
Sementara itu di kantor Yumna.
"Enak! Lagi dong!" Yumna merebut kantong plastik di tangan Rania, mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan dengan banyak minyak tersebut.
"Awas nanti gendut loh banyak-banyak!" tutur Rania, dia juga sama menikmati makanan tersebut di tangannya lalu mengambil tisu dan mengelap tangan dan mulutnya.
"Laper, apa doyan?"
"Hehe..." Yumna menyengir ria, dia terus mengunyah dan menikmati makanannya.
Rania menyipitkan matanya, mendekat, lalu menghalau rambut Yumna, tak biasanya Yumna mengurai rambutnya. Dia tersenyum melihat warna merah di leher Yumna.
"Pantes lahap banget. Cape ya semalam habis ehemm-ehemm. Model apa yang semalem di pakai?" Rania menaik turunkan alisnya dengam senyum menggoda.
"Ish, apaan sih!" Yumna menepis tangan Rania, wajahnya merah karena malu. Kembali merapikan rambutnya menutupi warna merah di lehernya.
'Masa aku harus bilang ini karena kambing guling?!'
...β β β ...
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya Yumna untuk pulang. Dia menunggu bersama beberapa yang lain di lobi. Tak berapa lama Haidar datang menjemputnya.
"Gue kira gak akan datang!" Yumna duduk dan memasangkan seat belt di tubuhnya.
"Kan udah janji!" ucap Haidar mendelik ke arah Yumna tak suka. Seakan dirinya sudah di cap sebagai orang yang suka ingkar janji.
"Oh, gue kira cuma basa basi tadi!"
"Emang gue seburuk itu ya di mata elo?" tanya Haidar. Yumna hanya meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Haidar melajukan mobilnya ke arah jalanan yang ramai. Yumna memperhatikan ke luar jendela, orang-orang yang berjalan di luar dengan cepat tertinggal begitu saja.
"Kenapa? Tumben diem? Biasanya kayak burung beo, berisik!" Tanya Haidar yang merasakan sepi di dalam sana.
"Gak pa-pa." ucap Yumna, dia memejamkan matanya. Tubuhnya lelah. "Cuma capek aja!"
"Mau gue bawa ke dokter?" tanya Haidar, lantas dia menempelkan tangan kirinya di kening Yumna. Khawatir.
"Gue gak sakit, cuma capek!" jawab Yumna, menepis tangan Haidar. "Nyetir aja yang bener, jangan ganggu gue! Gue lagi gak mood berdebat!" Haidar menatap Yumna dengan ujung matanya. Merasa aneh dengan suasana hatinya yang melihat Yumna hanya diam.
Hampir satu jam mereka berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah. Haidar melirik ke arah Yumna yang tertidur, dan menggoyangkan bahunya.
"Yumna, sudah sampai ini!"
"Lima menit lagi, ma!" Yumna berbalik ke arahnya, matanya masih tertutup. Haidar menggelengkan kepalanya.
"Di kira aku mama?!" tapi lantas dia tersenyum melihat tingkah Yumna.
Haidar turun dari mobil, dia melangkah meninggalkan Yumna sendirian di mobil. Lalu sebelum dia membuka handle pintu...
"Kalau di tinggal, mami bisa marah!" gumamnya. Dia kembali lagi ke mobilnya, membuka pintu penumpang dan menunduk, membukakan seat belt di tubuh Yumna.
"Kenapa mesti tidur sih! Tapi kalau tidur kan tenang, cantik, beda kalau sudah bangun, bar-bar." Haidar tersenyum melihat wajah Yumna yang tenang saat dia tidur.
"Heh, Yumna. Bangun. Udah sampai di rumah nih!" menggoyangkan bahu Yumna.
"Ehmmm... udah sampai ya?" Yumna membuka matanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya masih sangat mengantuk.
"Mau turun sendiri apa gue gendong?" tanya Haidar.
"Awas!" ucap Yumna mengusir Haidar. Haidar mundur dan memberikan jalan untuk Yumna.
Yumna terhuyung, kepalanya pusing karena baru bangun tidur, dia terjatuh di samping mobil. Pantatnya mencium lantai dengan keras.
"Aawww..."
