
"Haidar. Papa serahin Yumna sama kamu karena papa sangat percaya sama kamu. Kamu adalah lelaki yang di pilih Yumna. Dan papa mau tidak mau harus percaya sama pilihan dia. Kalau kamu sampai mengecewakan Yumna, papa gak akan bisa maafin kamu. Meski kamu juga anak seorang pengusaha ternama dari keturunan Rahadian, papa gak akan takut. Yang papa takutkan adalah perasaan Yumna yang terluka karena kamu!" Haidar menunduk dan mengangguk.
"Iya pa."
"Dulu papa pernah mengecewakan mama Lily, sampai pada akhirnya papa sendiri yang dapat karmanya. Semua orang menderita termasuk Yumna. Dan sekarang, papa tidak mau kalau putri papa mengalami hal yang sama."
"Iya pa!"
"Yumna anak perempuan pertama keluarga Mehendra. Banyak hal yang harus dia tanggung untuk terus membantu meneruskan dan membesarkan nama keluarga ini, terutama sebelum ketiga adiknya bisa membantu dia. Dan papa harap kamu juga membantu dan mendukung Yumna."
"Aku mengerti pa!"
***
Yumna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia gelisah.
"Apa sih yang mereka bicarakan sampai satu jam?" gumam Yumna, berkali-kali dia melirik ke arah pintu, tapi tak kunjung juga pintu itu terbuka.
Yumna berbaring, tapi dia tidak bisa tidur. Padahal tadi dia sudah merasakan kantuk saat Arkhan mengetuk pintu kamarnya.
Dia kembali berdiri berjalan ke arah jendela lalu kembali lagi ke arah kasur begitu sampai seterusnya.
"Ih ngapain juga gue gelisah mikirin dia?" gumam Yumna.
Terdengar handle pintu terbuka dari luar. Yumna segera melemparkan dirinya dan menarik selimut sampai ke dadanya, dia memejamkan matanya.
Haidar masuk ke dalam kamar, dia membuka jas dan melonggarkan ikatan dasinya.
"Udah tidur aja!" menatap punggung Yumna. "Hah.... seharian di kantor, di rumah kena omel mertua pula!" sendu Haidar, dia membaringkan dirinya di sebelah Yumna.
"Ternyata gini ya rasanya punya mertua. Udah punya mami cerewet, punya mertua juga gak kalah saingnya. Tapi sudahlah, aku juga yang salah. Papa juga cuma nasehatin aku." gumam Haidar pelan. Yumna tersenyum dalam tidurnya.
"Beruntung banget sih kamu Yumna!" Haidar tidur menghadap ke arah Yumna. Dia menyentuh punggung Yumna dengan jari telunjuknya. Yumna yang merasakan sentuhan Haidar merasa tegang akan tubuhnya. Sesuatu berdesir dan membuat detak jantungnya memompa dengan cepat.
"Kamu punya keluarga yang sayang sama kamu. Mama. Papa. Adik. Semua sahabat papa. Dan juga beberapa nenek. Kamu di kelilingi banyak orang yang sayang sama kamu! Beruntungnya!" ucap Haidar. Yumna merasa senang mendengar hal itu.
Haidar memutar, memunggungi Yumna. Tidak baik bagi jantungnya berlama-lama menatap punggung istrinya. Dia mengapit kedua tangannya di antara kedua paha. Takut jika tangan itu akan terus berjalan di atas tubuh Yumna yang hanya berbalut kain tipis. Takut jika ia khilaf dan melakukan hal yang 'iya-iya'. Haish.....
Yumna tidak mendengar suara Haidar lagi. Dia menoleh ke belakang. Haidar sudah terdiam tidak lagi bergerak.
"Apa dia sudah tidur?" gumam Yumna pelan. Yumna menatap Haidar yang tidur tanpa selimut. Dia lantas mengambil selimut dan menariknya ke atas.
Deg... Deg... Deg...
Meski bukan pertama kalinya tidur satu ranjang dengan Haidar, tapi Yumna masih merasakan hal yang tidak beres pada jantungnya.
Yumna kembali berbaring, saling memunggungi. Dadanya berdetak dengan cepat.
"Kamu juga beruntung Haidar. Kamu sudah menemukan cinta kamu. Hanya tinggal selangkah lagi bukan? Cerai dari aku lalu kamu dan Vio..."
"Hahhh...."
Membayangkannya saja membuat hati Yumna tercubit.
"Ih kenapa juga sih!" Yumna memukul dadanya sendiri.
"Sadar, Yumna. Sadar!" ucap Yumna kali ini menampar pipinya sendiri.
"Hei, hati! Gak usah galau deh! Kamu itu galau karena Haidar udah punya pasangan sedangkan kamu belum! Cuma itu!" monolog Yumna.
Grep!
Yumna terdiam saat satu tangan Haidar melingkar di pinggangnya. Nafas Haidar terasa hangat di tengkuk lehernya. Bahkan dia seperti merasakan hidung itu bergerak menggesek kulit lehernya.
