
Satu jam yang lalu, Haidar sampai di kantor. Dia duduk dengan santai di kursi kebesarannya. Duduk bersandar di kursi lalu berputar-putar ke kanan dan ke kiri. Pekerjaannya sudah di selesaikan oleh sang papa, membuat dia hari ini menjadi sedikit longgar.
Suara hpnya berdering. Haidar menarik laci meja dan melihat hpnya yang menyala dan mati.
Senyumnya mengembang seketika.
"Iya, sayang!" sapanya ketika mendengar suara manis nan manja di sebebarng sana.
"Oke! Aku juga sedang santai sekarang. Aku akan kesana!"
Klik.
Hp dia matikan, Haidar segera mengyambar jas yang tadi ia gantungkan dan segera melangkah dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Haidar terus melangkah melewati Tina sekretasrisnya yang terheran lalu segera menyusul langkah Haidar.
"Pak ... Pak ... Bapak mau kemana? Ini banyak yang harus bapak tandatangani!" Tina terus memburu Haidar dengan langkah terseok-seok. Ia menyesali sepatu heels di kakinya. Rasanya ia ingin melemparkan sepatu itu dan bertelanjang kaki saja.
"Saya ada urusan sebentar. Kalau ada yang cari saya bilang saja kalau saya keluar. Berkas yang harus saya tandatangani simpan saja di meja." ucap Haidar lalu semakin cepat melangkah meninggalkan Tina yang kini bermuka masam.
"Dasar bos, seenaknya saja! Bisa tidak sih dia profesional seperti Pak Arya? Mendingan bos nya Pak Arya selalu ontime dan profesional. Lah dia, kerja seenak jidat. Bener-bener anak sama bapak beda jauh!" Tina dengan kesal melepas sepatunya, dia tidak peduli dengan kakinya yang kedinginan akibat lantai marmer perusahaan.
Haidar melajukan mobilnya di jalanan yang padat. Wajahnya penuh senyuman. Hari ini Vio meminta dia untuk bertemu.
Tiga puluh menit kemudian, Haidar sudah sampai di studio tempat Vio baru saja selesai melakukan sesi fotonya.
"Hai!" seikat bunga ia berikan pada Vio. Vio tersenyum senang menerima buket bunga yang Haidar bawakan.
"Kamu sudah pulang, kenapa tidak minta aku yang jemput?" tanya Haidar seraya mencium pucuk kepala Vio.
"Aku pulangnya malam, takut kamu sudah tidur jadi aku gak berani ganggu kamu. Kamu kan calon suamiku yang tersibuk di dunia!" Vio mencubit pipi Haidar dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Haidar mendekatkan wajahnya pada Vio dan mengecup bibir wanita itu sekilas. Tak peduli dengan kehadiran asisten Vio yang sedang membereskan semua barang-barang nona-nya tersebut. Sampai dia merasa geram sendiri.
"Aku akan keluar. Kalau ada apa-apa telfon aku!" ucapnya. Vio tak peduli, dia hanya menggerakkan tangannya. Asisten itupun keluar dari sana dengan perasaan kesal.
Dua orang itu benar-benar keterlaluan! Tidakkah mereka mempertimbangkan perasaanku?
Suasana semakin panas di ruangan itu, suara decapan terdengar dari keduanya.
"Sudah Vi. Aku lapar!" Haidar menarik dirinya dari Vio, membuat wanita itu lagi-lagi kecewa.
"Ayo makan siang bersama. Aku lapar, tadi pagi belum sarapan!" Haidar menarik tangan Vio keluar.
Darah Haidar sudah bergejolak panas, maka dari itu dia harus menyudahi permainannya.
Darah Haidar sudah bergejolak panas, maka dari itu dia harus menyudahi permainannya. Takut jika dia akan memaksa Vio melakukan hal yang dilakukan orang dewasa yang akan mengolah keringatnya.
Vio mengerucut sebal. Lagi-lagi Haidar menolaknya, dia tahu itu. Vio tahu jelas saat dimana laki-laki sedang ingin. Tapi kenapa Haidar selalu menahan dirinya?
Mereka makan siang bersama di kafe yang berada tak jauh dari sana tanpa mereka tahu ada seseorang yang melihat kehadiran mereka bersama disana.
...***...
Setelah kenyang dengan tiga potong pisang goreng Yumna memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Hari ini terasa membosankan, apalagi dia tidak diperbolehkan membantu pekerjaan rumah.
Yumna hanya berbaring sambil menonton drama korea yang belum sempat ia selesaikan beberapa hari yang lalu.
