
Pagi ini Yumna bangun dengan sedikit pusing di kepalanya, mungkin karena kemarin hujan lebat dan angin begitu kencang. Entah kenapa tubuhnya serasa rentan sekali dengan hal seperti ini. Kena hujan atau angin selalu membuat badannya sedikit tak enak.
Yumna memaksakan diri untuk bangkit dan membersihkan dirinya. Mandi sebentar dan lalu bersiap untuk bekerja. Hanya pusing saja jangan sampai dirinya hanya berbaring dengan santai di rumah. Itu bisa membuat dirinya mengingat si Dia. Siapa lagi kalau bukan Haidar.
Huft.... Yumna menghela nafasnya dengan kasar. Segera memoles wajahnya dengan make up tipis.
Hari ini Yumna dan kakek akan ada pertemuan dengan seorang kolega penting. Sangat penting hingga dirinya harus menemani kakek menemui orang itu.
Sampai di kantor, Yumna tersenyum saat sekretaris kakek mengangguk dan tersenyum pula pada dirinya.
"Selamat pagi Mbak Yumna, mau saya buatkan teh? Kopi?" tawar sekretaris itu ramah.
"Coklat panas saja Mbak." pinta Yumna dengan senyum rak kalah ramah.
Sekretaris kakek segera pergi ke pantry untuk membuatkan secangkir coklat panas untuk cucu bosnya.
__ADS_1
Siang hari Yumna dan kakek pergi untuk pertemuan. Mereka menunggu tak lama. Hanya sepuluh menit. Yumna terkejut, karena ternyata orang yang ditemui kakek adalah Juan.
"Loh. Yumna?" Juan tak sadar menunjuk Yumna.
"Eh. Pak Juan!" Yumna pun sama setelah Juan berhenti di depan kakek. Terkejut karna di pertemukan lagi dengan keadaan yang berbeda. Juan melihat Yumna dengan dandanan lebih rapi dari kemarin. Bahkan, hari ini dia terlihat sangat berbeda dengan rambut yang diikat tinggi-tinggi. Polesan make up tipis menambah kesan elegan di wajahnya.
"Kalian sudah saling kenal?" kening kakek mengkerut.
"Iya. Kami sudah dia kali bertemu ebelum ini." Juan menjawab.
Kakek kembali ke kantor dengan cepat. Ada hal yang harus kakek lakukan setelah ini. Sedangkan Yumna kakek tinggalkan karena mereka baru saja memesan makan siang. Yumna tidak enak hati jika harus ikut dengan kakek dan meninggalkan Juan sendirian. Jadilah dia terpaksa ikut makan siang dengan pria itu.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu cucu dari Kakek Hadi."
Kalau ada yang lupa ya, atau yang bingung. Othor ingatkan. Nama kakek dari Papa Bima adalah Kakek Adi, sedangkan nama neneknya adalah Nenek Ratih. Dan kakek dari papa Azka adalah Kakek Hadi dan Nenek Melati.
__ADS_1
"Saya juga tidak menyangka kalau ternyata orang yang akan kakek temui adalah Anda!"
"Oh. Jangan terlalu formal aku mohon. Panggil saja namaku." Juan merasa keberatan mendengar kata 'anda' dari mulut Yumna.
"Kita masih dalam sebuah meeting, kan. Jadi saya rasa kita harus bersikap profesional." ujar Yumna. Satu suapan besar ia masukkan ke dalam mulutnya. Olahan daging beefsteak yang ia makan terasa sangat nikmat saat di kunyah.
"Tapi meeting kita sudah berakhir dua puluh menit yang lalu." Ucap Juan kesal. Sungguh untuk kali ini dia tidak suka dengan bahasa baku yang Yumna gunakan untuknya.
"Tapi tetap saja. Kita masih dalam urusan meeting yang harusnya masih sepuluh menit lagi!" Yumna menatap jam di tangannya.
"Lalu setelah sepuluh menit apa kamu akan menyebut nama tanpa ember-embel anda atau Pak? Aku merasa tua dipanggil bapak sama kamu!"
"Ya tentu. Karena waktu profesional saya terbatas waktu yang ditentukan!" ucap Yumna cuek. Lagi satu suapan masuk ke dalam mulutnya.
Juan tertawa. Merasa lucu dengan tingkah gadis ini. Ada-ada saja. Dan tingkahnya ini sangat unik. Unik sekali!
__ADS_1