Haidar tertawa keras. Yumna menatap Haidar dengan perasaan sebal. Dia membuka satu sepatunya dan melemparnya, Haidar meloncat menghindari sepatu yang terarah padanya.
"Bukannya bantuin gue malah ketawa. Keterlaluan!" kesalnya.
"Iya-iya!" mendekat dan mengulurkan tangannya. "Lagian elo, dari tadi di bangunin, mintanya lima menit lagi! Mau gue gendong malah ngusir. Jadi jatoh kan!" ucap Haidar menarik Yumna untuk berdiri.
"Awww..." Yumna merasakan sakit pada pergelangan kakinya.
"Kenapa?" tanya Haidar lagi.
"Kaki gue. Kayaknya terkilir deh, sakit!" Yumna meringis kesakitan. Haidar menarik Yumna dan menggendongnya di depan.
"Eh, turunin!"
"Kalau kaki sakit gimana mau jalan? Udah diem. Nanti mami marah lagi sama gue kalau biarin elo jalan pincang ke dalam!" ucap Haidar.
Yumna hanya bisa diam dalam gendongan Haidar. Mereka masuk ke dalam rumah. Mitha baru saja keluar dari kamarnya.
"Loh, Haidar. Yumna, kenapa?" tanya Mitha seraya mendekat ke arah mereka berdua.
"Jatuh tadi di depan mi, kakinya terkilir." jawab Haidar.
"Bawa Yumna duduk." tunjuk Mitha ke sofa di depannya. "Bi Naaahhh!!" panggil Mitha pada salah satu asistennya. Yang di panggil datang setengah berlari.
"Iya, bu?"
"Bibi tahu tukang urut, kan? tolong panggilkan buat Yumna sekarang ya!" titah Mitha.
"Loh, mbak Yumna kenapa?" tanya Bi Nah khawatir melihat Yumna meringis kesakitan.
"Terkilir bi. Udah jangan banyak nanya, susul tukang urutnya, suruh kesini secepatnya!" ucap Mitha.
"Gak usah mi, besok juga bakalan sembuh!" tolak Yumna.
"Sembuh gimana? Yang ada malah akan tambah sakit. Udah Yumna kamu diam saja disitu, tunggu tukang urutnya datang! Bi Nah, cepat panggil malah bengong!" ujarnya kesal pada Bi Nah yang terdiam di tempatnya berdiri.
"Eh iya. Sebentar bu! Saya ambil hp dulu!"
"Loh, kok ambil hp! Ke rumahnya, cepat panggil dia!"
"Mau saya chat bu, suruh datang kesini! Sebentar ya Bu. Mbak Yumna!" Bi Nah berlari kecil ke arah belakang dimana kamarnya berada membuat Mitha melongo.
__ADS_1
"Iya, ya. Sekarang kan jamannya langsung chat! Kenapa aku lupa!" gumamnya.
"Haidar mau kemana?" tanya Mitha yang melihat Haidar akan beranjak pergi keluar.
"Ambil tas sama sepatu Yumna di luar." jawab Haidar.
Tak sampai sepuluh menit tukang urut yang panggilpun datang. Dia duduk dengan kaki Yumna di pangkuannya. Mengoleskan minyak urut hangat dan memijitnya perlahan. Yumna meringis kesakitan memegangi lengan Haidar yang duduk di sampingnya.
"Sebentar ya mbak, udah ini bakalan enakan kok!"
Krekkk!!! Memutar kaki Yumna dengan cepat.
"Awww!!!" Haidar berteriak dengan keras.
"Haidar kamu berisik deh. Yumna yang di urut kok kamu yang teriak?!" Mitha memperingatkan putranya.
"Gimana mau gak teriak mi, lihat!" tunjuk Haidar pada lengannya. Yumna menancapkan kuku panjangnya ke lengan Haidar. Sadar akan hal itu, Yumna dengan cepat menarik tangannya dari sana. Bekas kuku kemerahan terlihat seketika.
"Hehe... Sorry!" Yumna meringis meminta maaf.
"Halaaah cuma segitu aja! Belajar, kalau nanti Yumna melahirkan, bukan cuma tangan kamu saja yang lecet, rambut kamu juga bisa rontok!" tunjuk Mitha tepat di depan wajah sang putra.
