
Haidar menjauhkan wajahnya saat mendengar suara ibu mertuanya dari belakang. Kepalanya berputar dengan kaku menatap mereka yang ada di belakang. Sorot mata yang lain tampak memperlihatkan rasa jengkel kepadanya.
"Ish-ish-ish. Sungguh terlalu sekali kalian ini. Dikira ini dunia milik berdua apa?" ujar Syifa dengan kesal. Jiwa jomblonya berkoar-koar di dalam hati. Ingin juga memiliki pasangan yang baik. Seseorang yang dia tunggu untuk menembaknya ternyata sampai saat ini tidak tahu kemana perginya.
"Kalian lupa atau lagi ngasih kode biar kita tinggalin tempat ini? Terlalu banget sampai segitunya. Ini harus bener-bener dijaga biar nggak terjadi hal yang nggak-nggak," ujar Mitha tanpa menyaring ucapannya.
Haidar yang disangka seperti itu segera menyangkal tuduhan semua orang.
"Eh, bukannya begitu. Aku nggak bermaksud kayak gitu. Tadi ...."
Haidar tidak bisa lagi berbicara, melihat tatapan dari semua orang yang menuduhnya ingin berbuat mesum, padahal jelas sang istri yang sudah menarik wajahnya dan menciumnya.
"Mami, aku yang cium Haidar. Habisnya dia itu lagi ganteng banget sekarang ini," ucap Yumna. Semua orang bingung dengan pernyataan Yumna. Juga dengan Haidar yang jarang sekali mendengar sang istri yang menyanjungnya seperti itu.
"Oh, apa perlu kami keluar dulu?" tanya Mitha yang juga sebuah penawaran untuk dua orang itu.
Yumna menjadi malu dan segera menggelengkan kepalanya.
"Nggak perlu, aku tadi lagi iseng aja pengen cium suamiku," ujar Yumna jujur sambil tertawa malu.
Malam semakin larut, Syifa dan Azkhan sudah tertidur di karpet yang mereka gelar di lantai, sementara Lily dan Mitha tengah membahas entah apa. Dua orang kakek masih bermain game bersama, saling diam, tapi berkonsentrasi di dalam permainan. Sedangkan Arkhan ada di luar, menerima panggilan dari Ameera.
__ADS_1
Yumna mengatur napasnya dengan baik, merasakan sakit yang mendera kembali. Matanya mengantuk, tapi dia tidak bisa tidur sekarang ini karena saat akan tidur, rasa sakit itu datang lagi menderanya.
Yumna juga sudah lelah berjalan kaki di luar ruangan, maka dari itu dia menunggu proses kelahiran sambil mengistirahatkan kakinya sementara ini.
"Kamu pasti capek," ucap Haidar memijat kaki Yumna dengan lembut.
"Lumayan. Kalau kamu capek kamu tidur aja, Sayang," titah Yumna. Akan tetapi, tentu saja Haidar tidak bisa melakukan itu. Dia tidak akan bisa tidur sementara sang istri tengah berjuang sekarang ini.
"Aku tidur, terus yang temenin kamu siapa?" tanya Haidar.
"Aku nggak apa-apa sendirian. Kamu juga capek, Haidar. Setidaknya kamu bisa tidur sebentar. Nanti aku akan bangunkan kamu kalau aku dah kerasa nggak kuat," ucap Yumna.
Perkataan Yumna itu terdengar oleh Bima. Dia menghentikan permainannya sehingga Arya menatapnya bingung. Bima pergi ke tempat Yumna dan berbicara kepada menantunya.
"Nggak apa-apa, Pa. Aku nggak ngantuk kok," ucap Haidar menolak.
Bima menghela napasnya terdengar kesal di telinga Haidar.
"Kamu mau melawan ayah mertua kamu? Istirahat saja dulu. Kalau Yumna lahiran dia akan butuh kamu di dalam sana untuk disiksa," ucap Bima. Arya dan yang lain yang mendengarnya ingin tertawa. Sedangkan Haidar lebih takut akan perkataan dan tatapan dari ayah mertuanya ini.
"Sana! Lagian saya juga mau berdua dengan anak saya. Apa kamu nggak mengizinkan saya untuk berduaan degan Yumna? Pergi tidur kalau kamu nggak mau saya usir dari sini," ujar Bima mengusir dengan gerakan kepalanya.
__ADS_1
Haidar yang mendengar ucapan tegas dari sang ayah mertua segera bangkit dan menganggukkan kepalanya. Jangan sampai dirinya diusir dari sini.
Haidar menyingkir dari samping sang istri dan membiarkan Bima bersama dengan Yumna.
Lily tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia sangat tahu sekali jika Bima tidak sedang marah dengan menantunya itu, justru selama ini dia juga memperhatikan Haidar dengan diam-diam. Bahkan di saat Haidar sedang sulit dalam dunia kerjanya, Bima secara diam-diam membantu menantunya itu hingga akhirnya dia bisa memiliki pencapaiannya sekarang ini.
"Sudah kamu tidur, biar ayah dan anak itu menikmati waktunya," ujar Lily kepada Haidar yang mengambil tempat di samping Azkhan.
"Ini naik di atas." Lily memberikan tempatnya di sofa, tapi Haidar menolak dan memilih untuk tidur di samping Azkhan saja.
Bima tersenyum senang menatap sang putri yang tersenyum ke arahnya. Dia mendekat dan mencium kening Yumna dengan sayang.
"Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa memberikan yang terbaik untuk kita," ucap Bima memberikan semangat untuk Yumna.
"Iya, Pa, terima kasih. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk kalian," ucap Yumna.
Bima mengusap perut Yumna yang sedari tadi bergerak-gerak sehingga membuat putrinya itu meringis kesakitan.
"Pasti nggak mudah ya?" ujar Bima. Dia sangat mengingat sekali saat Yumna hamil Syifa dan tak lama hamil si kembar.
"Memang nggak mudah jadi seorang ibu, tapi aku bahagia, Papa," ucap Yumna. Bima terharu mendengar ucapan dari putrinya ini, sekali lagi dia mencium kening Yumna dengan sayang.
__ADS_1
Haidar melihat interaksi antara anak dan ayah itu, Bima yang merupakan laki-laki yang dingin ternyata cukup hangat untuk anak-anaknya. Tanpa sadar, Haidar tertidur karena sangat lelah.