Deg... Deg... Deg...
Yumna meremas selimut di dadanya.
"Kambing guling gue siniin...! Hap!" Haidar mengangkat kepalanya mengigit leher Yumna keras. Yumna memekik saat merasakan Haidar menggigiti lehernya. Dengan cepat Yumna berbalik, dia mendorong dan menendang Haidar hingga pria itu terjatuh di bawah.
__ADS_1
"Awww!" Haidar memekik merasakan pinggangnya yang sakit.
"Yumna, apaan sih? Kenapa gue di tendang?" tanya Haidar yang dengan mata masih mengantuk.
"Heh, Haidar. Elo kalau mau makanan beli sana, jangan sampai kebawa mimpi. Gue jadi korban elo terus!" cerca Yumna seraya menunjuk ke arah Haidar, sedangkan tangan yang satu lagi mengelus lehernya yang sakit.
"Hehh?" Haidar merasa bingung, dia bangkit dari lantai. "Elo ngimpi ya?" kembali naik ke atas kasur.
"Elo yang ngimpi! Elo gila ya, apa setiap malam yang elo mimpiin itu makanan?!" seru Yumna.
"Makanan apa?"
"Tadi elo ngigau kambing guling, terus gigit leher gue? Besok deh cari kambing guling sana. Heran deh! Bisa habis gue tidur satu ranjang sama elo, di gigit terus!" Ucap Yumna.
"Ya sorry, gue kan gak sadar. Namanya juga mimpi!" Haidar menarik selimut sampai di dadanya. Yumna mundur ke tepian, takut jika Haidar akan melakukan hal yang tidak-tidak lagi.
"Heh awas jatuh!" Haidar memperingatkan.
"Gue takut kalau... Akhhh!" Tangan Yumna terpeleset dari tepian kasur. Haidar segera meraih tangan Yumna yang lain dan menariknya keras. Hingga akhirnya Yumna jatuh di atas tubuh Haidar. Mata Yumna membulat, nafas keduanya saling berhembus sangat dekat. Dadanya berdegup kencang membuat Yumna merasa sesak luar biasa.
Deg... Deg... Deg...
'Sialan! Apa itu?' batin Haidar memberontak saat melihat dada putih Yumna yang terlihat sangat jelas di balik wadahnya. Terlihat putih, penuh, dan menggoda.
Glekk....
"Bisa bangun gak dari atas gue? Elo berat!" ucap Haidar membuat Yumna refleks bangun dari sana. Haidar menilik kembali ke arah sana.
'Haishhh... Jangan lihat terus. Jangan lihat terus. Ini godaan. Jangan lihat!'
Haidar membuang pandangannya ke arah lain. Takut jika dia akan meraup balon air milik Yumna.
"Bisa gak sih elo gak bilang gue berat? Jadi cowok elo gak ada romantis-romantisnya!" Yumna mencubit perut kotak Haidar dengan kesal. 'Sumpah demi apa pria di depan gue ini di sukai seorang Viola McKenzie! Dia b*ta apa!' batin Yumna.
"Kalau elo mau di romantisin sana sama pacar elo!" ucap Haidar.
Jleb... Seakan di pukul dengan sesuatu yang keras di dalam hati Yumna.
"Elo b*go atau gimana? Elo tahu kan kalau gue gak punya pacar. Elo mau pamer ke gue, kalau elo punya pacar dan itu Viola si seksi yang bisa elo romantisin, begitu?!" Haidar menghalangi wajahnya yang mendapat serangan bertubi-tubi.
"Eh elo kenapa sih? Dendam ya karena gue gigit tadi?" tanya Haidar, dia hampir saja terjatuh akibat ulah Yumna.
"Gue gak dendam! Gue cuma kesel elo ngejek gue!" Yumna masih mengeluarkan kekuatannya. Dia masih memukuli Haidar dengan bantal. Tanpa sadar Haidar terus bergeser ke tepian ranjang hingga akhirnya dia terjatuh dan menarik tangan Yumna bersamanya.
Bruk!
"Aww..." Haidar memekik kesakitan saat punggungnya menyentuh lantai untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini lebih sakit lagi karena dia tak sengaja menarik Yumna yang kini kembali terjatuh di atas tubuhnya.
"Haidar, elo gak pa-pa?" tanya Yumna khawatir yang melihat raut muka kesakitan pria di bawahnya.
"Punggung gue sakit!" Ucap Haidar meringis
"Lagian elo minggir-minggir terus, pake narik gue segala!" ujar Yumna kesal. Dia bangun dari atas Haidar
"Kalau elo gak mukulin gue, gue gak akan jatuh, Yumna!" Ucap Haidar kesal. Dia bangkit dan duduk di samping Yumna bersandar pada kaki ranjang.
"Ya habisnya elo nyebelin banget deh! Itu sama aja ngejek gue!"
