
Mereka kini telah sampai ke rumah Nenek Melati. Nenek yang tidak tahu akan kedatangan Yumna dan ketiga adiknya merasa sangat bahagia sekali dengan kedatangan mereka semua. Sudah lumayan lama mereka tidak bertemu, apa lagi Yumna membawa pasukan yang sangat menyenangkan sekali, terutama Syifa yang satu frekuensi dengan Nenek Melati.
"Kenapa kalian datang tidak kabari Nenek terlebih dahulu?" tanya Melati yang memeluk mereka satu persatu.
"Sengaja, Nek. Ingin beri kejutan pada Nenek. Yumna sudah tanya Bian katanya Nenek selalu ada di rumah, jadi kami memutuskan untuk dua hari ini menginap di rumah Nenek. Tapi maaf, anak-anak rempong ini pengen ikut, Nek," ujar Yumna menunjuk kedua adiknya yang lain dengan menggunakan dagunya.
"Tidak apa-apa, rumah jadi ramai. Semenjak kamu gak ada cuma Nenek sama Bian yang ada di rumah, Kakek masih sering ke luar kota untuk urusan bisnis," ujar Melati lalu mempersilakan yang lain untuk duduk.
Si kembar duduk dengan seenaknya, sudah biasa bagi mereka dan tidak lagi sungkan meski Melati bukan nenek kandung mereka. "Kalian duduk yang sopan!" ujar Yumna kesal, tidak enak hati dengan kelakuan dua adiknya yang tanpa malu ini.
"Capek, Kak!" ujar Arkhan.
"Ngantuk!" jawab Azkhan.
"Kalau kalian mau istirahat, lebih baik pergi ke kamar kalian. Bian, antar mereka ke kamar," ucap Melati pada Abian.
"Iya, Nenek," jawab Bian sambil berdiri dan menyenggol kaki Azkhan dengan kakinya.
__ADS_1
"Pindah. Jangan sampai aku seret kalian ke atas!" ujar Bian.
"Jangan seret juga, dong. Gendong, kek," ujar Azkhan. Abian berdecak kesal, lantas mengambil ujung topi dari jaket Azkhan dan benar-benar menariknya agar anak itu bangun.
"Bian, jangan kasar begitu sama tamu!" ujar Nenek Melati memarahi Bian atas ketidaksopanannya.
"Tamu apa? Mereka ini bukan tamu, tapi semah kalau di Bahasa Sunda. 'Ngahesekeun nu boga imah'!" ujar Bian kesal.
Kening Melati mengkerut mendengar Bian bicara kata-kata asing di telinganya. "Nyusahin yang punya rumah, Nek!" jawab Bian mengartikan ucapannya tadi.
"Huss! Kamu ini, tamu yang nyusahin atau enggak tuh tetep harus disambut, jangan kasar dan gak sopan!" ujar Melati lagi.
"Dih, dasar nyebelin! Dah, kalian pergi ke lantai atas sendiri. Ogah aku antar. Gak akan nyasar juga!" ucap Bian kesal seraya duduk dengan kasar di kursi sofa. Azkhan dan Arkhan yanng sudah terlanjur berdiri juga menjadi kesal.
"Bian!"
"Gak apa-apa, Nek. Kita sebagai cucu dan tamu yang baik memang sudah seharusnya tidak menyusahkan cucu Nenek yang lain. Pamit duluan ya, Nek. Azkhan biasa, kalau dah naik pesawat bawaannya ngantuk, kayak lagi di ninaboboin tadi di atas langit sana," ucap Azkhan lalu mendekat dan meraih tangan Melati untuk dikecupnya. Arkhan pun sama, memilih untuk pamit beristirahat ke kamar.
__ADS_1
"Iya, tidur yang nyenyak. Kalau butuh apa-apa, panggil aja asisten, kalau lapar cari sendiri makanan ke dapur," ucap Melati yang dijawab OKE oleh kedua pemuda itu.
"Maaf, Nek. Si kembar gak bisa jaga tingkah laku, masih aja kayak begitu," ucap Yumna tidak enak pada neneknya.
"Gak apa-apa, Nenek malah seneng kok, rame di rumah ini. Jarang banget kalian datang sama-sama," ujar Melati, pandangannya mengikut langkah kaki dua pemuda yang kini berjalan ke lantai atas sambil membawa barang-barangnya masing-masing.
"Nek, Syifa lapar, ada makanan kecil gak?" tanya Syifa yang membuat Yumna menoleh ke arah adiknya, begitu juga dengan Bian.
"Ada, cari sana. Atau, kita makan malam bersama? Nenek temani?" tawar Melati.
"Eh, enggak, Nek. Tadi kami sudah makan di bandara." Yumna menolak ajakan nenekya.
"Syifa bukannya udah makan banyak tadi?" tanya Yumna yang heran dengan perut adiknya. Entah kemana tadi makanan yang dia makan.
"Anu ... maksud Syifa kan makanan ringan gitu, bukan makanan berat, Kak!" ujar Syifa dengan tersenyum malu.
"Ada, tadi aku bikin kue sih, mau? Aku bawain," ucap Bian. Syifa mengangguk senang lalu berdiri dan memilih mengikuti langkah kaki Bian ke arah dapur.
__ADS_1
Yumna menatap heran adiknya yang satu ini, pantas saja jika pipinya tidak pernah tirus, isinya lemak melulu.