
Seorang pria keluar dari dalam rumah itu terkejut dengan siapa yang dia lihat. Sama dengan Yumna, tak menyangka pria yang di temuinya beberapa hari yang lalu kini ada di dalam rumah itu dengan menggunakan celemek yang ada di tubuhnya.
"Yumna!" seru Juan dengan menunjuk ke arah Yumna.
"Kak Juan. Kok bisa ada di sini?" tanya Yumna dengan bingung.
Tia yang juga bingung dengan keduanya angkat bicara. "Kalian sudah kenal?" tanya Tia. Juan mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
"Kami pernah bertemu di Surabaya." jawab Juan.
"Surabaya?" tanya Tia bingung. "Kok bisa?" sambungnya.
"Bisa. Namanya juga tidak ada yang tidak mungkin. Kamu kenal dengan Yumna?" tanya Juan kepada Tia.
"Dia ini sahabat aku sedari SMP. Eh masuk dulu deh, masa ada tamu di biarkan di luar." Tia tersenyum malu. Lupa untuk menyuruh Yumna masuk ke dalam sana.
"Kalian ni kok bisa kenal?" Yumna kini bertanya seraya masuk ke dalam rumah.
"Kak Juan ini sepupuku."
"Aku gak tau kalau kalian sepupuan, Kamu gak pernah cerita sama aku, Tia" ucap Yumna. Seingatnya Tia memang tidak pernah bercerita apapun soal Juan sedari dulu.
"Oh, gak pernah ya. Mungkin karena dia gak penting makanya aku gak pernah cerita." jawab Tia yang membuat Juan melotot ke arahnya dengan kesal. Tia yang mendapat pelototan itu meringis tersenyum sambil memperlihatkan kedua jarinya berbentuk V.
"Tega sekali kamu ini, sepupu paling ganteng gak peting buat kamu? Cih, menyebalkan!"Juan berlalu pergi dari sana dengan keadaan kesal. Dia berjalan ke arah dapur untuk melakukan kegiatannya yang belum selesai.
"Itu beneran sepupu kamu?" bisik Yumna padaTia. Tia menganggukkan kepalanya.
"Iya, dia sepupu paling menyebalkan yang aku punya, meskipun dia memang yang paling ganteng diantara yang lainnya." Tia berdecak dengan kesal. Dia menggamit lengan Yumna untuk ikut masuk ke area dapur. Terlihat disana Juan sedang sibuk menghias kue yang ada di meja pantry. Yumna sempat melongo tak percaya dengan apa yang dia lihat. Juan yang selama ini dia lihat dengan pakaian kerja, jas rapi dan rambut kaku, kini pakai ccelemek dan juga wajah belepotan karena krim kue.
"Kalian mau coba? tapi nanti setelah aku menyelesaikan ini!" tanya Juan saat keduanya mendekat ke arahnya. Yumna dan Tia duduk di kurs tinggi yang ada di hadapan Juan, sedangkan pria itu masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
Juan terlihat sangat fokus dengan apa yang dia kerjakan membuat Yumna tak henti memandangi tangan yang kini tengah bergerak di atas kue.
Tia tersenyum melihat Yumna yang terpaku mematung seperti itu.
"Dia hebat, kan? Padahal dia tidak pernah kursus membuat kue atau kursus memasak, tapi masakan dia sangat enak. Aku pun kalah." Tia memuji, tapi dia juga mencebik kesal karena kalah dari seorang pria.
__ADS_1
"Beneran?" tanya Yumna. Tia hanya mengangguk.
"Kalau kamu gak percaya coba saja nanti masakan dia. Hihi ... kita bakalan jadi wanita yang insecure," ucap Tia dengan mengerucutkan bibinya.
"Itu karena kamu gak pernah serius dalam memasak, Kamu juga gak mau sering belajar, padahal memasak itu penting suapaya suami kalian gak akan sering makan di luar." Juan yang mendegar ucapan sepupunya itu berkata.
"Suamiku betah di rumah meski aku gak pinter masak. Kalian para lelaki jangan hanya inginkan istri pandai memasak. Tidakkah cukup hanya memberikan kasih sayang dan juga perhatian?'' Tia tiba-tiba terdiam, dia sadar akan sesatu. Sahabat yang kini duduk di sampingnya ini kini sendiri, baru bercerai beberapa bulan yang lalu.
Tia menoleh ke arah Yumna. Yuna terlihat diam dengan bahasan yang tadi baru saja ia dengar. "Maaf yumna, Aku bicara gak lihat sikon." Tia merasa bersalah dengan diamnya Yumna. Yumna menggelengkan kepalanya. Dia diam bukan karena ucapan Tia barusan, tapi dia memikirkan kandasnya hubungan dirinya dengan Haidar yang tanpa cinta.
