
Yumna tersenyum senang saat mendapati pesan chat dari Haidar, pria itu mengajaknya untuk bertemu. Entah ada angin apa dia mengajaknya bertemu setelah pulang bekerja nanti. Jujur meskipun Yumna ingin melupakan sosok itu dari pikirannya tapi jika dia masih sering bertemu dengannya, bisa jebol juga benteng yang baru saja dia bangun di dalam hatinya.
Haidar💌
Gue jemput nanti pulang kerja. Ada sesuatu yang mau gue tunjukkin sama elo!
Yumna tersenyum dalam diam, hanya sekedar pesan saja sudah membuat dia senang luar biasa. Senyum di bibirnya tak bisa ia kendalikan.
Yumna💌
Gue bawa mobil, kalau mau ketemu dimana, biar gue kesana.
Haidar menyebutkan nama sebuah kafe.
"Ada apa dia mau ketemu, ya?" bertanya pada diri sendiri. Dia tak bisa mengendalikan dirinya. Di dalam hatinya membuncah perasaan senang yang luar biasa. Tak ingin berlarut dalam kesenangan yang tak jelas, Yumna mencoba untuk kembali fokus pada pekerjannya dengan senyum yang sama sekali tak bisa untuk dia kendalikan.
Sepulang dari kantor Yumna mengendarai mobilnya menuju kafe tempat dimana Haidar memintanya bertemu. Kafe saat pertama mereka bertemu hingga pada akhinya dia terpaksa setuju menjadi pacar Haidar.
Yumna sudah sampai di kafe, dia turun dan kemudian masuk ke dalam sana. Disana Haidar sudah menunggunya, tersenyum dengan sangat manisnya, membuat hati Yumna berdebar-debar meski dia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri.
Mungkin sebelum dia tahu jika dia suka dengan Haidar dia masih bisa bersikap cuek, tapi setelah tahu dengan perasaan hatinya dia sulit memendam perasaan itu. Mungkin benar apa yang papa bilang, sebisanya jangan terlalu sering bertemu dengan Haidar. Tapi mungkin juga dia meminta bertemu untuk urusan perceraian kah?
Haidar bangkit berdiri dan menarik kursi untukk Yumna, dia terlihat sangat senang sekali hari ini.
Dada Yumna berdetak dengan cepatnya, ujung matanya berkali-kali tak bisa ia kendalikan. Ingin melirik Haidar lagi dan lagi. Dia sempat merutuki dirinya sendiri. Sadar jika ini salah, tapi mata dan hatinya lancang sekali mengkhianati otaknya.
__ADS_1
"Elo mau makan?" tanya Haidar. Yumna menggeleng dengan cepat.
"Gak usah, gue gak bisa lama-lama. Elo suruh gue kesini mau apa?" tanya Yumna dengan dada yang masih berdebar kencang.
"Ah ya, gue punya sesuatu. Gue ingin elo..." Haidar merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Susah payah dia mengeluarkan benda itu. Sebuah kotak, dan Yumna bisa menebak apa isi yang ada di dalam kotak beludru berwarna merah itu.
Mulut Yumna terbuka sedikit lebar, dia tak menyangka dengan apa yang Haidar keluarkan untuknya. Dia membukanya. Cincin. Itu sebuah cincin. Indah sekali dengan satu berlian kecil yang ada di tengah-tenga, bersinar indah diterpa sinar lampu dari atas mereka.
Dada Yumna serasa membuncah, berdebar, cincin itu untuk dirinya kah?
Haidar tersenyum dia mengambil cincin itu keluar dari tempatnya dan mengambil tangan Yumna. Disematkannya cincin itu di jari manis Yumna.
Yumna terpaku saat Haidar melakukan hal itu pada dirinya, tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan rasanya hanya untuk bernafas saja dia tak mampu.
"Pas banget. Gimana elo suka gak?" tanya Haidar dengan senyum bahagianya.
"Su-suka. Suka kok!" ucap Yumna pada akhirnya. Dia menatap cincin indah yang kini melekat di jarinya. Apa Haidar sedang berusaha membujuknya untuk kembali bersama?
