YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
79. Haidar Gelap Mata


__ADS_3

Tia baru saja kembali dari toilet. Dia merasa heran karena melihat orang-orang berkerumun di sana. Dan juga heran melihat sudut bibir Seno yang berdarah.


"Seno, kenapa kamu?" tanya Tia. Dia mendekat dan kemudian seorang pria dengan setelan rapi mendekat dan menyerahkan kompresan berisi es batu.


"Tidak apa-apa! Ini hanya kecelakaan!" ucap Seno seraya menerima benda tersebut dari pria itu.


"Maafkan saya karena sudah lalai, Pak. Perlu saya selidiki siapa laki-laki tadi?" tanya pria yang ternyata manajer kafe.


"Tidak usah. Kembali saja bekerja. Ini masalah pribadi." ucap Seno lalu duduk kembali di kursinya.


Pria itu kembali ke dalam kantornya merasa bersalah karena di bawah manajemennya sang bos malah terluka.


Tia membantu membersihkan dan mengobati luka Seno.


"Kenapa sih kamu? Mana Yumna?" tanya Tia.


"Yumna pulang sama suaminya." lirih Seno.


"Ha– Haidar ada disini?" tanya Tia terkejut. Seno hanya mengangguk. Tia meneruskan kegiatannya sedangkan Seno melirik dengan ujung matanya pada seorang perempuan yang kini duduk dengan santai dan minum dengan tenangnya.


"Haidar. Lepasin gue!" teriak Yumna yang kini di seret oleh Haidar masuk ke dalam rumah.


Haidar tidak mendengarkan permintaan Yumna. Dia terus saja menarik Yumna. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun kepalanya.


Beberapa asisten menatap Haidar tak percaya. Bi Nah yang mendengar teriakan Yumna juga langsung lari dari arah belakang dan mendapat Haidar yang tengah diliputi amarah menarik tangan istrinya.


"Mas Haidar. Ada apa ini? Lepasin mbak Yumna, mas. Kasihan. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, Mas!" Tanpa sadar Bi Nah mendekat, ini bukan masalahnya. Dia tidak berhak ikut campur masalah mereka, tapi melihat Yumna yang kesakitan membuatnya tak tega.


"Diam Bi Nah!! Jangan ikut campur!!" bentak Haidar seraya menunjuk dengan lantang ke arah Bi Nah yang sudah membersamai sebagian besar hidupnya.


Bi Nah terdiam. Baru kali ini Haidar membentaknya. Hatinya terasa sakit. Tapi ia tahu, ia juga yang salah. Tapi apakah dia harus diam melihat kejadian di depannya ini? Melihat Haidar yang murka, dan Yumna yang kesakitan?


Haidar terus menarik Yumna ke atas, sedangkan Bi Nah cepat berlari ke kamarnya dan menelfon Mitha.


Brukk!!


Haidar menghempaskan Yumna ke atas ranjang.


"Haidar. Apa yang elo lakuin?!!" teriak Yumna dia berusaha bangkit. Namun, Haidar malah mengungkungnya di bawah tubuhnya.


"Apa yang gue lakuin?" Haidar mencengkeram kedua pergelangan tangan Yumna keras. Yumna mencoba memberontak tapi tak bisa. Kekuatan Haidar tak sebanding dengan kekuatannya.


Bisa Yumna lihat sorot mata Haidar yang memancarkan amarah. Tapi kenapa?!


"Apa elo lupa. Gue lagi melindungi istri gue dari pria lain!" Teriak Haidar. "Jadi itu alasan elo gak masuk kerja hari ini karena elo mau ketemuan sama pria lain, hem?" bentak Haidar.


"Lalu gimana sama elo? Elo bebas ketemuan sama Vio. Meninggalkan pekerjaan cuma untuk pacaran sama dia! Tapi gue gak bisa, gitu?" teriak Yumna, dia menatap Haidar dengan tajam. Menjelaskan ada Tia disana pun sepertinya percuma. Haidar hanya percaya dengan apa yang dia lihat. Pada kenyataannya saat itu hanya dia dan Seno yang di lihat oleh mata Haidar.


"Ingat status elo, Yumna. Elo itu masih istri gue!!"

__ADS_1


Yumna tertawa pelan.


"Istri?! Gue memang istri elo, Hiadar. Tapi elo juga ingat. Kita menikah itu karena apa! Kita itu punya perjanjian. Dan sebentar lagi status itu akan gue lepas! Kita masing-masing akan lepas dari perjanjian itu, elo dan gue akan bebas jalan sama siapapun! Dan kita gak bisa lagi ikut campur masalah yang lainnya!"


"Pers*tan dengan perjanjian!" teriak Haidar lalu dia kalap saat mengingat tangan pria lain menyentuh bibir istrinya.


Mata Yumna membelalak saat Haidar dengan rakusnya melahap bibirnya. Yumna mencoba melawan, tapi tangan Haidar menekannya dengan keras di atas ranjang. Tak bisa berteriak, tak bisa melawan. Yumna hanya bisa mengatupkan rapat bibirnya.


Haidar geram, dengan pria lain saja mungkin Yumna susah terbiasa melakukannya, tapi kenapa dengan dirinya dia tidak mau, yang notabene suaminya!


Haidar menggigit bibir Yumna, hingga bibir itu terbuka dan kemudian melesakkan lidahnya disana. Memaksa Yumna untuk mengimbangi ciumannya. Yang nyatanya Yumna hanya diam.