Tring. Hpnya berbunyi. Dengan malas Yumna melirik ke arah sana. Tapi kemudian tidak ia hiraukan.
Tring. Satu lagi pesan. Kali ini dia mengambilnya dan membaca pesannya.
Saat hendak membalas pesan, hpnya tiba-tiba berbunyi. Panggilan masuk. Yumna segera mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Kamu ada disini?"
"Oke, aku akan segera bersiap!"
Yumna segera melempar hpnya setelah panggilan di matikan. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah mengganti baju Yumna bersiap untuk pergi.
"Bi, aku mau pergi keluar dulu ya. Kalau mami nanti pulang dan tanya bilangin aja ketemu teman." ucap Yumna pada Bi Nah yang sedang di dapur.
"Mbak gak makan siang dulu? Belum makan nasi loh!" peringat Bi Nah.
"Nanti di luar saja. Yumna berangkat ya, bi." Yumna segera keluar sembari berlari kecil membuat yang melihat sedikit khawatir.
Yumna mengendarai mobilnya. Tepatnya mobil yang Haidar belikan bulan lalu untuk Yumna.
Dengan senyum tercetak di bibirnya Yumna mengendarai mobilnya ke sebuah kafe yang sudah mereka sepakati.
Tak sampai satu jam, Yumna telah sampai di tempat yang dituju. Dia segera mencari keberadaan si penelfon.
"Yumna!" teriak salah seorang wanita yang berdiri dari mejanya. Dia melambaikan tangannya pada Yumna, sedangkan seorang pria di sampingnya menutup wajahnya, malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Duduk saja. Jangan teriak seperti itu. Malu!" Seno menarik ujung lengan baju Tia.
"Ih, kalau gak teriak Yumna gak tahu kalau kita disini!" Tia menepis tangan Seno.
Yumna mendekat ke arah mereka, dia memeluk Tia melepas rindu yang telah menggunung. Padahal baru satu bulan mereka tidak bertemu.
"Apa kabar, Yumna?" tanya Seno yang menerima uluran tangan Yumna.
"Baik. Katanya minggu depan datang kesini!"
"Aku mempercepat kedatanganku. Ada hal lain yang harus aku urus!" jawab Seno.
"Huhh... kebiasaan!" Seno mendelik pada Tia. Tia hanya menjulurkan lidahnya.
"Salah sendiri kamu menghilang sudah beberapa tahun. Ini masih belum sebanding sama hilangnya waktu kebersamaan kita!" ucap Tia, dia melambaikan tangannya pada seorang pegawai yang langsung mendekat ke arahnya.
Mereka makan sambil mengobrol ringan. Menanyakan ini dan itu. Membahas A–Z.
Tiba-tiba saja Tia berdiri di tengah perbincangan mereka. Yumna dan Seno menatap Tia.
"Aku mau ke toilet sebentar. Tidak tahan!" ucap Tia lalu dengan cepat pergi ke toilet meninggalkan mereka berdua. Yumna dan Seno menggelengkan kepala mereka bersamaan. Tia ... Tia. Kebiasaan!
Yumna dan seno menlanjutkan acara mereka berdua sambil terus menikmati makanannya. Sampai saat Yumna merubah raut wajahnya ketika melihat seseorang yang baru saja datang dengan wanita yang menggelayut manja di lengan suaminya!
Suaminya!
Tiba-tiba saja Yumna merasa kesal. Ucapan Haidar yang tadi dia ucapkan di dapur terasa sangat manis, tapi apa nyatanya sekarang? Dia sedang berduaan dengan pacarnya disini makan siang dengan riang dan bahagia.
Tanpa sadar Yumna mengeratkan pegangan pada sendoknya.
'Sadar Yumna. Bukankah kamu juga tahu apa posisi kamu dengan Haidar! Dia hanya sementara. Jangan menaruh harapan pada laki-laki itu!'
Yumna mengambil sendoknya dan memakan makanan di piringnya dengan kesal. Bagaimanapun dia mencoba menyadarkan dirinya tapi entah kenapa dalam hatinya dia merasa sesuatu sedang mencubitnya.
"Makan hati-hati. Pelan-pelan!" ucap Seno yang melihat suasana hati Yumna yang tiba-tiba saja buruk.
Yumna tersenyum pada pria itu. Lalu tersedak saat melihat Haidar menyuapi dan mengusap sudut bibir Vio dengan lembut.
Uhuk.. Uhuk...
Yumna terbatuk. Dia mengelus lehernya yang terasa perih. Seno segera mengambil air dan membantu Yumna minum, dia juga menepuk pelan pundak Yumna.