Haidar tersenyum semakin lebar. Dia senang jika Yumna menyukai cincin yang dia bawa.
"Bener elo suka?" bertanya sekali lagi. Yumna menganggukkan kepalanya. "Syukur deh kalau elo memang suka."
"Kalau elo suka Vio pasti juga suka, Gue perhatiin kalau jari manis kalian sama, gue mau kasih kejutan sama dia, jadi gue minta tolong sama elo buat coba cincin itu! Masalahnya gue gak tahu lagi harus minta tolong sama siapa!" seru Haidar tanpa tahu apa yang kini di rasakan Yumna di dalam hatinya.
Mendengar hal itu seketika senyum di bibir Yumna menghilang. Dia sudah terbang tinggi-tinggi tapi kemudian di hempaskan dengan keras ke tanah berbatu. Ya, seperti itulah yang dia rasakan sekarang. Salahnya. Dia salah, karena sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap pertemuan ini, dia salah karena melupakan sesuatu yang penting. Vio.
__ADS_1
Bodoh! Bodoh sekali! Sesak, dadanya yang sesak karena bahagia kini sesak karena sebaliknya. Sakit!
Matanya mulai memanas. Tenggorokannya terasa tercekik, udara yang dia rasakan disini terasa semakin menipis.
Yumna lantas melepas cincin itu dari jari manisnya, beruntung cincin itu tak sulit untuk dia lepaskan.
"Semoga Vio suka deh, maaf. Gue harus pulang, baru ingat kalau mama ajak masak bersama sore ini." ucapnya beralasan. Padahal dalam dadanya kini berselimutkan duka mendalam karena merutuki kebodohannya.
Yumna mengambil tangan Haidar dan menyerahkan cincin itu di telapak tangannya, dia segera pergi dari sana secepat yang dia bisa.
Haidar terdiam menatap Yumna yang kini keluar dari dalam sana. Dia lantas menyimpan cincin itu ke dalam kotaknya kembali.
Apa yang aku fikirkan? Kenapa aku sampai lupa kalau di otak dia masih ada Vio!
Yumna mengusap air mata dari pipinya dengan menggunakan punggung tangan. Dia tak tahan untuk sekedar menunggu dirinya masuk ke dalam mobil. Tak peduli dengan tatapan orang yang menatapnya dengan bingung. Dia terlalu sibuk dengan hatinya sekarang. Inilah yang papa takutkan. Dirinya tak bisa membentengi perasaannya dari Haidar, dan kini yang merasakan sakitnya siapa? Dirinya, bukan orang lain!
Yumna membuka pintu mobil dan kemudian masuk ke dalam sana dengan menutup pintunya keras, dia lantas melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan apa yang mungkin akan terjadi. Dia terlalu kecewa. Bukan dengan Haidar, tapi dengan dirinya sendiri.
"Akh... hiks..." masih mencoba untuk menahan rasa yang ada. Yumna menggigit bibirnya sendiri untuk meredam tangisnya. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar dari dalam sana.
"AAAKKKKHHHHH...!!!!!" akhirnya suara teriakan itu keluar juga dari mulutnya. Yumna menghentikan laju kendaraannya di jalanan yang sepi.
"BODOHHH!!! KAMU BODOH, YUMNA!!!" teriaknya sekali lagi sambil menggenggam erat kemudinya. Dia sudah tak tahan lagi, entah harus seperti apa meluapkan rasa kesal yang bercokol dalam hatinya kini.
"Hiks... bodoh... hiks... kenapa kamu sampai lupa kalau ada orang lain di sisinya! Bodoh kamu, Yumna. Bodoooh.. hiks...!" Yumna membenturkan kepalanya ke kemudi dengan keras beberapa kali. Berharap jika dengan seperti itu dia bisa menghilangkan kebodohannya yang tak berpikiran dia membeli cincin untuk wanita itu.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa berpikir kalau cincin itu untuknya, dia melupakan apa yang Haidar katakan terakhir kalinya mereka bertemu bahwa dia akan bertunangan setelah mereka bercerai.
"Hiks... kenapa aku lupa. Bodoh!"