"Gak apa. Aku gak apa-apa kok. Jangan meminta maaf sperti itu." Yumna tersenyum.
"Kalian mau aku masakkan apa untuk makan siang ini?" tanya Juan.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Aku sudah makan tadi dengan papa. Terima kasih," ucap Yumna dengan senyum lebar di bibirnya.
Juan menganggukkan kepalanya, dia lalu segera menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Selesai," seru Juan saat semua yang di lakukannya sudah selesai.
Tia dan Yumna takjub dengan apa yang ada di hadapan mereka. Kue yang di buat Juan sangat indah dan dengan hiasan bunga mawar putih dan juga pink yang cantik.
"Eh ngomong-ngomong, ini ada yang ulang tahun kah?" tanya Yumna, tapi seingatnya Tia tidak ulang tahun di tanggal ini, masih sekitar dua bulan lagi sahabatnya itu bertambah tahun di hari kelahirannya.
"Tidak, Tia mengidam ingin aku buatkan kue ini." Juan menjawab. Yumna menatap Tia dengan kaget.
"Kamu hamil?" tanya Yumna dengan senang. Tia menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.
"Selamat!" Yumna memeluk Tia dengan erat, dia sangat bahagia mendengar kabar ini. Hampir satu tahun Tia menikah, tidak menyangka akhirnya dia akan segera memiliki bayi.
"Selamat Tia. Aku ikut senang."
Kedua sahabat itu akhirnya hanyut dalam rasa bahagia. Juan merasa senang melihat kedua wanita itu.
Tak lama Yumna ada disana karena Bima menghubunginya untuk kembali ke kantor. Yumna pamit kepada sahabatnya itu.
"Aku antar saja, aku juga sekalian akan pulang." Juan menawarkan diri.
__ADS_1
"Eh, apa tidak apa-apa? Tidak merepotkan? Arah kita kan berbeda." Yumna merasa tidak enak hati dengan tawaran itu.
"Tidak apa-apa, aku juga ada urusan di sekitar sana."
"Iya, Na. Lebih baik kamu diantar Juan saja. Dia gak akan merasa kerepotan kok, anggap saja dia sopir ku yang mengantarkan kamu kembali ke perusahaan." Tia bicara dengan mulut penuh cake. Juan mendelik sebal. Sepupunya ini memang terkadang menyebalkan. Jika saja mamanya tidak bilang dengan kepulangannya pada wanita ini, Juan pasti sekarang ini masih asyik rebahan di kasurnya yang empuk.
'Juan, buatkan keponakanmu cake stroberi.' begitulah saat tadi pagi dia mengangkat teleponnya dari Tia. Mau tidak mau akhirnya dia datang dan membuatkan cake untuk sepupunya ini.
"Ayo, kita tinggalkan saja wanita rakus ini." Juan meminta Yumna untuk ikut dengannya. Tia yang mendengar itu hanya cuek saja, tidak menggubris ucapan kejam sepupunya ini
"Tia, ingat jangan kamu habiskan semua siang ini. Sisakan untuk besok, kamu akan cepat gendut kalau tidak menjaga pola makan mu dengan benar." Juan memperingatkan.
"Hem...." hanya itu jawaban yang Tia berikan.
"Dah yumna. Kamu yakin gak mau bekal ini untuk di kantor?" tanya Tia menawarkan.
"Tidak, terima kasih. Sudah cukup tadi aku makan." Yumna menolak. "Aku kembali ke kantor ya. Ingat untuk perhatikan makananmu Tia," ucap yumna lalu pergi dari saat setelah mendapatkan acungan jempol dari sahabatnya itu.
"Ayo." Juan mengajak yumna untuk meninggalkan Tia, Yumna menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Juan ke arah luar. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.
"Yang tadi itu, maaf ya." Juan meminta maaf, membuat Yumna menoleh bingung ke arah pria itu.
"Yang mana?" tanya Yumna.
"Soal tadi pembicaraan ...."
"Oh, yang itu ... tidak apa-apa. Kamu memang benar soal wanita harus pintar memasak." Yumna tertawa kecil.
"Maaf, aku gak bermaksud untuk menyinggung soal itu."
"Sudah aku bilang tidak apa-apa. Jangan di pikirkan lagi." Yumna tersenyum kali ini.
Juan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan.
"Oh ya, Yumna. Aku boleh bicara sesuatu sama kamu?" tanya Juan dengan lirih.
"Apa?"
__ADS_1
"Kalau kamu izinkan, aku ... aku ingin mengejar kamu."