Hah? Yumna dan Haidar saling menatap bersamaan.
"Sudah selesai mbak, coba berdiri. Apa masih sakit?" Yumna berdiri dan mencoba memakai kakinya. Menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, dan mencoba berjalan.
"Sudah gak sakit, bu. Sudah enakan!" jawab Yumna senang. Rasa asakitnya sudah hilang.
"Kamu enak, sudah gak sakit. Aku?" Haidar menunjukkan lengannya yang lecet.
"Maaf sayang!" Yumna duduk dan mengelus lengan Haidar lembut.
"Sakit ya?" tanya Yumna.
"He-em!" Haidar mengangguk manja.
"Huh dasar manja!" Mitha memukul belakang kepala Haidar keras. Haidar mencebik, mengelus kepalanya yang sakit. Yumna tertawa merasa lucu melihat interaksi antara ibu dan anak di depannya ini.
"Sudah. Bayar ibunya. Jangan mengumbar kemesraan di depan orang!" cerca Mita.
Yumna mengambil dompetnya, tapi ditarik oleh Haidar.
"Biar aku yang bayar, yang!" ucapnya lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah.
"Trimakasih ya, bu!" ucap Haidar. bagitupun dengan Yumna dan Mitha.
"Ini terlalu banyak, mas!" ibu itu hanya mengambil satu lembar uang dari tangan Haidar, itupun sudah lebih dari bayaran yang biasanya ia terima. Mitha merebut dua lembar yang lain dan menyerahkan paksa pada ibu tersebut.
"Sudah bu! Rejeki jangan ditolak. Nanti kalau kami butuh lagi, ibu bisa kan datang segera?"
"Iya bu, tentu!" jawabnya senang. Mengamankan uang di saku bajunya.
"Ya sudah, kalian pergi sana ke kamar, bersih-bersih!" Mitha menggerakkan tangannya. Haidar dan Yumna pamit untuk pergi ke lantai atas. Mitha mengiringi kepergian anak dan menantunya hingga sampai di lantai atas.
"Beneran elo udah gak sakit?" tanya Haidar setelah mereka sampai di dalam kamar. Drama yang mereka mainkan di hadapan sang mami sudah tidak berlaku lagi saat di dalam kamar.
"Syukur deh, jadi gue gak perlu lagi gendong elo. Berat!" ucap Haidar yang lalu mendapat pelototan dari Yumna.
"Dasar! Cuma gendong dikit aja protes. Coba kalau gendong si Vio? Pasti betah deh!" ucap Yumna lalu berjalan ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Kepala Yumna terlihat menyembul keluar dari sana.
"Heh, Haidar! Awas ya itu tas sama sepatu simpan di tempatnya!" tunjuk Yumna pada Haidar yang baru saja melemparkan sepatunya di lantai. Haidar hanya tersenyum meringis mendengar perintah sang istri, lalu bangkit dan mengambil sepatunya, dia simpan di tempatnya, begitu juga dengan tasnya. Yumna tersenyum mengangguk, lalu kembali menutup pintu kamar mandi.
"Istri gue, bawel!" gumam Haidar, ia terdiam sejenak.
"Istri?!" melirik ke arah pintu kamar mandi. Haidar mengangkat bahunya cuek.
"Kalau aja mami setuju dengan Vio pastilah saat ini aku sangat bahagia!" gumam Haidar pelan.
Yumna selesai mandi, dia keluar smbil menggosok rambutnya yang basah. Terlihat Haidar yang sedang tidur tengkurap dengan hp di tangannya, dia tersenyum senang.
'Pasti Vio lagi!'
"Heh, mandi dulu sana! Udah mau makan malam loh!" Yumna mengingatkan.
"Iya!" Haidar bangkit dan pergi ke kamar mandi. Yumna menatap hp Haidar yang masih menyala. Dia penasaran dan mulai menyentuhkan jari telunjuknya disana.
Sayang.
Sayang.
Love U.
Tanda hati.
Tanda cium.
Hueekkkk. Yumna berekspresi ingin muntah melihat semua pesan yang ada disana.
"Hihhh, ampun udah tua juga bucinnya kayak ABG!" gumamnya, lalu segera menekan tombol kembali. Dia kembali mengeringkan rambutnya sampai Haidar keluar dari kamar mandi.
