YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
289. Liburan Telah Berakhir


__ADS_3

Yumna kini harus pasrah saat lagi-lagi Haidar membuatnya lelah untuk yang kedua kali. Nyatanya, Yumna juga menikmati saat-saat Haidar memperlakukannya dengan baik, naik turun dan berpeluh bersama di bawah selimut hangat.


Selesai dengan naik turun gunung, keduanya kini tertidur dengan lelap. Sangat lelah sekali akibat permainan di ronde kedua yang memakan durasi lebih lama dari yang pertama tadi. Yumna sampai tidak ingat jika tubuhnya banyak berkeringat, dia hanya ingin beristirahat sekarang ini.


Jam delapan malam Yumna terbangun, terkejut karena melihat jendela tidak tertutup tirai dengan baik, dia melihat suasana di luaran sana yang sudah gelap, hujan gerimis masih saja mengguyur di malam yang kelam itu.


"Haidar, bangun. Sudah malam, kita ketiduran," ucap Yumna sambil menggoyangkan bahu Haidar sedikit kencang. Haidar masih lelah, masih ingin beristirahat karena badannya sedikit pegal pada bagian pinggul.


"Kalau sudah malam ya lanjut tidur, gak usah bangun," ucap Haidar. Yumna memukul bahu Haidar sedikit keras.


"Ish, kita kan mau pulang, Haidar. Ini sudah malam gimana jadinya?" ujar Yumna bingung. Besok harus pergi bekerja, tidak mungkin jika dia harus mengambil libur, bisa jadi dapat surat peringatan untuk yang kedua kali setelah waktu itu dia mendapatkannya saat kesiangan bangun akibat melakukan malam pertama dengan Haidar.


"Besok aja pulangnya, bangun subuh terus pulang ke kota," ujar Haidar dengan malas. Haidar memeluk pinggang Yumna dengan erat, tidak ingin bangun dan terganggu istirahatnya.


"Tapi ...."


"Aku masih ngantuk, Sayang. Lagian malam ini juga masih hujan, kan? Tunggu besok aja, ya. Pagi sekali kita pulang, biar gak telat," ujar Haidar kembali menutup kedua matanya.


Yumna pasrah saja, meski di dalam hati dia ragu apakah mereka bisa pulang tanpa terlambat untuk bekerja. Akhirnya, Yumna menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, sedangkan Haidar memeluk Yumna dengan erat dan tidur di atas pangkuannya dengan nyaman.


Rambut Haidar yang mulai panjang diusap dengan lembut, melihat Haidar yang kembali tertidur membuat Yumna tersenyum tanpa sadar. Wajah itu sangat tampan sekali, hidung yang mancung bak perosotan, rahang yang tegas tanpa helai bulu janggut sama sekali. meskipun Haidar laki-laki, tapi rahangnya bersih dari jenggot dan juga Haidar hanya memiliki kumis yang tipis sekali.


Tangan Yumna juga mengelus perutnya, dia sedang berpikir, jika memiliki anak laki-laki ingin sekali wajah putranya itu mirip dengan ayahnya, dan jika memiliki anak perempuan ingin sekali putrinya mirip dengannya.


"Cepatlah tumbuh di sini, Sayang," gumam Yumna sambil tersenyum penuh harap.


"Dia akan cepat tumbuh, maka dari itu kita harus dan juga jangan menyerah untuk berusaha terus mencetak, Yumna. Kalau bisa sehari sepuluh kali, biar cepat ketampung dan jadi anak," ujar Haidar tiba-tiba membuat Yumna terkejut. Dia kira Haidar sudah tidur lagi.


"Gak sepuluh kali juga, Haidar. Kamu mau bikin aku gak bisa jalan?" ujar Yumna sambil memukul pelan pipi Haidar.


Haidar mengangkat kepalanya dan menatap Yumna. "Hehe, kan kali aja dari sepuluh kali itu ada yang bisa jadi," ujar Haidar sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Haidar memutar tubuhnya agar bisa menatap istrinya dengan sangat jelas. "Yumna, kamu gak mau berhenti kerja dan fokus sama program kita?" tanya Haidar menatap sang istri. Yumna menunduk sambil menatap Haidar, tangannya tidak berhenti mengelus rambut Haidar.


"Aku bingung kalau cuma diam di rumah. Bosan rasanya. Lagian juga kerja kan duduk doang, cuma main otak sama jari aja," ujar Yumna.


"Tetap aja kamu itu capek mikir. Sebenernya aku pengen kamu cuma diam di rumah, gak usah kerja. Biar aku aja yang kerja, kamu fokus sama program kita," ujar Haidar lagi.


"Aku masih ada kontrak, kayaknya habis kontrak ini juga aku diam di rumah. Gak apa-apa kan?" tanya Yumna. Haidar terpaksa mengangguk. Yumna berhak untuk melakukan apa yang dia mau selagi hal tersebut tidak membuatnya mengabaikan tugas sebagai seorang istri.


"Oke, cuma dua tahun kan? Satu tahun empat bulan lagi?" tanya Haidar.


