YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
298. Dua Makhluk Pengganggu


__ADS_3

Haidar menerima pesan yang Yumna kirimkan, sedikit senyum tersungging di bibirnya saat membaca jika dia kini sedang dalam perjalanan pulang bersama dengan adik kembarnya. Padahal dia ingin menjemput Yumna di tempat kerja dan makan di luar malam ini.


Helaan napas terdengar cukup keras dari bawah hidungnya. Rencana harus berubah, tidak ada lagi restoran di rencananya malam ini.


"Ya sudah lah, masak saja," ucap Haidar pasrah. Tidak buruk juga dengan kedatangan adik iparnya itu ke rumah, semoga saja dia bisa menjalin kembali hubungannya yang sempat tidak baik selama ini.


Bahan masakan yang ada di dalam kulkas Haidar keluarkan semua. Dia juga memakai celemek di depan tubuhnya. Haidar kini hanya terdiam melihat banyak bahan masakan di atas meja, tidak tahu harus memasak apa untuk istri dan adik iparnya.


"Ah, yang gampang aja deh," ucap Haidar lalu membuka layar di hp-nya. Dia melihat resep masakan yang mudah untuk diolah dengan cepat malam ini. Dengan segera dia menyiangi sayuran, memotong ayam, dan mengupas bumbu-bumbu. Memang mudah untuk Haidar memesan makanan dari luar, tapi dia sangat suka jika Yumna memuji masakannya, entah istrinya itu berkata dengan jujur atau tidak.


Mobil yang membawa Yumna kini telah sampai di depan rumah, Pak Dani yang tengah duduk menikmati kopinya segera beranjak untuk bangun dan membukakan gerbang, sedikit bingung dia karena melihat ada mobil yang lain di belakang mobil Yumna.


"Eh, Mas Azkhan. Silakan masuk," ucap Pak Dani dengan cepat seraya membukakan gerbang dengan lebar saat Azkhan menurunkan kaca mobilnya.


"Makasih, Pak." Azkhan melajukan mobil itu dengan pelan masuk ke dalam garasi milik Yumna, sedangkan Arkhan mengikuti dan menghentikan kendaraannya di halaman. Ketiga orang tersebut turun bersamaan dan masuk ke dalam. Azkhan dan Arkhan melihat keadaan rumah ini, tidak pernah berubah semenjak dulu.


"Kak, gak mau gitu renovasi rumah ini? Kan rumahnya udah tua kayak Kakak," ucap Azkhan sambil mengikuti langkah kaki kakaknya masuk ke dalam rumah tersebut.


Yumna mendelik kesal mendengar ucapan adiknya. "Ish kamu ini. Dasar asem! Buat apa renovasi? Rumah ini masih bagus kok," ucap Yumna. Bangunan yang sudah melebihi dari usianya itu memang sangat kokoh, juga mungkin ada beberapa yang diperbaiki oleh sang papa, tidak mungkin jika Bima membiarkan rumah tersebut dan tidak mengurusnya dengan baik.


"Nanti kalau aku nikah mau juga ah rumah yang model kayak gini," celetuk Azkhan, saudara kembarnya itu melirik sang adik.


"Emang Ana mau diajak nikah sama elo?" tanya Arkhan. Adiknya itu menatap Azkhan kesal. Meski hubungan mereka terjalin semenjak SMA, tapi sampai saat ini mereka masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Ya mau lah, siapa yang gak mau nikah sama gue? Lelaki ganteng yang selalu bikin dia kangen?" ujar Azkhan membanggakan dirinya sendiri. "Emangnya elo, putus nyambung sama Meera? Bahkan gue aja gak tau apa kalian masih punya hubungan atau enggak," ujar Azkhan yang membuat Arkhan melengos dan berjalan dengan cepat. Yumna yang sadar melihat raut tidak menyenangkan adiknya itu memukul adik bungsunya.


"Kamu kalau bicara jangan sembarangan!" tegur Yumna.


"Sembarangan apa? Aku bicara fakta loh, Kak!" ujar Azkhan dengan wajah tanpa dosanya.


"Lihat, dia jadi kesel, kan?' ujar Yumna lagi sambil menatap tajam adiknya dengan kesal.


"Eh, ya biarin. Kan yang aku bilang itu fakta, bukan gosip," ujar Azkhan tak mau mengalah.