Haidar keluar dari kamar mandi dan menatap Yumna yang duduk di sebelah hpnya. Dia berjalan mendekat dan mengambil hp itu. Yumna membuang wajahnya ke samping, terus menggerakkan tangannya pada handuk di kepalanya.
"Elo baca chat gue ya!" tanya Haidar, menyelidik ke arah Yumna.
"Hehh, ngapain gue baca-baca yang kayak gitu, gak penting!" ucap Yumna lalu berdiri, tak sengaja dia melihat tanda merah di dada Haidar, membuat sesuatu di hatinya terasa sakit serasa di cubit.
"Dada elo merah, tuh. Awas ketahuan mami bisa jadi bulan-bulanan, loh!" Yumna melengos ke arah lemari dan mengambil piyama panjang miliknya. Lalu menuju ke kamar mandi.
Haidar berjalan menuju cermin dan melihat dua tanda merah itu di dadanya.
"Dasar Vio, untung aja gak di leher! Bisa malu aku tadi ada meeting siang hari!" mengusap tanda merah itu.
Yumna meremas baju piyamanya dan menyimpannya dengan kesal di atas wastafel. Dadanya bergemuruh, rasanya aneh!
'Ih, ngapain sih Yumna. Biarin aja napa sih si Haidar dan si Vio mau ngapa-ngapain juga terserah mereka deh! Stop berhenti dan jangan fikirin apa yang mereka lakukan!' batin Yumna.
Jam tujuh malam Yumna dan Haidar turun untuk makan malam. Beberapa hidangan sudah tersedia disana, termasuk makanan kesukaan Yumna.
__ADS_1
"Haidar. Yumna. Kapan kalian akan pergi untuk bulan madu?"
Uhukkk...
Yumna tersedak makanannya sendiri.
Dia tahu pasti kemana arah tujuan pembicaraan ini.
"Mami udah gak sabar pengen punya cucu, Yumna, Haidar! Kalian mau ya pergi bulan madu?!"
Tuh kan!
Yumna mengambil minumannya dan menenggaknya perlahan. Tenggorokannya sakit.
"Mi, ngapain juga bulan madu, toh dimana saja pasti akan sama saja kan?! Bulan madu juga belum tentu pulang akan langsung jadi cucunya!" ucap Haidar cuek lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Haidar, kamu ini! Ya siapa tahu kan, beda suasana, beda cara langsung jadi?! Ini udah dua bulan loh Haidar!" ucap Mitha mengingat usia pernikahan putranya.
"Jangan-jangan kamu lagi yang gak mampu, Haidar?!" tunjuk Mitha dengan menggunakan garpu pada Haidar. Menatap putranya tajam.
Uhukk.!!!
Kali ini Haidar yang tersedak. Yumna dan Arya ikut menatap Haidar.
"Enak aja. Mami kalau ngomong jangan sembarangan dong!"
"Sembarangan gimana? Terakhir kali kamu pacaran sama si Vio waktu SMA itu, kamu udah lama kan gak pernah pacaran lagi? Ya siapa tahu aja kamu bohongin kita dan gak mampu sama Yumna. Kalau enggak kenapa Yumna belum juga hamil?!" cerca Mitha dengan pertanyaannya.
Yumna melirik Haidar. Memang benar Haidar tidak mampu melakukannya, tepatnya mereka tidak boleh melakukan hal yang iya-iya!
"Mami kalau gak tahu gak usah sembarangan deh! Perlu Haidar kasih bukti?" ucapnya dengan kesal. Haidar menarik kaosnya ke atas dan meletakannya dengan kasar di atas meja. Memperlihatkan tanda merah di dadanya.
"Mau bukti lagi?" Haidar menarik Yumna dan memperlihatkan tanda yang sama di leher Yumna.
"Atau kita harus bercinta di depan mami untuk membuktikan kalau aku mampu?!" tanya Haidar kesal. Siapa yang tak kesal jika di tanya seperti itu? Haidar jelas memiliki kemampuannya sebagai laki-laki, tapi dia harus tahan diri karena perjanjian yang mereka buat.
Yumna merasa malu luar biasa, dia mendorong dada Haidar, hingga pria itu hampir terjengkang.