"Kamu hitung?" ujar Yumna sambil tertawa geli. Bahkan, dia sendiri juga tidak ingat sudah berapa lama bekerja di sana.


"Iya, sekitar selama itu."


"Oke, aku akan menunggu kamu sampai selesai, sesudah itu jangan kerja, oke? Biar aku yang jadi suami kamu yang cari uang." Yumna mengangguk sambil tersenyum. Jika sudah selesai dengan kontrak nanti, tidak masalah sepertinya untuk hanya diam di rumah.


"Tapi aku mau minta kerjaan sama kamu aja, ya? Aku kayaknya gak bakalan tahan kalau sampai nganggur," ucap Yumna.


Kruuukkkk!


Suara perut Yumna terdengar dengan sangat jelas di telinga Haidar, membuat laki-laki itu kembali mengangkat kepalanya dan menatap Yumna. "Kamu lapar?" tanya Haidar sambil tertawa. Yumna merasa malu ditanya seperti itu oleh Haidar.


"Aku lapar, lah. Kan ini udah lewat dari makan malam juga," ucap Yumna.


Haidar bangun dan melihat jam yang ada di dinding kamar tersebut. "Oh, ya. Jam delapan malam. Mau makan malam di luar? Atau service room?" tanya Haidar pada istrinya. Yumna menatap keadaan di luaran yang masih gerimis.


"Service room aja. Aku capek kamu kerjain tadi," ucap Yumna. Haidar segera memanggil petugas hotel untuk melakukan pemesanan dari restoran yang ada di hotel tersebut.


"Mau kemana?" tanya Haidar saat melihat Yumna beranjak dari atas kasur.


"Ke kamar mandi."

__ADS_1


"Mau aku bantu siapkan air hangat?" tanya Haidar sambil menggerakkan alisnya naik dan turun.


"Gak usah, aku gak mandi, kok. Cuma bersih-bersih aja," ujar Yumna sambil memakai kimononya dan pergi ke kamar mandi.


Yumna menatap dirinya di cermin, wajahnya lelah, tapi senyumnya mengembang di bibirnya. Entah kenapa berdua dengan Haidar kali ini membuatnya sangat senang sekali. Tidak menyangka juga mereka bisa melakukan kegiatan berpeluh bersama pada siang hari, hal yang jarang mereka lakukan meski saat libur di rumah.


Yumna telah selesai membersihkan dirinya, meski rasanya tidak tahan ingin mandi, tapi dia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya tidak bisa menerima air mandi pada malam hari sampai Yumna akan demam pada keesokan harinya. Makanan telah sampai dan ada di atas nakas, Haidar menunggu Yumna untuk makan malam bersama.


"Sudah sampai? Kenapa kamu gak makan duluan?" tanya Yumna lalu duduk di samping Haidar.


"Mau makan bareng lah. Masa makan sendirian," ujar Haidar, lalu membuka tudung saji yang menutupi piring mereka sehingga terlihat makanan yang Haidar pesankan. Seketika aroma makanan tersebut menyeruak di bawah hidung Yumna.


...***...


Pagi sekali Haidar telah lebih dulu bangun dan sudah rapi dengan pakaiannya yang kemarin, sudah kering karena Yumna menggantungnya semalam. Haidar tidak tega untuk membangunkan Yumna, tapi harus dia lakukan karena mereka harus bekerja pagi ini. Suara dengkuran halus Yumna terdengar sangat pelan, membuat Haidar tidak ingin mengganggunya.


Ragu Haidar mendekat dan akhirnya ingat dengan keinginan Yumna semalam. "Sayang, bangun. Kita terus cek in di sini apa pulang sekarang?" tanya Haidar sambil mengguncang bahu Yumna dengan lembut.


Yumna membuka kedua matanya, masih sangat mengantuk karena tengah malam tadi, Haidar naik gunung lagi dengan durasi yang lebih lama dari naik gunung yang kedua.


"Udah siang?" tanya Yumna sambil berusaha duduk, selimut yang menutupinya tubuh polosnya turun dan memperlihatkan dua buah yang menggantung di dadanya.


"Belum siang, tapi ini jam empat pagi. Kita lanjut liburan di sini apa pulang?" tanya Haidar lagi.


"Pulang, kerja," ucap Yumna. Haidar sedikit kecewa, inginnya hari ini berlanjut sampai sore nanti menikmati waktu berdua di sini.


"Ya sudah, buka mata kamu. Aku siapin air hangat, ya?" ujar Haidar. Yumna hanya menganggukkan kepala dan berusaha untuk mengumpulkan nyawanya. Haidar segera pergi ke arah kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk Yumna.


Yumna mandi, tidak terlalu lama karena mereka harus pulang sesegera mungkin.


"Apa waktunya akan cukup? Gak akan telat?" tanya Yumna dengan khawatir. Meski jam bekerja dimulai pada jam delapan pagi, tapi dia menjadi was-was juga.

__ADS_1


"Gak akan, nanti aku cari jalan alternatif biar gak macet," ujar Haidar.


__ADS_2