YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
348


__ADS_3

Yumna menarik napasnya dengan lelah, mendapati perilaku Haidar yang seperti ini. Bukan tidak boleh jika dia membantu seseorang bahkan mantan pacarnya sekali pun, tapi jika dia tidak bicara sebelumnya, bisa saja akan ada hal lain yang bisa membuat mereka menjadi bertengkar hebat karena salah paham dan yang lainnya.


Yumna akhirnya berdiri dan mengabaikan makanan yang Haidar bawa tadi.


"Kamu mau kemana?" tanya Haidar dengan rasa bersalah, menahan tangan Yumna yang kemudian dihempaskan oleh wanita itu.


"Aku mau tidur," ucap Yumna.


Haidar memanggil Yumna, tapi istrinya itu tidak berhenti apa lagi menolehkan kepala. Dia sangat kecewa dengan apa yang Haidar lakukan tadi.


Haidar sadar dengan semua itu. Memang salah, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan Vio saat tahu wanita itu ada di dalam kesulitan. Jika saja dia tidak melihat Vio kemarin itu, tentu saja dia tidak akan melakukan ini.


Janji pada orang tuanya untuk menjaga Vio sudah jelas tidak bisa lagi dia lakukan karena perilaku buruk Vio dulu kepadanya. Dia hanya bisa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap Yumna yang masuk ke dalam kamarnya.


"Aku cuma mau bantu aja. Nggak lebih," ucap Haidar pelan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak lama, Yumna kembali keluar dari dalam kamar dengan memakai cardigan-nya, perutnya yang sudah mulai buncit tampak menggemaskan.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Haidar saat melihat Yumna menutup pintu kamar. Yumna tidak menjawab, dia terus melangkahkan kakinya ke arah tangga.


Melihat Yumna yang mengabaikan dirinya seperti itu membuat Haidar merasa kebingungan. Dia segera bangkit untuk menyusul Yumna yang kini sudah ada di pertengahan tangga.


"Sayang, tunggu aku. Kamu mau kemana?" tanya Haidar sambil berjalan dengan langkah kakinya yang cepat, tapi laki-laki itu tetap saja kalah cepat sehingga saat dia telah berada di lantai atas, pintu kamar itu telah tertutup.


"Sayang!" teriak Haidar sambil menggedor pintu kamar tersebut. Akan tetapi, Yumna tidak menyahut atau membukakan pintunya sama sekali. Dia malah menguncinya juga.


"Sayang, tolong buka pintunya. Apa kamu marah?" tanya Haidar meminta. Yumna masih diam, dia hanya merebahkan dirinya di atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di sana, berharap jika dia tidak mendengarkan apa pun meski selimut itu tidak bisa meredam suara Haidar sama sekali.


"Sayang, kita bicarakan ini, yuk," bujuk Haidar.


Yumna semakin mengeratkan selimutnya dan mencoba untuk menutup matanya.

__ADS_1


Haidar kini hanya diam, dia tidak akan memaksa lagi karena dia sadar jika telah melakukan kesalahan.


"Sayang, aku turun ke bawah dulu, ya. Maaf aku udah bikin kamu kecewa," ucap laki-laki itu kemudian pergi ke lantai bawah.


Yumna menarik selimutnya, mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut dan menatap ke arah pintu. Sudah tidak ada lagi yang terdengar.suara.


Di dalam kamarnya Haidar merasa bingung dengan sikap Yumna, memang dirinya pantas untuk diabaikan, tapi tidak begini juga 'kan?


Akhirnya Haidar menghubungi Mami Mitha untuk meminta saran. Akan tetapi, ternyata sang mami juga malah memarahinya. Berteriak di dalam telpon itu dan membuat telinga Haidar merasa sakit.


"Sekarang di mana perempuan itu?" tanya MItha dengan kesal.


"Haidar!" teriak Mitha saat Haidar tidak juga menjawab.


...*********************...

__ADS_1


melipir dulu ke sini boleh lah



__ADS_2