__ADS_1
"Pelan-pelan dong makannya! Kamu itu kenapa sih? Lagian aku juga gak ngajak kamu buru-buru!" ucapnya khawatir masih membantu menepuk pundak Yumna pelan.
"Trimakasih!" ucap Yumna.
"Sebentar ..." Seno mengambil sapu tangannya dan mengusap sudut bibir Yumna yang basah. Yumna terdiam mematung karenanya.
"Sudah." Seno kembali menyimpan sapu tangan ke dalam saku bajunya.
Haidar yang tak sengaja mendengar seseorang tersedak menoleh dan hanya bisa terdiam melihat istrinya di perlakuan sedemikian rupa oleh pria lain.
Dalam persepsinya. Haidar melihat Yumna sedang tersenyum mesra dan saling bertatapan pada Seno yang sedang menyusut bibirnya dengan sapu tangan. Bunga-bunga bermunculan di sekeliling mereka.
Hatinya terasa terbakar, padahal tak ada api di sekitarnya. Dia ingat betul lelaki itu. Pria yang sama yang Yumna temui di Lombok beberapa hari yang lalu.
Kemarin di Lombok, sekarang dia menyusul kesini. Apa mau dia! Tak tahan sampai dia mengeratkan pegangan pada sendoknya.
Dadanya bergemuruh, nafasnya serasa sesak. Otaknya sudah tidak bisa ia pakai untuk berfikir.
Dia segera bangkit berdiri dan mendekat ke arah Yumna.
"Haidar! Kamu mau kemana?" teriak Vio memanggil Haidar. Namun yang di panggil seperti tuli dan terus saja berjalan ke arah sang istri.
Grep!
Haidar mencengkeram tangan Yumna dan menariknya hingga gadis itu terkejut dan berdiri.
"Ha ..., Haidar?!" Yumna tergagap. Bukan karena dia ketahuan sedang bersama pria lain, tapi tidak menyangka kalau dia akan meninggalkan Vio dan menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan dengan pria ini?!" geram Haidar marah.
Seno bangkit dari duduknya dan mencoba melepaskan tangan Haidar dari Yumna. Gadis itu terlihat kesakitan.
"Tolong lepaskan tangan Anda. Anda jangan berbuat kasar pada wanita!" pinta Seno baik-baik.
"Kasar? Aku sedang menyelamatkan istriku dari pria seperti kamu!" tunjuk Haidar pada Seno. Beberapa orang melihat kegaduhan yang terjadi di dekat mereka dan mulai berbisik.
"Maaf, Tuan. Sepertinya anda salah faham. Kami ...."
Bugh!!!
Satu pukulan mendarat di pipi Seno dengan keras hingga pria itu terhuyung dan hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada meja. Ini kedua kalinya dia menerima pukulan keras dari Haidar setelah yang pertama beberapa hari gang lalu di bukit pada saat malam tahun baru.
"Haidar! Apa yang kamu lakukan! Hentikan. Kamu salah faham. Aku disini juga sama ..." jerit Yumna, dia mendekati Seno ingin membantunya, tapi tangannya di tahan Haidar. Haidar menariknya dengan keras, membuat Yumna memekik kesakitan.
"Salah faham apa?!" teriak Haidar memotong ucapan Yumna. Dia berteriak tepat di depan wajah Yumna.
"Kamu salah faham. Kami bukan ..."
"Waktu kita honeymoon di Lombok dia ada. Dan sekarang dia bersusah payah menyusul kamu disini, apa namanya salah faham, huhh?!!" teriak Haidar murka.
"Ini bukan seperti yang kamu fikirin, Haidar. Lepaskan aku!" Yumna mencoba melepaskan diri dari Haidar. tapi pria itu semakin erat memegangi pergelangan tangannya.
"Tidak usah mengelak lagi, Yumna! Apa kamu tidak tahu laki-laki seperti apa dia yang mengikuti kamu dari sana sampai kesini?!"
"Kamu!!" teriak Haidar sambil menunjuk pada Seno. "Mulai sekarang dan seterusnya. Jauhi Yumna! Dia istriku! Milikku!"
Haidar membawa Yumna pergi, tanpa menghiraukan orang yang kini terdiam menatapnya dari meja.
Hatinya terasa sakit. Sepertinya Haidar yang sekarang tidak seperti Haidar yang dulu yang akan memprioritaskan dirinya.
Vio tersenyum geli. Dia tak percaya ini. Lebih dari sepuluh tahun mengenal baik Haidar, dan dia sekarang tahu bagaimana kira-kira perasaan pria itu
Jauhi Yumna! Dia istriku! Milikku!
__ADS_1
Hati Haidar perlahan mulai bercabang!