Haidar baru saja menyelesaikan masakannya, mendengar suara orang berbicara dari depan membuat dia mendekat ke sana dan melihat istri dan kedua adiknya telah datang.


"Kalian sudah sampai?" Haidar berbasa basi, jelas tidak perlu mengatakannya karena mereka sudah datang, bukan?


"Cih! Ingat, dunia bukan cuma milik kalian!" celetuk Arkhan lalu meninggalkan kakaknya dan berjalan menuju ke arah dapur. Aroma wangi tercium dan membuat perutnya kini meronta meminta diisi.


"Aku juga mau ke dapur, ah. Panas," ucap Azkhan pamit, lebih baik pergi daripada melihat kemesraan dua orang itu dan membuat jiwanya menangis. Jelas selama beberapa tahun ini dia tidak bisa bertemu dengan Ana karena gadisnya itu tengah melakukan pendidikan di luar negeri.


Yumna segera melepaskan dirinya dari pelukan hangat Haidar. Meski dia sudah menikah, tapi dia tidak terbiasa dipeluk dan dicium di depan adik-adiknya. Yumna memukul dada Haidar dengan cukup keras, tapi sekiranya tidak membuat laki-laki itu kesakitan.


"Kenapa?" tanya Haidar dengan senyumannya, melihat wajah Yumna yang sedikit memerah.


"Kamu nih, ada si kembar. Main peluk aja!" ujar Yumna malu.

__ADS_1


"Emang kenapa? Gak salah, kan?" ujar Haidar sambil tertawa kecil.


"Ish. Malu tau!"


Haidar menggenggam tangan Yumna. "Aku tadi mau jemput kamu. Kirain kamu pulang jam delapan lagi," ujar Haidar.


"Aku pulang lebih cepet, tadi bos udah capek katanya makanya kita pulang sebelum jam delapan malam," ucap Yumna.


Haidar melirik ke arah meja dimana Yumna tadi menyimpan paper bag di sana. "Apa itu?" tanya Haidar menunjuk benda tersebut.


"Nenek kirim itu dari Singapura, udah liburan kali makanya kirim coklat," ucap Yumna.


"Oh. Sebelum makan coklat, kita makan malam dulu. Aku udah selesai masak buat makan malam kita," ucap Haidar. Yumna jadi merasa bersalah pada suaminya itu yang menyempatkan diri memasak dikala lelahnya. Yumna mengusap pipi Haidar lembut.


"Makasih ya. Kamu udah masakin buat aku. Kamu pasti capek ya? Padahal, beli saja di luar," ucap Yumna. Haidar tersenyum dan mengambil tangan istrinya, dikecupnya dengan lembut telapak tangan putih itu.


"Gak masalah, kamu yang lebih capek karena harus lembur." Haidar melingkarkan tangannya di pinggang Yumna, hangat tubuh istrinya ini membuat lelah yang dia rasakan kini menghilang dan membangkitkan semangatnya lagi. Melihat Yumna yang tersenyum dan sorot matanya yang lembut membuat Haidar semakin bertambah rasa cintanya. Wanita yang benar-benar dia cintai dan bisa membuatnya bahagia melebihi apapun. Bahkan, rasanya melebihi bahagia saat bersama dengan Vio dulu. Hubungan yang hanya dilandaskan janji pada orang tua Viola. Kini Haidar harus memegang teguh janji pada diri Yumna di atas janji suci pernikahan mereka.


Tanpa sadar, dua orang itu saling mendekat hingga jarak yang ada semakin menipis. Hembusan napas hangat keduanya saling beradu.


"Kakak! Kapan kita mulai makan? Aku sudah lapar!" teriak seseorang dari dapur. Yumna dan Haidar tersadar dan menjauhkan kepalanya masing-masing. Salah tingkah dua orang itu melirik ke kanan dan ke kiri, sekilas mereka lupa jika ada dua makhluk lain yang ada di rumah ini.


"Em ... Ayo kita makan. Aku sampai lupa kalau ada si duo rusuh di sini," ucap Yumna dengan malu. Haidar melihat Yumna yang tergesa meninggalkannya sambil membawa paper bag yang ada di atas meja tadi.

__ADS_1


"Ck, duo rusuh memang pengganggu!" ucap Haidar sambil mengikuti Yumna yang kini pergi menuju ke arah dapur.


__ADS_2