YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
229. Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Saya tidak akan memberikan hal yang bukan milik dan hasil keringat saya. Jika Pak Bima tetap menginginkan hal itu, maaf saja. Saya tidak bisa. Saya hanya punya diri saya untuk diberikan kepada putri Bapak."


Bima menatap Haidar dengan tajam, mereka berdua saling pandang dengan keyakinan hati masing-masing. Bima yang ingin mengetahui kesungguhan Haidar, dan Haidar yang sedikit kecewa terhadap Bima yang ternyata tidak seperti yang dia duga sebelumnya. Ayah yang bijaksana, ternyata ambisius akan harta!


Haidar bangkit dari duduknya, membuat Bima menggerakkan kepalanya mengikuti gerakan Haidar.


"Maaf, Pak Bima. Jika Anda bersikukuh dengan apa yang Anda mau tentang saham tersebut, saya memilih mundur. Selama ini saya selalu menjadi beban kedua orang tua saya. Kali ini, saya lebih tidak ingin mereka kecewa lagi lebih dari pada sebelumnya. Maaf. Saya akan datang kepada putri Anda dan meminta maaf padanya. Permisi," ujar Haidar sebelum melangkahkan kakinya dari sana.


Bima menatap Haidar dengan tersenyum kecut.


"Jadi artinya kamu tidak ingin mempertahankan putriku? Apa yang tadi kamu bilang tentang saya yang tidak berhak meragukan perasaan kamu terhadap putri saya?" tanya Bima membuat Haidar menghentikan langkah kakinya. Haidar membalikkan tubuhnya menatap Bima.


Bima tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Buktikan!"

__ADS_1


Haidar terdiam tidak mengerti dengan apa yang Bima katakan barusan. Bagaimana lagi dirinya harus membuktikan kepada Bima? Tidak cukupkah pria itu mengerti dengan apa yang tadi dia bilang?


Bima mengambil sebuah map dan mengangkatnya di tangan. Dia kemudian melemparkan map hijau itu di atas meja di depan Haidar.


"Buktikan dengan itu. Dapatkan dia. dan kamu akan aku setujui bersama dengan putriku jika kamu berhasil membuktikan diri kamu memang layak untuk dia," ujar Bima. Haidar masih terdiam hingga Bima menggerakkan dagunya agar pria muda itu mengambil dan mengeceknya.


Haidar mengulurkan tangannya, mengambil map hijau dan membukanya. Tertulis di sana, kesempatan untuk bekerja sama dengan sebuah perusahaan ternama. Dia membacanya sekilas, mencari poin penting yang tertera di sana. Jangan sampai ini adalah jebakan yang sengaja dibuat Bima untuk menjatuhkan dirinya karena menolak permintaan Bima tadi. Haidar harus berpikir dengan cerdas, jangan sampai dia terjebak dan akhirnya jatuh tersungkur. Bisnis adalah hal yang rumit. Berhasil, atau gagal! Semua tentu ada konsekuensinya. Menang atau gagal, tentu akan ada hal yang terjadi setelah itu.


"Itu adalah jalan untuk kamu mendapatkan restuku kembali. Lakukan atas kerja kerasmu sendiri, dan buktikan jika kamu memang layak untuk putriku!" ujar Bima dengan senyuman di bibirnya.


"Jadi, jika saya bisa mendapatkan kerja sama ini dan kemudian berhasil, Anda akan merestui hubungan kami?" tanya Haidar masih tidak percaya. Bima menganggukkan kepalanya.


"Tentu. Kenapa tidak? Jika kamu tidak bisa memberikan saham Keluarga Rahadian kepada Yumna, maka jadikan proyek itu sebagai persiapan mahar untuk bisa meminang putriku kembali. Kali ini, mahar yang harus kamu bawa untuk meminang Yumna kedua kali tidak akan sama dengan kemarin," ujar Bima lagi.


Senyum di bibir Haidar mulai terbit. Dari raut wajah Bima tidak ada keraguan, atau kebohongan dari sana. Haidar ingin melompat sebagai tanda senang, tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu di depan mantan yang sebentar lagi akan kembali menjadi calon mertuanya.

__ADS_1


"Baik. Saya akan pergi dan pulang untuk memperlihatkan kepada Anda jika saya mampu dan akan mendapatkan restu dari Anda kembali," ucap Haidar lalu pergi dengan membawa amplop itu.


Seseorang keluar dari balik pintu ruangan istirahat yang ada di dalam ruangan Bima. matanya sembab, hidungnya merah. Bima tersenyum ketika mendapati Yumna mendekat ke arahnya.


"Papa!" panggil Yumna, tidak menunggu lagi Yumna berlari dan menghambur ke dalam pelukan sang papa.


"Terima kasih," ucap Yumna seraya menangis.


Bima mengelus kepala Yumna dengan sayang. Anak gadisnya itu menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Bahunya naik turun disertai isak tangis yang terdengar dari mulutnya.


"Terima kasih," ucap Yumna sekali lagi.


"Untuk?" tanya Bima.


"Untuk semuanya, dan untuk berikan Haidar kesempatan kedua."

__ADS_1


__ADS_2