YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
367


__ADS_3

Seseorang masuk ke dalam ruangan, tampak seorang pemuda tersenyum dan menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali. Rasanya malu karena dia telah melakukan hal yang bodoh, gara-gara mengikuti seseorang membuatnya kehilangan jejak sang ibu.


"Maaf, nyasar tadi," ucapnya malu. Yumna menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang seperti itu.


"Ckckckm sudah kayak Syifa aja. Pake nyasar segala," ujar sang ibu.


"Kayaknya tadi lihat cewek tuh, bikin salfok. Kakak bilangin sama Iriana loh," tunjuk sang kakak tepat pada wajah adiknya.


"Eh, jangan, Kak. Bukan cewek kok, tapi tadi lihat ada anak kecil aja lagi sakit, jadi tadi meleng dikit, Eh Mama malah udah nggak ada," ucap pemuda itu cepat. "Kakak mau lahiran ya?" tanya Azkhan. Yumna menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kata dokter sih ini tandanya," ujar Yumna.


"Wah, bentar lagi aku bisa lihat para ponakan, dong." Azkhan tertawa kecil, tak sabar rasanya untuk melihat dan menggendong keponakannya.


"Iya. Eh, Mama lupa kasih tahu Papa. Kamu telepon deh Papa, suruh datang ke sini. Papa pasti bakalan seneng banget kalau nungguin cucunya lahiran," perintah Yumna. Azkhan mengangguk dan segera menghubungi ayahnya yang masih berada di kantor.


Bima yang mendapatkan panggilan dari anak bungsunya terkejut dan tersenyum senang. Penantian selama ini akhirnya datang juga. Meeting yang sedang berjalan Bima bubarkan demi kelahiran cucunya kali ini.


Ruangan Yumna kini penuh dengan orang, selain Keluarga Mahendra, juga Mitha dan Arya berada di sana. Ruangan itu penuh, dengan adanya banyak orang di sana membuat suasana sangat ramai.

__ADS_1


"Kakak. Kok nggak telepon aku kalau mau lahiran?" tanya Syifa dengan bibir yang manyun. Sudah lama dia menunggu, jangan sampai melewatkan kejadian ini. Dia yang akan lebih dulu melihat bayi-bayi itu dibanding kedua adik kembarnya.


"Kakak kamu aja nggak telepon Mama. Mami Mitha tuh yang telepon Mama. Coba kalau Mami nggak telpon. Kan Mama nggak akan tau," tukas Lily sebal. Yumna hanya tersenyum kecil. Ini yang tidak dia harapkan, belum lahiran, tapi keadaan sudah ramai seperti ini. Membuatnya tidak bisa konsentrasi.


"Sengaja, Ma. Mama kan suka riweuh, repot sendiri kalau ada apa-apa, tuh," ujar Yumna. Lily mendekat dan memeluk Yumna dengan sayang.


"Itu kan karena Mama tuh sayang banget sama kamu. Mama nggak mau kamu apa-apa sendirian. Kan ada Mama dan Papa," ucap Lily penuh haru. Bahkan, tadi Mitha berkata jika Yumna juga tidak menghubunginya, hanya Haidar yang meminta untuk dibelikan pakaian. Yumna balas memeluk sang ibu.


"Maaf, Yumna cuma nggak mau bikin yang lain panik. Biar tadinya aku mau bilang nanti aja kalau sudah lahiran kasihi kabarnya. Eh, malah Haidar telepon sama Mami," ucap Yumna melirik sebal pada suaminya.

__ADS_1


Haidar tersenyum meringis. "Aku kan cuma telepon Mami aja, nggak yang lain, kok," jawab Haidar dengan cepat. Lily merasa sebal mendengar keterangan Haidar, seakan dia sudah tidak ada hak dengan putrinya.


"Oh, jadi nggak penting ya telepon Mama?" tanya Lily kesal memuat Haidar ketakutan.


__ADS_2