
"Kenapa diam? Apa kita akan langsung pulang?"
"Haidar!" teriak Yumna lalu menghambur ke depan dan memeluk laki-laki yang ada di belakang kemudi dengan erat. Hp yang ada di tangannya sampai terlepas dan terjatuh di kursi belakang.
Haidar yang mendapati pelukan dari Yumna tertawa kecil, sedikit terbatuk karena pelukan itu erat sehingga mencekik lehernya.
"Yumna, aku gak bisa napas!" ucap Haidar sambil menepuk tangan Yumna dengan sedikit keras beberapa kali.
Yumna tidak peduli, dia sangat rindu sekali dengan laki-laki ini. Tidak ingin melepaskan pelukannya dari Haidar, hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau melepaskan laki-laki itu.
"Hei. Kita bisa nabrak. Setidaknya aku mau pinggirin dulu mobil, baru nanti kita pelukan," ucap laki-laki itu menyadarkan Yumna.
Yumna menarik kedua tangannya, merasa malu karena Haidar tertawa dan menggodanya. "Duh, yang kangen sampai gak malu-malu peluk ayang " ujar Haidar yang sukses membuat pipi Yumna menjadi merah.
Yumna malu sekali, tapi dia juga tidak menyangka jika akan seperti tadi. Sungguh ini sebuah kejutan besar untuknya, Haidar telah kembali.
Haidar segera menepikan mobil di jalanan yang sepi. Dia melirik Yumna yang ada di kursi belakang, satu tangannya dia sandarkan pada kemudi.
__ADS_1
"Sekarang sudah berhenti, aku pasrah kalau kamu mau peluk lagi," ucap Haidar dengan kekehan di bibirnya. Senang sekali rasanya menggoda Yumna hingga menjadi malu seperti itu.
"Siapa yang mau peluk? Enggak! Tadi ... aku cuma refleks aja." Yumna tidak mau mengakui, mengalihkan kepalanya ke arah lain.
"Masa? Tapi kenapa kamu langsung peluk? Coba kalau itu bukan aku, kamu akan salah peluk orang, Yumna!" ujar Haidar kini.
Yumna meninju lengan Haidar yang tampak berotot. "Kenapa juga kamu yang bawa mobil ini? Kalau aku sampai salah peluk ya rezeki buat itu orang," ungkap Yumna. Haidar kesal mendengarnya, semudah itu Yumna berbicara. Dia menarik tangan Yumna sehingga tubuh calon istrinya itu tersentak ke depan dan segara dia tangkap ke dalam pelukannya.
"Dasar nakal! Awas saja kalau besok-besok kamu kayak gitu, sampai peluk orang lain! Aku gak akan maafkan!" ancam Haidar dengan menatap mata Yumna tajam.
"A-apa yang kamu lakukan, Haidar?" tanya Yumna dengan gugup.
"Tidak ada, aku cuma ingin lihat calon istriku aja dengan baik, dan juga ingin sedikit memberikan hukuman karena tadi bicara yang sembarangan seperi itu.
Haidar mendekat dan mencium ujung hidung Yumna dengan sekilas, membuat Yumna terkejut dengan apa yang laki-laki itu lakukan kepadanya.
"Pindah ke depan."
__ADS_1
"Eh?" Yumna tersadar.
"Kamu pindah ke depan atau aku yang pindah ke belakang?" tanya Haidar dengan senyuman nakal di bibirnya. Paham dengan maksud lain yang terkandung di dalam kalimat tersebut membuat Yumna kini melangkah dengan cepat ke depan.
"Aku aja yang pindah. Kalau kamu yang ke belakang siapa yang mau nyetir dan kapan kita akan pulang?" ujar Yumna yang juga mengandung unsur pertanyaan di dalam kalimatnya tersebut.
Haidar lagi-lagi terkekeh. "Kamu tau ternyata," ujarnya.
"Kita gak akan pulang dulu, kok." Haidar berkata kembali setelah Yumna duduk dan memasang sabuk pengaman di depan tubuhnya.
Seketika Yumna menolehkan kepalanya pada Haidar. "Eh, kita gak akan pulang?"
"Makan, yuk. Lapar nih," ajak Haidar. Yumna sempat berpikiran lain tadi, sedikit malu karena memikirkan tempat lain.
"Oh, makan? Iya, yuk makan," ucap Yumna sambil menutupi rasa canggungnya.
'Astaga! Kenapa aku jadi berpikiran kotor?'
__ADS_1