"Haidar, apa-apaan sih gak sopan banget!" teriak Yumna.
"Ya habisnya, mami tuh yang mancing-mancing!" kesal Haidar.
"Sudah, Mami. Haidar! Kalian ini berisik! Haidar, benar kata mami, siapa tahu setelah kalian bulan madu akan ada berita bagus, kan?! Apa salahnya kalau kalian cuti dulu? Jangan terus bekerja. Perusahaan biar papi yang handle, nanti papi juga akan bilang sama papa Bima untuk mengizinkan kamu cuti!" ucap Arya pada Yumna.
"Iya pi. Kalau Yumna terserah Haidar aja!" jawab Yumna.
"Tuh denger Haidar. Yumna aja nurut apa kata mami, kenapa kamu yang anak mami malah gak pernah nurut?!" tanya Mitha.
"Terserah kalian lah!" ucap Haidar, dia terlanjur kesal dan bangkit dari sana.
"Aku sudah selesai!" lalu pergi dan tak peduli dengan Mitha yang memanggilnya.
"Mami sih! Tahu sendiri anak itu bagaimana, malah buat dia marah!" Arya menyalahkan Mitha.
"Jadi papi nyalahin mami? Emang papi gak mau gitu cepet nimang cucu?" sewot Mitha.
"Ya, mau!"
"Kalau mau, dukung dong! Jangan cuma jadi penonton aja!" ucap Mitha lalu bangkit dan pergi meninggalkan makanan di piringnya yang masih setengah.
Yumna dan papi Arya saling berpandangan. "Ibu dan anaknya. Sama!" ucap Arya. Yumna tersenyum membenarkan.
"Ya udah, papi tenangin mami. Yumna juga mau bicara sama Haidar!" ucap Yumna lalu mereka berdua pergi ke kamar masing-masing.
"Haidar!" panggil Yumna. Terlihat Haidar sedang berbaring di atas sofa, berchat ria. Dengan siapa lagi? Tentu saja dengan dia!
"Haidar!"
"Hem?!" jawabnya malas.
"Kamu marah sama mami?" tanya Yumna mendekat ke arah Haidar. Dia duduk di atas meja.
"Ya marah lah! Siapa juga yang gak marah kalau di sangka gak mampu! Kalau saja gak ada perjanjian di antara kita, tentu aku sudah buat perut kamu buncit dari kemarin!"jawab Haidar kesal.
Yumna sontak berdiri dan menjauh, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan macam-macam!" ucap Yumna.
"Hemmm, tahu kok! Lagian aku juga gak suka sama kamu! Yang aku suka ituβ"
"Vio?! Ya aku tahu, cuma Vio yang ada di mata kamu. Cuma Vio yang ada di hati kamu. Cuma Vio yang ada di hidup kamu!" ucap Yumna kesal memotong ucapan Haidar.
"Tuh tahu!" jawab Haidar, cuek. Kembali pada hpnya.
Yumna pergi dari hadapan Haidar dengan perasaan kesal. Dia melemparkan dirinya dengan kasar di atas kasur.
'Dasar Haidar nyebelin! Vio. Vio. Vio! Bosen dengernya!' Yumna menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
'Biarin aja kali. Memang dia pacarnya, apa salahnya kalau yang dia sebut Vio?'
'Hei Yumna, jangan cemburu sama dia! Kamu juga pasti akan dapatkan yang lebih baik kok!'
'Siapa juga yang cemburu? Aku enggak kok! Cuma kesel aja dia sebut nama Vio terus!'
'Iya, itu cemburu Yumna!'
"Enggak! Enak aja!" teriak Yumna seraya bangkit hingga selimutnya jatuh ke pangkuannya.
"Apa sih Yumna? Berisik deh!" Haidar berkata dari tempatnya berbaring.
Yumna merasa kikuk karena tiba-tiba berteriak sepeti itu.
"Eh, enggak. Maaf!" ucap Yumna lalu kembali menyembunyikan dirinya di dalam selimut.
Haisss. Aku kenapa lagi??!!
Yumna mencoba tidur untuk menghilangkan bisikan-bisikan yang membuat telinganya panas. Perang antara batin dan fikiran membuatnya tak nyaman.
__ADS_1