YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
343


__ADS_3

Begitulah setiap hari keseharian Haidar kini, hampir kemana pun dia selalu membawa satu botol kecap ukuran sedang. Rasa mual itu tidak bisa hilang jika dia belum mendapatkan kecap. Sepertinya aneh, karena dia belum pernah mendengar seseorang yang mengidam dan ke mana-mana membawa botol kecap sebelumnya.


Hari ini dia akan bertemu dengan Ben dan Darren untuk sekedar bertemu saja. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan mereka, kangen rasanya karena semua orang kini sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Saat jam makan siang, ketiga orang itu bertemu di sebuah cafe tempat di mana mereka dulu sering berkumpul.


"Hai apa kabar?" tanya Ben saat melihat Haidar mendekat ke arahnya. Juga dengan Darren dia hanya tersenyum melihat seorang laki-laki yang sangat sibuk akhir-akhir ini.


"Aku baik. Gimana kabar kalian?" tanya Haidar balik kepada mereka berdua.


"Kami baik." Ben menatap Haidar dari atas hingga ke bawah. Sedikit terlihat berbeda laki-laki ini, pipinya lebih tembem, perutnya juga sedikit maju, sehingga membuat dia dan juga Darren menahan tawa.


"Ada apa?" Haidar mengerutkan keningnya, ada hal yang tidak baik saat mereka menatap dan tertawa seperti itu.


"Nggak ada apa-apa. Cuma kamu makin tampan aja." Ben menepuk pundak Haidar cukup keras beberapa kali, sedangkan tangan yang lain menutupi mulutnya yang ingin tertawa.


"Kamu gendut," ucap Darren tanpa basa-basi yang berhasil membuat Ben tertawa terbahak sangat keras sehingga membuat beberapa orang yang berada di sana menoleh kepada mereka. Haidar berdecak kesal mendengar kata Darren dan menatap penampilan dirinya, memang akhir-akhir ini celananya sedikit sempit, sih.


"Ternyata teman kita ini sekarang bahagia. Syukurlah, aku juga ikut senang." Ben kemudian mengajak Haidar untuk duduk di tempat yang telah dipesan.


Haidar kesal karena Ben masih tertawa saja.


"Berhenti deh, Bang. Keterlaluan banget sih lo, baru ketemu lagi malah udah ngejek aja," ujar Haidar kesal.


Ben masih saja tertawa. "Sorry, sorry. Bukannya ngejek, tapi jujur emang lo kelihatan gendut sedikit. Bikin gue gemes pengen cubit pipi," ucap Ben sambil berusaha meraih pipi Haidar untuk dicubitnya. Dia tidak menyangka dengan kehidupan Haidar, yang sepertinya bahagia sehingga membuat laki-laki ini menjadi sedikit berbeda.


"Awas deh, jangan sentuh gue!" cecar Haidar dengan marah menyingkirkan tangan Ben yang hampir menyentuh pipinya. Ben tertawa keras, sedangkan Darren hanya diam saja melihat kelakuan dua orang itu. Entah kenapa dirinya yang sedingin tembok bisa bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas seperti mereka berdua.


"Gue nggak nyangka kalau Yumna bisa ubah lo jadi kayak gini, elu kelihatan sedikit fresh daripada yang dulu." Ben berkata sambil memanggil pelayan yang ada di sana.

__ADS_1


"Elu ngejek, bukan muji," ucap Haidar yang masih kesal.


Pelayan telah membawakan pesanan mereka, satu persatu diturunkan dan disimpan ke atas meja menurut pesanan masing-masing.


"Silakan dinikmati. Jika anda ingin memesan yang lainnya panggil saja kami," ucap wanita tersebut lalu kemudian pamit dari sana.


"Terima kasih," ucap Ben kepada wanita itu.


"Mari kita makan." Ben mempersilahkan yang lain untuk segera menikmati makan siangnya. Akan tetapi, kemudian dia terheran melihat Haidar yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Haidar mengeluarkan sebuah botol kecap dari tasnya dan menambahkannya pada steak daging yang ada di sana.


"Elo ngapain?" tanya Ben yang kebingungan.


