YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
261. Rahasia Hati


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, udara sangat dingin di luaran sana. Sudah tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Sebagian orang sudah terlelap untuk tidur. Akan tetapi, tidak dengan dua orang yang sampai saat ini masih saling berbalasan pesan di dalam selimut yang hangat. Hanya berbalas pesan saja, karena Haidar takut jika berbicara di telepon dirinya akan melakukan hal yang tidak-tidak dan bisa jadi nekat datang kembali ke rumah Yumna.


[Harusnya pernikahan kita minggu ini saja, kenapa harus bulan depan, sih!] Pesan dari Haidar dengan emot mata berair hampir menangis. Yumna terkekeh di tempatnya, geli dengan pesan mereka yang sedari tadi hanya membahas soal itu.


[Kan harus dipersiapkan lagi, Haidar. Meskipun cuma pesta kecil sesama keluarga saja, tapi kan kita harus tetap ada persiapan.] Balas Yumna. Haidar berdecak kesal di tempatnya, berguling ke kanan dan ke kiri, rasanya tak sabar hingga sampai di hari bahagianya itu.


Suara ketukan di pintu terdengar dengan pelan, sesekali Yumna mendengar suara adiknya yang memanggil.

__ADS_1


"Kak Yumna udah tidur belum?" Suara Syifa terdengar dari luar, mencoba mengetuk kembali pintu kamar kakaknya. Dia yakin sekali jika Yumna belum tidur karena melihat cahaya lampu dari bawah pintu kamar Yumna. Dengan segera Yumna bangun dan membukakan pintu.


"Ada apa Syifa?" tanya Yumna bingung, Syifa masih belum tidur di hampir tengah malam seperti ini, berdiri sambil memeluk bantal gulingnya.


"Gak bisa tidur. Bobok di sini, ya?" pinta Syifa. Yumna tidak pernah menolak kehadiran adiknya dia menggerakkan kepala menyuruh Syifa masuk. Adiknya itu langsung berlari dan melompat ke atas kasur Yumna dan merebahkan dirinya dengan nyaman.


"Kakak, mau nikahan kayak kemarin lagi bikin pesta besar?" tanya Syifa.

__ADS_1


"Emang dulu kenapa juga sampai bisa pisahan kayak gitu? Padahal kan sekarang juga rujuk lagi," ucap Syifa sangat ingin tahu. Jiwa keponya sangat besar dengan apa yang terjadi.


"Ah, anak kecil kayak kamu tau yang kayak gitu," ucap Yumna lalu berbaring di samping adiknya kembali menyibukkan diri dengan hp yang sedari tadi terdapat beberapa pesan baru dari Haidar.


"Ih, Kakak mah. Aku kan pengen tau juga, Kak. Dulu kenapa sampai berpisah kalau kalian masih saling ada hati, kayak waktu itu terbuang sia-sia gitu. Kan siapa tau kalau gak pisahan dulu kita udah punya ponakan kali, Kak!" ujar Syifa.


 Yumna tersenyum kecut, benar apa kata Syifa, tapi semua memanglah takdir dan harus seperti ini adanya.

__ADS_1


"Udah deh, ah. Namanya risalah hati itu terkadang menjadi rahasia, kita gak tau soal cinta, mau bagaimana ke depannya, bisa aja di awal manis, ternyata di akhir bikin sedih. Atau, di awal banyak halang rintang di akhir nanti mereka bisa berbahagia. Hanya bisa pasrah aja. Mau di pertahankan atau diperjuangkan juga kalau takdir masih belum berpihak mau bagaimana?" tanya Yumna. Sadar dengan hembusan napas yang terdengar dari sampingnya membuat Yumna menoleh dan berdecak kesal. Bicara panjang lebar, tapi yang diajak bicara malah sudah tertidur dengan lelap.


"Katanya kepo, tukang tidur!" decak Yumna, lalu kembali membalas pesan Haidar untuk pamit menyusul Syifa tidur.


__ADS_2