
Haidar hanya diam menatap kepergian Yumna. Gadis itu bahkan tidak menoleh sama sekali hingga pintu itu tertutup rapat. Padahal itu hal yang Haidar inginkan.
Dia terduduk di tepi kasurnya, menopang kedua tangannya dengan lututnya. Fikirannya kacau. Kertas perjanjian yang tadi di lempar Yumna hanya teronggok begitu saja di lantai tanpa mau ia ambil.
Di remasnya kepalanya yang pening. Nyatanya kepergian Yumna membuat dia merasa bodoh, tapi dia juga tak lantas mengejar gadis itu.
'Biarlah. Kalau memang itu yang dia inginkan!'
Yumna menuruni tangga satu persatu. Dia mengangkat kopernya dengan susah payah. Mami Mitha menghampirinya saat dia sudah sampai di lantai bawah.
"Mau kemana, Yumna?!" Mitha menahan tangan Yumna. Sepertinya masalah mereka kali ini gawat sampai-sampai Yumna membawa serta koper miliknya.
"Maaf, Mi. Yumna gak bisa lagi sama Haidar. Yumna pamit ya, Mi. Tolong bilangin sama Papi, Yumna minta maaf!" pamit Yumna.
Mitha menahan tangan Yumna dengan erat. Dia sungguh tak rela Yumna meninggalkan dia. Masih banyak yang belum mereka lakukan bersama-sama. Ke salon misalnya. Belanja bersama, hingga liburan keluarga! Bahkan dia masih belum punya foto satu keluarga selain saat Haidar dan Yumna menikah dulu.
"Yumna, Mami mohon. Apa tidak bisa kalian bicarakan lagi? Apa tidak bisa kalian baikan saja?" tanya Mitha penuh harap.
Mata Yumna memanas. Lagi-lagi tak tahan dengan wajah memelas mami. Yumna hanya diam. Rasanya sedih sekali melihat Mami sampai memohon seperti itu.
__ADS_1
"Maaf, Mi. Yumna gak bisa lagi. Maafkan Yumna. Lebih baik sekarang kami menenangkan diri masing-masing." ucap Yumna lalu melepaskan tangan Mitha darinya.
"Tapi setelah ini kamu dan Haidar akan baikan, kan?" tanya Mitha.
Yumna bingung untuk menjawab. Tapi kemudian dia hanya tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.
"Yumna, enggak. Mami gak izinin kamu pergi!" Mitha dengan uraian air mata.
"Maaf, Mi. Maafin, Yumna. Yumna pergi, ya." Tak ingin dia menjadi berubah fikiran, Yumna melepaskan tangan Mitha. Dan kemudian pergi dari sana.
"Yumna!" teriak Mitha. Tapi gadis itu tidak berhenti bahkan tidak menoleh sama sekali. Dia ingin mengejar Yumna. Tapi urung ia lakukan. Dia lebih memilih pergi ke lantai atas, akan ia minta Haidar untuk menjemput Yumna kembali.
Yumna berjalan ke garasi mobil. Dia membuka pintu mobil Fortuner miliknya, yang Haidar berikan padanya. Jika dia menunggu taksi, tentu akan lama dan Mami Mitha bisa saja menyeretnya kembali kesana. Biarlah, akan ia kembalikan mobil itu besok atau lusa.
Mitha sampai di kamar Haidar. Terlihat pria itu masih duduk seperti tadi, dia menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada kakinya. Terlihat pemuda itu sedang gusar.
"Haidar!" teriak Mitha, tak lantas membuat Haidar mengangkat pandangannya dari lantai.
Dengan dada yang meletup-letup hampir meledak, Mitha mendekati putranya.
__ADS_1
"Yumna pergi dan kamu diam saja disini?!" tunjuk Mitha ke arah luar. Haidar hanya terdiam. Dia bingung harus melakukan apa. Nyatanya Yumna memang bukan siapa-siapa di dalam hatinya meski di dunia yang nyata dia adalah istrinya!
"Haidar!!" pekik Mitha tak percaya putranya itu hanya bergeming di tempatnya.
"Haidar, jawab Mami! Cepat susul Yumna!" teriak Mitha tak sabar, dia menggoyangkan bahu Haidar keras, tapi anak itu hanya diam membuang pandangannya ke arah lain.
"Mami gak tahu kalian punya masalah apa. Tapi Mami gak mau Yumna pergi dari sini.
Haidar menghela nafasnya lelah. Dia harus bagaimana sekarang? Memaksa Yumna tinggal lagi bersama dirinya?!
Mitha tak sengaja melihat selembar kertas di lantai, dia mendekat dan mengambilnya.
Perjanjian Kontrak Pranikah?
Mitha membaca sekilas tulisan di atas itu, tentu saja menarik perhatian karena di bawahnya ada tanda tangan bermaterai atas nama Yumna dan .... Haidar!
Mitha menatap tajam Haidar. Tangannya bergetar seketika.
"A-apa ... maksudnya ini?"
__ADS_1