
Sampai pagi Yumna tidak bisa tidur lagi. Dia terus saja terngiang kata-kata Haidar.
Tidak mau katanya? Lalu maunya dia apa? Aku terus hidup sama dia di bawah bayang-bayang Vio? Kalau saja Vio tidak ada mungkin....
Haisss... apa yang aku fikirkan. Ada atau tidaknya Vio perasaan Haidar bukan buat aku.
Berdialog sendiri di dalam hati.
Tidak bisa. Kalau aku tidak menyelesaikan urusan ini aku pasti terus saja tetap memikirkan dia. Mungkin jika kami berpisah, aku gak akan lagi mikirin Haidar.
...***...
Haidar terbangun dari tidurnya di jam delapan pagi. Matahari sudah tinggi. Sinarnya menerpa kulit pipi Haidar.
"Sudah pagi." Bergumam. Dia mengusap kepalanya yang terasa berdenyut. Memijatnya perlahan.
Haidar kemudian bangkit untuk mandi. Dia ingat ada meeting di jam sepuluh nanti. Di dalam kamar mandi Haidar menatap dirinya di cermin, merasa ada yang memberati matanya.
Betapa terkejutnya dia melihat wajahnya. Matanya bengkak, merah.
"Astaga.... Bagaimana ini? Apa karena semalam aku minum wiski?" Gumam Haidar. Dia yang biasanya hanya minum wine pun sudah tidak tahan, semalam di paksa minum wiski. Masih untung dia bisa pulang.
"Apa aku alergi wiski?" bergumam lagi. Dia lantas membuka kran air dan membasuh wajahnya.
...***...
"Apa kamu yakin?" tanya mama. Mereka sudah berada di depan pengadilan agama. Mama menatap putrinya yang sebentar lagi akan bergelar janda. Meski janda perawan tapi tetap saja janda di mata masyarakat... Akh tidak bisa membayangkannya.
__ADS_1
"Aku yakin Ma. Lebih cepat lebih baik. Menunggu Haidar kapan dia akan mengurusi hal seperti ini? Yumna cuma gak ingin terjebak lagi, Ma." ucap Yumna lirih.
Mama mengangguk. Kali ini dia tidak mau memaksakan lagi kehendak pada puttrinya. Dia sudah besar apapun keputusannya dia pasti sudah memikirkan konsekuensinya.
"Ya sudah, Ayo." Mama dan Yumna kemudian melangkah ke dalam sana.
Yumna menatap berkas yang sudah ada di tangannya. Dia merasa tak percaya akan mendapatkan gelar lain semuda ini.
"Huftt...." bahkan mama juga bisa mendengar keluhan Yumna. Mama mengusap bahu Yumna pelan.
"Ayo kita pulang." ajak mama. Yumna mengangguk. Mereka kemudian pulang ke rumah.
...***...
"Pagi, Pak." Tina berdiri menyambut bosnya yang baru saja datang.
"Hemmm..." seperti biasa, hanya itu jawaban dari bos yang akhir-akhir ini mulai menyebalkan. Entah kenapa sikap bosnya di dua minggu terakhir ini seperti angin. Kadang adem, kadang seperti ngajak ribut.
"Baik, Pak." ucap Tina patuh. Tumben biasanya gak pernah ngopi. Tapi ya sudahlah, mudah-mudahan dia gak marah-marah lagi seperti kemarin.
Haidar duduk di kursi kebesaranya. Dia mengeluarkan hpnya dari dalam saku bajunya. Bangun tidur tadi belum sempat menyapa kekasihnya.
Dia terdiam, menatap hpnya tak percaya. Ada nama Yumna di salah satu riwayat panggilannya. Dan dia yang menelfonnya? Jam satu malam? Tapi dia tidak ingat.
Haidar menekan layar. Hampir lima menit. Mereka membicarakan apa?
Gue kira semalam mimpi denger suara Yumna, ternyata itu real? batin Haidar. Apa yang mereka bicarakan semalam Haidar tidak ingat sama sekali.
__ADS_1
Dia tertegun mencoba mengingat. Tapi tidak bisa. Dia hanya ingat semalam dia bertanya 'elo kangen gue?' ah sial....
Gue bicara apa aja semalam? Jangan-jangan bicara yang aneh-aneh. Akh gue harus tanya dia nanti.
Baru saja Haidar mencari kontak Vio, hpnya menyala dengan gambar Yumna.
Tak sadar dia tersenyum melihat wajah Yumna yang kini memenuhi layar hpnya.
Dia masih saja pakai kacamata?
Haidar lalu menggeserkan ikon hijau itu ke atas.
"Hai. Ada apa elo telfon gue. Kangen ya?" Tanya Haidar dengan nada jahilnya. Dia tersenyum lebar, sebentar lagi pasti yumna akan mengelak dengan setengah berteriak di ujung sana.
Senyum itu memudar. "Apa elo bilang?" tanya Haidar dengan seruan. urat-urat di wajahnya sudah terlihat membiru dengan gigi saling menyatu bergemeletuk.
'Gue udah daftarin perceraian kita di pengadilan agama. Elo tinggal tunggu aja kurir yang antar dokumen, mungkin hari ini atau besok. Gue kirim ke alamat kantor elo,'
Haidar terdiam. Rasa tak terima kini muncul di dalam hatinya. Tak terima karena apa? Apa karena Yumna yang menggugatnya? Entah lah... Dia merasa tak terima.
.
.
.
__ADS_1
.
Nah loh Haidar....