YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
339


__ADS_3

Lelah Haidar rasakan setelah permainannya bersama dengan Yumna. Bagaimana tidak, jika wanita itu ternyata sekarang ini lebih kuat sehingga sadari kemarin Haidar selalu kalah dalam setiap permainan panas mereka


Salju yang turun di luaran sana membuat udara semakin dingin, tapi berbeda dengan keadaan di dalam ruangan itu. Suhu udara yang ada di sana sedikit hangat, bukan hanya dari pemanas yang menyala di sana, tapi juga dari hangat tubuh masing-masing yang tanpa pakaian sama sekali, terbungkus di dalam selimut tebal yang semakin membuat mereka menjadi hangat.


Keduanya tertidur dan tidak peduli dengan keindahan di luar sana yang permukaan tanahnya kini semakin tertutup dengan salju.


...***...


Hari ini seperti apa yang telah dijadwalkan, Yumna dan Haidar akan berseluncur dari gunung. Mereka telah pergi menjelang siang hari agar bisa lebih lama menikmati permainan salju. Pemandangan yang indah berada di belakang mereka, gunung menjulang tinggi tertutup warna putih, juga dengan pepohonan yang daun-daunnya kini berhiaskan salju.


Haidar memandang ke sekeliling, memang tidak salah mereka datang ke tempat ini. Selain indah di sini juga dingin. Banyak orang yang juga datang ke tempat ini untuk bermain salju. Entah itu berseluncur atau hanya membuat boneka salju.


“Sayang, apa kamu yakin akan melakukan ini? Sepertinya ini berbahaya,” ucap Haidar yang ngeri melihat mereka kini berada di mana. Keduanya sudah siap dengan pakaian hangat dan papan seluncur, tak lupa dengan topi dan syal yang tebal melingkar di leher mereka.


“Memangnya kenapa? Segini tuh sebenarnya kurang kalau untuk berselancar. Lihat di sini hanya anak-anak kecil dan juga para pemula,” tunjuk Yumna ke arah yang lain. Haidar pun melihat hal itu, mereka ada di kemiringan yang lebih landai daripada melihat di tempat lain dengan kemiringan yang mengerikan, membuat beberapa orang berseluncur dengan sangat cepat. Di dekatnya hanya ada beberapa anak-anak dan orang-orang yang terlihat kesulitan saat mencoba untuk berseluncur. Ada juga beberapa dari mereka yang terjatuh dan tertawa kemudian.


“Tapi tetap saja ini bahaya buat kamu.”


Yumna hanya tersenyum, dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang stick dan berseluncur pelan. Jika mengikuti keinginan tentu saja ini kurang menyenangkan, inginnya dia meluncur dari atas gunung hingga sampai ke bawah sana, berliuk-liuk untuk menghindari pepohonan dan jatuh di atas tumpukan salju yang lembut. Kali ini dia hanya bisa berseluncur pelan.


Haidar yang melihat hal itu menjadi khawatir, masalahnya Yumna tengah mengandung sekarang. Akan tetapi, istrinya itu sedikit keras kepala sehingga Haidar kini memilih untuk berjalan mengikuti Yumna yang sudah sampai beberapa puluh meter di bawah sana.


Yumna tertawa saat melihat Haidar mendekat sambil membawa papan seluncur yang ditenteng di tangan.


“Kenapa kamu nggak berseluncur?” Yumna tertawa geli melihat sang suami yang tampak kelelahan berjalan mendekatinya, hembusan nafasnya terlihat dengan jelas menjadi asap tipis saat napas hangatnya beradu dengan udara dingin di tempat ini.


Haidar hanya tersenyum malu dan berkata, “Aku nggak bisa main seluncur.” Ucapan Haidar membuat Yumna menjadi terkejut dan tidak menyangka jika suaminya itu tidak bisa bermain ski.


“Ya ampun, beneran kamu nggak bisa? Aku nggak tahu kalau kamu nggak bisa main ski,” ucap Yumna merasa bersalah. Dia tidak tahu sama sekali, jika tahu dari awal mungkin dia tidak akan memilih tempat ini untuk pergi berlibur.


Haidar hanya tersenyum sambil menggigit lidahnya, malu. Jika melihat permainan Yumna tadi terlihat wanita itu sangat lihai sekali. Tentu saja mungkin karena dia sering pergi ke tempat yang seperti ini, tidak seperti dirinya yang lebih sering bermain ke pantai dan laut.


“Kamu kayaknya udah lihai banget.”

__ADS_1


“Enggak juga, hanya sekedar bisa,” jawab Yumna merendah.


Haidar menebak jika Yumna tidak hanya sekedar bisa, buktinya dia tadi tanpa ragu untuk segera meluncur. Padahal jika dia pikirkan mereka hidup di negara tropis dan tidak mungkin jika rasanya setiap tahun untuk pergi ke gunung bersalju untuk bermain ski.


Haidar membiarkan saja Yumna lelah dengan permainannya sendiri, tapi dia juga lelah karena menuruni bukit dan menghampirinya dengan berjalan kaki. Lututnya sakit di jalanan yang turun ini, dia juga harus berhati-hati karena bisa saja tergelincir. Bisa menggelinding dan jadi bola salju jika dia terjatuh ke bawah.