"Iya maaf, omongan gue emang gak di saring! Bibir nakal!" Haidar menepuk bibirnya keras. Yumna tertawa kecil melihat tingkah Haidar.
Mereka terdiam sejenak.
"Mungkin kita itu pasangan yang aneh ya!" ucap Yumna. Haidar menoleh.
"Aneh gimana?" tanya Haidar.
"Kita nikah, tapi setiap ketemu berantem mulu!" Yumna tertawa lirih. Haidar ikut tertawa.
"He-em, elo bener banget! Kapan kita pernah akur ya?!" Haidar mengingat-ingat.
__ADS_1
"Gak pernah." jawab Yumna. Keduanya tertawa bersama.
"Kita akurnya kalau di depan para orangtua." ucap Haidar.
"Tapi berantem terus sama elo, gue jadi seneng juga sih."
"Seneng, gimana?" tanya Yumna.
"Gue ngerasa ada warna yang lain gitu dalam hidup gue yang monoton. Hidup gue sepi, mungkin karena gak punya saudara." jawab Haidar.
"Gue juga! Percaya gak kalau sebenernya gue ngerasa jadi diri sendiri waktu dekat sama elo!" ucap Yumna jujur.
"Maksudnya?" tanya Haidar menatap Yumna bingung.
"Sebagai anak pertama keluarga Mahendra, meskipun papa sama mama gak nuntut gue harus menjadi yang terbaik, tapi gue ngerasa semua beban ada di pundak gue. Nama keluarga Mahendra, perusahaan keluarga, dan juga gue harus jadi panutan untuk ketiga adik gue! Semua itu lumayan berat!" Yumna menghela nafas berat.
Haidar masih menatap Yumna.
'Benar! Semua yang di katakan papa Bima ternyata menjadi beban Yumna.'
"Sebenernya gue agak tertekan saat papa bilang gue harus mulai belajar masuk ke dunia karier untuk menggantikan papa. Gue inginnya cuma jadi ibu rumah tangga seperti mama. Dan gue juga harus menjadi yang terbaik di mata adik-adik. Gue harus tegas. Gue harus mandiri. Gue harus kuat. Padahal gue gak sekuat itu! Berat!" Haidar melihat itu semua di mata Yumna. Baru kali ini dia melihat Yumna yang terlihat rapuh.
"Gue kira, hidup elo selalu menyenangkan punya adik banyak."
"Mereka emang nyenengin. Banget malah. Selalu hibur gue di saat gue sedang sedih. Tapi ya itu, gue juga gak mau dong kelihatan jelek di mata mereka, terutama gue juga gak mau di ejek karena gue cengeng dan sebagainya. Makanya gue bilang gue itu rada tertekan, harus selalu menjadi panutan yang baik!"
Haidar menyentuh kepala Yumna dan menyimpannya di bahunya.
"Elo bisa pakai bahu gue buat sandaran disaat elo merasa berat dan tertekan!" ucap Haidar, dia menepuk kepala Yumna pelan.
"Makasih!"
"Sama-sama!" jawab Haidar.
"Gimana hubungan elo sama Vio?" tanya Yumna.
"Baik. Elo sendiri sudah ada calon pacar?" tanya Haidar.
"Gimana gue mau cari calon pacar kalau seharian kerja, pulangnya langsung tidur?" tanya Yumna.
"Iya juga, ya!" jawab Haidar.
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Tak terasa mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk saling berbicara. Tak ada lagi suara teriakan maupun pelototan tajam, yang ada hanya suara tawa dan banyak senyum yang mengembang di bibir mereka.
Haidar menatap Yumna yang terlelap di pundaknya. Nafasnya berhembus teratur. Bulu mata lentiknya terlihat cantik disana.
Haidar mendekat menempelkan bibirnya di bibir Yumna. Dua detik. Haidar tersadar, dia menarik kembali dirinya menjauh.
"Apa yang aku lakukan?!" gumam Haidar. Dia mengangkat Yumna ke atas kasur. Menyelimuti tubuh Yumna dengan hati-hati.
Deg... Deg... Deg...
Menyentuh bibir Yumna yang tadi di ciumnya. Rasanya sangat menyenangkan. Ada rasa lain yang tidak pernah ia rasakan saat berciuman dengan Vio.
"Hahhh gue udah gila!" Haidar memilih pergi ke arah kamar mandi untuk meredakan sesuatu yang tiba-tiba saja terasa ngilu di area bawahnya.
"Gue udah gila!" ucap Haidar seraya memutar kran air dan membasuh tubuh polosnya.
"Kenapa gue bisa cium dia sih! Harusnya gue gak kayak gini!" Haidar memutar kran air lebih besar lagi, hingga air yang turun dari sana semakin deras.
*
*
*
Haduh Bang Haidar, hayo... kenapa lho?!
Haidar: Author bikin perasaan gue GJ! Awas aja lo!
__ADS_1
Author: Peace bang. kabuuuurrrr... !!! ππΌππΌππΌ