..."
"Kamu gak tahu gitu kalau masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin itu tidak di perbolehkan? Apa lagi masuk ke dalam kamar laki-laki." tanya Reyhan.
"Tau kok. Tau!" Jawab Syifa.
"Terus kalau tau kenapa kamu ada disini? Kamu mau ngintip ya?" tanya Reyhan dia tersenyum mengejek.
Syifa menarik tangannya dari genggaman tangan Reyhan, ia merasa jantungnya berloncatan seperti kangguru, pasalnya wangi aroma sabun dari tubuh Reyhan sangat terasa menggelitik hidungnya dan mengirimkan rasa sesak pada paru-parunya.
"Minta tolong apa?" tanya Reyhan, dia menahan tawanya melihat gadis yang biasanya riang ceria mendadak seperti orang yang ketahuan mencuri, dan juga salah tingkah.
"Syifa di tinggal, Pak Naryo lagi anterin si kembar ke sekolah. Mama mau ke toko kue. Tolong anter aku ke sekolah, please!" Syifa menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Reyhan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, pasalnya dia juga pagi ini akan pergi ke suatu tempat.
"Ya om, please. Tolongin aku! Aku gak mau dihukum karena telat datang!" mohon Syifa. Reyhan tidak tega melihat wajah Syifa yang memohon dan memelas.
"Oke." ucap Reyhan. Syifa berjingkrak senang. "Tapi... Minta maaf dulu karena sudah jahil lemarin malam!"
Syifa merengut dengan kesal. "Tapi om, kan bukan salah Syifa. Itu karena om juga yang mulai duluan!" cicit Syifa tidak terima.
Reyhan berjalan melewati gadis kecil itu. "Berarti kamu berangkat sendiri!" ujar Reyhan, dia membuka lemari dan mengeluarkan kaos putih dan memakainya hingga dia terlihat semakin seksi dengan balutan kaos yang pas dengan badan. Membuat Syifa semakin terkagum melihatnya.
"Om, tapi..."
"Ckckck..." Reyhan berbalik dan menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya. "Tidak ada kata maaf, tidak di antar!" Jawab Reyhan tenang, lalu mengambil celana jeansnya.
"Ayo cepat bilang! Kalau tidak mau bilang aku gak akan antar, dan juga kamu akan tetap disini sampai aku pakai celana, gitu?!"
"Ih, om mesum!" teriak Syifa, dia berlari ke arah luar sambil berteriak. "Oke aku minta maaf, aku juga akan traktir om jajan asalkan Om anter aku ke sekolah!" Syifa menarik handle pintu dan keluar dari sana. Dadanya berdegup kencang, nafasnya tersengal.
__ADS_1
"Dasar mesum!" gumam Syifa, sambil bersender di pintu dan memegangi dadanya.
Sementara di dalam kamar, Reyhan tersenyum geli melihat tingkah gadis kecil itu. Dia segera memakai celananya dan juga menyisir rambutnya, menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya, kemudian memakai jaket berbahan jeans.
Reyhan membuka pintu kamarnya dan mendapati Syifa masih berdiri disana.
"Ayo. Ambilin kunci motor Arkhan. Berangkat pakai motor saja biar gak telat!" Titah Reyhan, Syifa mengangguk dan pergi ke kamar si kembar, mencari kunci motor yang selalu di simpan di dalam laci nakasnya. Dia kemudian berlari ke bawah menyusul Reyhan yang sudah ada di lantai bawah. Mereka pergi ke garasi dimana motor milik si kembar berada.
"Ini om." Syifa menyerahkan kunci motor pada Reyhan, lalu mengambil helm yang di sodorkan Reyhan. Syifa menggigit roti lapisnya yang tinggal setengah lalu memakai helm di kepalanya.
"Kalau makan itu yang bener lah, lihat tuh hampir jatuh kan!" Reyhan mengambil roti lapis yang ada di mulut syifa, Syifa hanya tersenyum malu. Dia mengunci tali helm di bawah dagunya.
"Nih." Reyhan menyodorkan makanan Syifa, dan mulai menaiki motornya. Begitupun Syifa, dia memegang pundak Reyhan dan naik ke atas motor.
"Jangan ngebut-ngebut ya om. Syifa takut!" seru Syifa saat Reyhan mulai menjalankan motornya perlahan.
"Oke! Kamu tenang aja. Habiskan sarapan kamu!" ucap Reyhan. Motor mulai membaur di jalanan, matahari mulai terasa panas di kulit Syifa, dia duduk dengan tenang sambil menggigit makanannya.
Reyhan memacu kandaraannya sedikit lebih cepat, mobil dan motor ia lewati begitu saja dengan mudah. Salip kiri dan kanan, untung saja tidak terjebak kemacetan.
"Om. Jangan ngebut-ngebut dong, Syifa takut!" teriak Syifa saat merasa motor yang di kendarai mereka melaju begitu kencang. Reyhan tidak mendengarkan meski Syifa memukuli punggungnya beberapa kali. "Om, denger gak sih?!!" teriak Syifa kesal. Reyhan semakin memacu motornya lebih cepat lagi. Syifa menyerah, tenggorokannya sakit karena berteriak. Dia hanya bisa diam memegangi tepian jaket Reyhan dengan erat.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di depan sekolah Syifa, beruntung pintu gerbang masih belum di tutup. Syifa turun dari atas motor, dia mencoba membuka helmnya dengan perasaan kesal. Sambil mendelik ke arah Reyhan, bibirnya cemberut. Saking ketakutannya, makanan yang tadi masih sisa setengah entah pergi kemana terlepas dari tangannya.
"Kenapa cemberut?" tanya Reyhan, dia tertawa kecil merasa lucu melihat ekspresi dari wajah Syifa.
"Om Rey keterlaluan! Mau bikin aku jantungan ya!!" Syifa menyerahkan helmnya dengan kasar pada Reyhan.
"Loh yang penting kan sampai kan? Gak telat kan?" ucap Reyhan. Syifa mendelik malas lalu membalikan tubuhnya.
"Eh pergi gitu aja. Ucapan makasih nya mana?" protes Reyhan.
"Trimakasih kalau udah kasih shock therapy buat jantung aku?! Gak ada!" desis Syifa lalu kembali berjalan meninggalkan Reyhan yang melongo menatapnya Syifa.
"Jangan lupa traktirannya ya?" teriak Reyhan dari atas motornya. Syifa berhenti, memutar kepalanya menatap Reyhan sekilas, mencibirkan bibirnya, lalu dengan cepat kembali melangkah ke dalam area sekolah.
Reyhan menggelengkan kepala melihat kelakuan putri majikannya.
"Sangat beda dengan kakaknya!" gumam Reyhan kemudian dia menyimpan helm yang tadi di pakai Syifa, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
*
*
*
__ADS_1