Haidar melirik pada dua sahabatnya tersebut dan tersenyum malu.


"Nggak apa-apa, tapi kelihatannya kurang cantik aja warnanya," alasan Haidar sambil tersenyum meringis. Dia sedikit malu karena mungkin itu aneh bagi mereka.


"Orang aneh," ucap Darren datar yang membuat tatapan Haidar tertuju kepadanya.


Ben seketika tertawa mendengar ucapan Haidar. Memang dia pernah mendengar jika laki-laki bisa mengidam juga, tapi dia tidak menyangka jika itu akan terjadi kepada Haidar.


Ben juga tak luput dari tatapan dingin laki-laki itu. "Bang, please deh nggak usah ketawa ngakak kayak gitu. Lu jelek!" ujar Haidar kesal. Ben segera berdehem menghentikan tawa kerasnya.


"Sorry. Habisnya itu lucu banget, sumpah. Kalau orang lain biasanya itu pengen rujak, pengen makanan yang asem-asem. Lah kenapa lu malah kecap?" ujar Ben yang kini kembali menahan tawanya sehingga bahunya bergerak naik dan turun.


Haidar tidak menanggapi ucapan dari sahabatnya itu, dia segera mengambil pisau dan garpunya dan segera makan.


"Hei, lo kapan bakalan nikah, Ren? Gue lihat elo masih betah sendiri aja. Cepetan nikah, nanti keburu nggak ada lagi cewek tersisa di dunia ini," ucap Haidar bertanya kepada Darren.


"Aku masih ingin bebas," ucapnya singkat dan dingin.

__ADS_1


"Ingat umur. Mau sampai kapan lu sendiri kayak gitu. Setidaknya kalau mungkin, bisa punya keturunan dari mereka buat nemenin di masa tua nanti," ucapin tapi terlihat sedih di dalam sorot matanya.


"Lo juga sebentar lagi pasti akan dapat, kalian tinggal berusaha aja lebih keras lagi," ucap Haidar memberi semangat kepada suami kakak sepupunya itu. Ben tersenyum tipis.


"Gue nggak akan bisa punya anak," ucap Ben membuat Haidar dan Darren tersentak dan menatapnya tidak mengerti.


"Kok bisa?" tanya Haidar.


Ben yang baru saja makan tiga suapan kini hanya bisa diam, rasanya sudah tidak berselera sama sekali.


"Gue yang nggak bisa ngasih keturunan buat Agnes."


"Maksud lo?" tanya Haidar lagi. Dia menginginkan jawaban yang lebih banyak daripada itu, sementara Darren juga menatap dan menunggu untuk kelanjutan ucapannya tadi.


"Hah ...." Ben menghela nafasnya berat. "Ternyata kecelakaan yang dulu bikin gue nggak bisa punya anak," ucap Ben akhirnya.


"Heh? Kecelakaan motor itu?" Ben menganggukkan kepalanya. "Kayaknya nggak masuk akal deh." Haidar kini menggeleng.


"Dokter yang bilang. Dan itu juga bukan cuma satu dokter aja," ucap Ben terdengar sedih.


"Lo yakin? Mungkin ada cara lain untuk sembuh?" tanya Haidar mencoba untuk menyemangati, tapi Ben hanya menggelengkan kepalanya.


"Bukan hanya kecelakaan itu saja, lo tahu kan dulu gue kayak gimana? Gue itu pecandu, itu yang kata dokter mempengaruhi kesuburan gue, makanya sekarang gue nggak bisa kasih keturunan buat Agnes," ucapnya menyesal.


Darren hanya diam saja, tapi di dalam hati menaruh iba kepada laki-laki ini. Dia hanya mengangkat tangannya dan menepuk bahu Ben dua kali.


"Terus, Agnes gimana?"


"Dia tentu aja sedih, tapi sampai saat ini dia masih terima keadaan gue. Cuma nggak tahu deh nanti, kedepannya bakalan gimana karena gue juga nggak ngerti. Agnes masih muda, dia masih punya peluang untuk punya anak bahkan dari orang lain."

__ADS_1


"Maksudnya, lo bakalan ninggalin dia?" tanya Haidar dengan tidak percaya.


__ADS_2