
Hari ini, Haidar pergi ke kantor Bima dengan undangan dari mantan dan calon mertuanya itu. Dia merasa senang sekaligus bingung kenapa tumben sekali mantan mertuanya itu memanggilnya ke kantor, padahal beberapa hari yang lalu saja pria tua itu tidak mau menemuinya sama sekali.
Mungkin Papa sudah setuju aku dengan Yumna, pikir Haidar. Dia berjalan masuk ke dalam Perusahaan Mahendra dengan langkah yang tegap, tapi sebenarnya di dalam hati ada rasa sedikit takut dan deg-degan juga.
Haidar menekan tombol menuju ruangan Bima berada.
Sengaja Haidar tidak menghubungi Yumna, dia tidak mau melihat wanita yang dia cintai menjadi merasa bersalah jika nantinya Bima menolak hubungan mereka. Meski Haidar berpikir kemungkinan Bima menerimanya, tapi dia juga harus berpikir apa bila Bima menolaknya. Ah, masih tanda tanya saja. Dia jelas tidak tahu bagaimana isi hati orang lain, apa lagi Bima tidak tahu luar dan dalam perasaan dari pria itu.
Haidar telah sampai di depan ruangan Bima, dia menarik napasnya dengan kasar dan berat, mencoba untuk menetralkan perasaannya yang tidak karuan. Jika kemarin dia sudah siap bertemu untuk menjelaskan hubungan dia dengan Yumna, tapi kali ini kenapa jadi takut?
"Silakan masuk, Pak Haidar. Bapak sudah ditunggu oleh Pak Bima." Sekretaris Bima menunjuk ke dalam ruangan tersebut dengan sikap yang sopan. Haidar tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Sekali lagi, dia menarik napasnya sebelum masuk ke dalam sana. Dadanya semakin berdebar dengan kencang. Dia harus bisa berpikir bagaimana cara bicara dengan Bima untuk restu yang harus dia dapatkan darinya.
__ADS_1
Haidar masuk ke dalam ruangan Bima. Ruangan itu terlihat biasa saja, tidak ada yang aneh. Akan tetapi, bagi Haidar ruangan itu seakan seperti suatu tempat yang angker dengan hawa menyeramkan. Seorang pria yang duduk di belakang mejanya terlihat seperti raksasa yang sedang menunggu dirinya mendekat untuk dilahap hidup-hidup.
"Selamat siang, Pap ... Pak Bima," ralat Haidar. Hampir saja dia keceplosan menyebutkan papa pada pria itu. Bima menoleh dan menyuruh Haidar untuk duduk di depannya. Haidar menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya sulit sekali menelan salivanya sendiri.
Bima menopang kedua sikunya di atas meja, jari-jemarinya saling bertautan di bawah dagunya. Tatapan pria itu sangat tajam menatap pemuda mantan menantunya.
Ditatap seperti itu, membuat Haidar menjadi salah tingkah. Debaran jantungnya terasa hingga ingin loncat dan keluar dari tubuhnya, menembus rongga dada, kulit dan juga tulang untuk melarikan diri ke tempat yang aman.
Apa yang akan Papa bicarakan? Apakah Papa akan mengusirku jauh dari Yumna?
"Haidar. Saya tahu kalau kamu sedang dekat dengan Yumna, benar?" tanya Bima yang membuat Haidar tersentak. Harusnya Haidar senang mendengar kenyataan jika Papa Bima sudah tahu mengenai hubungannya dengan Yumna, tapi kenapa jadi dia sendiri yang gelisah?
"I-iya," jawab Haidar dengan patuh. Dia merasa tidak berdaya sekarang ini, padahal di lift tadi dia sudah bisa berlatih dengan bayangannya sendiri pada dinding lift dan membayangkan jika gambaran buram yang ada di depannya adalah Bima.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, kamu layak dengan Yumna setelah apa yang kamu lakukan kepada putri ku?" tanya Bima dengan nada yang terdengar sangat dingin, hingga membuat Haidar membeku di tempatnya.
"Sa-saya ... Ya ...."
"Apa kamu bisa lakukan sesuatu yang membuat saya yakin jika kamu layak kembali untuk Yumna?" tanya Bima memotong ucapan Haidar.
"Jika saya meminta kamu untuk serahkan saham yang keluarga kamu punya atas nama Yumna, apa kamu bersedia?"
Haidar menatap tidak percaya pada sosok pria yang ada di depannya. Apa yang dia dengar tidak pernah dia sangka sebelumnya. Saham keluarga Rahadian lumayan cukup besar, jika dia menyerahkan dan mengalihkan saham itu atas nama Yumna, bagaimana jika keluarga Mahendra menjualnya? Itu akan membuat rugi perusahaan Rahadian!
"Apa kamu bersedia?" tanya Bima sekali lagi, nada suaranya tidak dia ubah sama sekali. Haidar menunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan menjebak ini. Apakah pria ini sungguhan untuk mengambil alih saham dengan nama Yumna? Atau, hanya menggertak saja?
Bima tersenyum tipis. Dia menatap sinis pada pemuda dengan jas hitam yang dikenakannya.
__ADS_1