YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
335


__ADS_3

Akhirnya hari di mana Haidar dan Yumna pergi untuk berbulan madu. Segala sesuatunya telah dipersiapkan oleh mereka berdua, juga keluarga yang lain turut mengantarkan mereka ke bandara.


Sebenarnya dari kedua keluarga terlihat tidak rela melepaskan kedua orang itu, apalagi Yumna yang kini sedang mengandung. Takut dan khawatir merajai pemikiran mereka, juga karena perjalanan menuju ke negara itu dengan menggunakan pesawat lumayan lama. Hampir dua puluh satu jam perjalanan. Meski Yumna dan Haidar sudah menjelaskan bahwa Yumna sudah pergi ke dokter dan dokter pun mengizinkan mereka untuk pergi, selama mereka di sana tidak melakukan hal yang berbahaya. Obat dan juga vitamin sudah ada di dalam tas.


Mata Lily sudah berkaca-kaca, begitu juga dengan Mitha. Memang mereka sudah terbiasa hidup jauh dengan Yumna, tapi luar negeri adalah pengecualian. Baru kali ini mereka akan berjauhan meski hanya untuk waktu satu minggu saja. Udara di negara sana sedang dingin turun salju, takut jika Yumna membeku di sana.


"Kalau Kakak sudah sampai kasih tahu kami," ucap Syifa sambil memeluk kakaknya.


"Tentu saja kakak pasti akan kasih kabar sama kalian. Jangan nangis gitu ah, Kakak jadi berat ninggalin kalian," ucap Yumna ikut merasa sedih melihat sang ibu dan mertuanya tampak sedih.


Lily mengusap sudut matanya dengan ujung telunjuk, berbeda dengan Mitha yang berderai air mata. Haidar yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas. Wanita yang telah melahirkan yaitu hanya peduli dengan Yumna tidak dengan dirinya. Sedari tadi yang disebut hanya Yumna dan juga Yumna. Tidak mengkhawatirkan dirinya sama sekali.


"Mami jangan lebay gitu kenapa?" ucap Haidar dengan kesal.


Mitha yang mendapat pertanyaan seperti itu melotot tajam kepada sang putra. "Mami itu khawatir sama keadaan Yumna. Kenapa kalian harus memilih tempat yang dingin, sih? Setidaknya jangan ada yang bersalju. Gimana kalau suhu di sana di bawah rata-rata dan kalian beku? Gimana kalau ada badai salju? Gimana kalau kami nggak bisa menghubungi kalian?" tanya Mitha panjang lebar sambil mengeluarkan ingus dari hidungnya dengan menggunakan tisu.


"Ya ampun Mami ini kenapa, sih? Yumna memang ingin pergi ke sana, jangan halangi kami. Aku sudah mengecek keadaan di sana, meskipun di sana bersalju tapi aman dari badai dan segala macamnya. Lagi pula, aku juga ada berpikir ribuan kali, Mi. Aku nggak mungkin akan bawa Yumna ke tempat yang berbahaya. Lagian dokter juga sudah mengizinkan. Bukannya kata Mami kalau Dokter bilang nggak pa-pa kita boleh ya?" tanya Haidar mengembalikan ucapan Mami Mitha tempo hari waktu di telepon.

__ADS_1


"Tapi ini kan beda, di sana itu jauh, dingin juga. Maksud Mami kenapa nggak ke tempat lain aja yang nggak ada saljunya, tempat yang lebih hangat," sanggah Mitha.


Yumna tidak ingin mendengar perdebatan itu lagi, debat antara suami dan ibu mertuanya tidak akan bisa berakhir dengan mudah.


"Tidak apa-apa Mi. Aku akan baik-baik saja. Memang aku yang ingin pergi buat main salju." Yumna tersenyum berusaha menenangkan ibu mertuanya. Haidar hanya melirik Yumna, ingin tertawa sebenarnya dengan alasan wanita itu. Bukan ingin bermain salju, tapi ingin main yang lain.