Yumna yang berada jauh di bawahnya kini mulai naik kembali berjalan kaki dengan membawa papan seluncurnya di tangan. Dia tadi sudah meminta jika Haidar jangan mengikutinya, tapi ternyata laki-laki itu turun untuk menghampirinya. Rasanya sedikit merasa bersalah melihat sang suami susah payah untuk turun. Pipi Haidar sudah merah dan membuat dia terlihat menggemaskan.


“Kamu seharusnya belajar bermain ski. Sini aku ajarin.” Yumna mengambil alih papan seluncur dari tangan Haidar dan menyimpannya di bawah.


“Eh, tidak perlu. Aku tidak bisa,” ucap Haidar menolak.


“Tidak bisa karena tidak dicoba. Ayo, ini sangat menyenangkan,” ucap Yumna tidak menerima penolakan dari sang suami. Akhirnya, Haidar menurut saja menaiki papan seluncurnya.


“Pegangan.”


“Aku tidak bisa, Yumna. Kita bisa jatuh.”


“Yumna, aku takut.”


Yumna terkekeh mendengar pengakuan suaminya.


“Kamu perlu sedikit menekuk lutut. Jangan tegang kayak gitu.” Rasanya lucu melihat wajah Haidar. Baru kali ini suaminya itu terlihat ketakutan sehingga Yumna tidak bisa menahan tawanya.


Susah payah Haidar berpegangan pada tangan Yumna, tapi memang itu sulit untuknya. Dia tidak pernah main seluncur atau apapun itu, sepatu roda juga dia tinggalkan, karena dulu sewaktu dia kecil terjatuh dari sepatu roda dan mengakibatkan luka-luka pada tubuhnya. Semenjak itu dia tidak pernah lagi bermain seluncur.


“Bagus seperti itu, jangan takut. Kaki kamu tegang banget, sih,” ucap Yumna memperhatikan ke arah kaki Haidar yang belum benar berpijaknya. Lagi-lagi dia tertawa membuat Haidar sebal, tapi tak urung dia mengikuti perkataan istrinya itu. Wajah Yumna yang berbinar bahagia adalah kebahagiaannya juga. Dia tidak ingin melihat senyum Yumna pudar.


Haidar berhasil, sedikit bergerak karena tarikan Yumna. Akan tetapi karena tubuhnya yang tidak stabil membuat satu kakinya tergelincir dan tidak sengaja menarik tangan istrinya itu. Mereka terjatuh bersama-sama dengan dunia yang ada di atas tubuh Haidar.


“Akh!” Yumna berteriak karena terkejut akan tarikan dari suaminya itu. Beruntung salju sangat lembut sehingga tangannya tidak merasa sakit saat menahan tubuhnya yang terjatuh.


Mereka saling berpandangan dan tertawa kecil.

__ADS_1


“Aku udah bilang, aku nggak bisa, Yumna.” Haidar menatap sang istri yang berada di atas tubuhnya.


Yumna terkekeh melihat wajah Haidar yang kesal.


“Tapi setidaknya kamu sudah berusaha. Ayo kita belajar lagi, jadi nanti kita bisa balapan sampai ke bawah.” Yumna berusaha bangkit, tetapi Haidar menarik tangannya hingga tubuh itu kembali terjatuh di atasnya.


“Aku nggak mau balapan, sudah cukup. Yang penting aku sudah meluncur sedikit tadi. Aku lebih ingin berseluncur di atas tubuh kamu,” ucap Haidar ambigu.


Yumna melotot tajam, melihat ke kanan dan ke kiri di mana beberapa orang tengah memperhatikan mereka berdua.


“Haidar jaga bicara kamu, jangan keras-keras. Malu didengar orang!”


Haidar tertawa keras membuat Yumna mengerutkan keningnya.


“Kamu lupa kita ini ada di mana? Nggak akan ada yang ngerti bahasa kita,” ucap Haidar yang membuat Yumna malu.


**B**enar juga. Kenapa aku sampai lupa ini ada di mana,’ batin Yumna.


Wajah Yumna yang kemerahan membuat Haidar menjadi gemas. Dia menarik wajah sang istri dan tidak Yumna sangka suaminya itu akan menciumnya tepat di bibir. Terkejut Yumna mendapatkan perlakuan itu dan segera menjauhkan diri, segera berguling ke samping Haidar. Dia melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa orang melihat mereka.


“Haidar apa yang kamu lakuin? Banyak orang yang lihat.”


“Memangnya kenapa? Nggak papa banyak orang yang lihat juga. Kita kan suami istri,” ucap Haidar tidak peduli, kemudian bangkit dan mendorong Yumna hingga istrinya itu terbaring di atas salju yang lembut, membuat Yumna lagi-lagi terkejut.


“I love you, Sayang,” ucap Haidar menatap istrinya dari atas dan kembali mendekat untuk mencium mesra sang istri, tak peduli dengan banyak mata yang melihat apa yang mereka lakukan.


“Haidar, apa perlu kita pulang sekarang?”


...****************...


Mampir dulu ke cerita temen Othor, sambil nunggu Yumna up lagi, tapi nanti malam ya, soalnya, mau urusin Morgan-Lyla sama Amara dulu. 👋


__ADS_1


__ADS_2