"Enaknya Kakak mau mainan salju. Kalau bukan kalian mau honeymoon aku juga mau ikut deh," sambar Syifa dengan cemberut, dia melirik menatap ayah dan ibunya, berharap dengan tatapannya mereka akan mengerti dan mengajaknya untuk pergi ke sana juga suatu saat nanti. Atau baiknya sekarang tidak apa-apa, jadi dia bisa tetap bersama dengan Yumna bermain salju bersama-sama. Akan tetapi yang ditatap memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak semua hal yang diinginkan oleh anak-anak bisa mereka dapatkan begitu saja tanpa berusaha keras dan mendapatkan hasil yang diinginkan.


Akhirnya mereka semua melepaskan kepergian Yumna dan Haidar. Keluarga besar itu melambaikan tangannya saat anak-anak mereka mulai menuju ke pesawat.


Setelah keduanya menghilang dari pandangan, Lily mengambil tisu yang ada di dalam tas dan mulai menangis. Sangat sulit sekali dan sekarang sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan air mata yang banyak di saat dia sudah tidak melihatnya lagi.


Pesawat mulai bergerak. Yumna dan Haidar duduk dengan tenang di dalam sana, dari rumah Yumna sudah mempersiapkan dua buah jeruk yang sengaja dimasukkan ke dalam tas tangannya. Sebelum pesawat itu mulai take off, Yumna segera mengupas buah jeruk tersebut dan memberikan buahnya pada sang suami sedangkan dia memegang kulit jeruk dan menghirup aroma buah itu di bawah hidungnya. Segar sekali rasanya kulit jeruk tersebut.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Haidar saat Yumna menghirup dalam-dalam aroma jeruk tersebut.


Yumna mengalihkan tatapannya dan tersenyum kepada Haidar. "Aku nggak apa-apa."

__ADS_1


Dia mendekat ke arah Haidar dan berbisik, "Bau minyak wangi di depan nggak enak," ucap Yumna dengan ada yang pelan. Haidar hanya menganggukkan kepalanya. Hidung wanita hamil memang sensitif, padahal aroma minyak wangi dari orang yang ada di depan menurut Haidar biasa saja.


Akhirnya pesawat mereka sudah berada di udara, langit biru yang ada di luar tampak sangat indah dengan awan-awan yang menggantung kini sejajar dengan tempat mereka duduk. Yumna melihat ke arah luar, tapi tidak lama dia menutup tirai pada jendela pesawat tersebut.


"Kenapa di tutup? Apa kamu baik-baik saja?"


"Enggak apa-apa, cuma silau kena matahari. Aku juga rasanya pengen tidur aja." Dia mendekat ke arah Haidar dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya itu sambil memeluk erat lengan Haidar. Kepala Yumna tak luput dari sasaran ciuman Haidar, sangat lembut sekali dan membuat wanita itu menjadi nyaman sehingga tak lama dia tertidur dengan lelap.


Setelah lebih dari dua puluh jam di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di Bandar Udara Internasional Arlanda, Stockholm. Ya, mereka kini berada di Negara Swedia sebagai destinasi liburan untuk honeymoon mereka kali ini. Udara di sana sedang dingin, dengan sedikit salju yang turun dan belum sampai memenuhi jalanan bandara tersebut.


Yumna sangat senang sekali karena apa yang dia inginkan sejak lama akhirnya datang juga. Suatu hal yang pernah terpikirkan, tapi rasanya masih belum bisa terealisasikan karena kesibukkan keduanya.


Butiran salju turun dengan perlahan dari udara yang terbuka, Yumna membuka telapak tangannya dan membiarkan butiran tersebut jatuh di telapak tangannya.


"Selamat datang di Swedia, Sayang," ucap Haidar saat mereka telah berada di luar pesawat.


...****************...

__ADS_1


mampir sini dulu yok



__ADS_2