Yumna hanya bisa merutuki kelakuan suaminya di dalam hati. Air matanya terus menetes tak bisa ia bendung lagi.


Hatinya sakit. Kemana Haidar yang lemah lembut? Kemana Haidar yang selalu menjaga jarak dengannya? Kemana Haidar dengan sifat konyolnya? Haidar yang beringas seperti ini sama sekali tidak dia kenal!


Haidar marah. Ia merasa geram melihat Yumna yang hanya terdiam di perlakuan seperti itu oleh Seno.


"Haidar, minggir! Jangan lakuin itu sama gue!" Yumna mencoba menggerakkan tangannya saat ciuman Haidar turun ke lehernya. Haidar mengigit Yumna disana.


"Akh. Haidar ... Elo b*jingan!" rasa perih di leher Yumna membuat air mata Yumna semakin deras. Ia tak ingin sesuatu terjadi karena Haidar yang sedang gelap mata.


Haidar masih tak sadar dengan kelakuannya. Dia menutup telinga dan tak mau membuka matanya. Dia masih merasa marah dan masih emosi hingga melampiaskannya pada Yumna. Tangannya bergerak untuk menarik paksa kancing baju Yumna hingga terlepas begitu saja ke atas seprai.


Harusnya Yumna tahu itu sedari dulu. Sadar atau tidak, Haidar harusnya ia hindari! Dia tidak mau hatinya terus terluka dengan perlakuan Haidar yang lebih condong pada Vio daripada dirinya.


Yumna sudah lelah. Nyatanya tenaganya sudah terkuras habis karena melawan Haidar yang masih saja kalap.


Haidar tersadar saat mendengar hal itu. Dia melihat bantal yang basah karena air mata Yumna.


Dia perlahan menjauhkan dirinya, melepaskan cengkeraman tangannya dan meninggalkan ruam merah di kedua tangan Yumna. Bibir Yumna bengkak dan berdarah karena ulahnya.


Haidar bangkit perlahan. Tak percaya apa yang sudah ia lakukan pada istrinya. Kancing baju Yumna sudah menghilang di bagian atas. Beberapa bercak merah di leher dan di dada Yumna membuktikan kalau dia telah melanggar janjinya.


"Yumna. Maafin gue! Gue gak sadar dengan apa yang gue lakuin barusan!" ucap Haidar lalu mundur perlahan dan pergi dari sana dengan membanting pintu.


Yumna meringkuk di atas tempat tidur. Dia menangis. Perlakuan Haidar sudah keterlaluan.


Ada apa dengan Haidar? Dia cemburu kah? Cemburu karena dia dan Seno makan siang berdua? Tidak mungkin!


Mitha baru saja sampai di rumah. Bi Nah sampai menelfon dan memintanya pulang pasti ada hal yang serius!


Dia melihat putranya yang dengan penampilan kacau dan terlihat frustasi masuk ke dalam mobil. Dengan cepat mobil itu melesat pergi sebelum dirinya bisa mendekati putranya. Panggilannya pun tidak di hirauan Haidar.


"Anak itu .... Ada apa dengan mereka?" Mitha bertanya pada dirinya sendiri. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Bu, Mas Haidar sudah pergi." Bi Nah menyongsong kedatangan majikannya.


"Iya tadi saya lihat. Bagaimana keadaan Yumna?" tanya Mitha khawatir.

__ADS_1


"Bibi belum lihat lagi, Bu."


Mitha dan Bi Nah segera naik ke lantai atas menuju kamar Haidar.


Pintu terbuka. Mitha datang bersama Bi Nah ke dekat ranjang dimana Yumna sedang menangis.


"Yumna!" panggil Mitha. Yumna yang mendengar suara maminya bangun dan kemudian memeluk Mitha. Tubuhnya bergetar ketakutan. Mitha mengelus punggung Yumna dengan sayang, sedangkan Bi Nah kembali turun ke bawah mengambilkan air untuk Yumna.


"Mami .... Hiks ..."


"Aku takut, Mi. Haidar ... Haidar ..."


"Sudah. Sudah. Kamu jangan takut, ada mami sama papi disini. Kamu jangan takut ya," ucap Mitha berusaha menenangkan menantunya.


Dia menatap sebuah kancing yang terlepas di atas sprei, sepertinya dia tahu apa yang dilakukan putranya. Meskipun mereka sudah resmi dan Haidar bebas melakukannya sebagai suami istri tapi dia juga tidak boleh memaksa Yumna dan melakukannya dengan amarah!


"Ini, Mbak. Minum dulu!" Bi Nah baru saja datang dan menyerahkan air putih untuk Yumna. Mitha menerima gelas itu dan membantu Yumna untuk minum.


"Kamu tenang ya." Mitha menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Yumna. Rambut Yumna telah basah oleh keringat dan juga air mata. Yumna mengangguk meski dia masih sesegukan, tak bisa berhenti.


Mitha memeluk Yumna dan mencoba menenangkan menantunya. Tidak baik baginya banyak bertanya sementara Yumna masih terlihat syok.


...***...


Haidar kembali ke kantornya.


Tina -sekretarisnya-, tak berani masuk ke dalam ruangan karena melihat Haidar yang kembali dengan raut muka tak biasa. Apalagi saat dia menutup pintu tadi, keras hingga rasanya bosnya itu ingin membuat runtuh gedung miliknya.


Tina hanya menatap nanar pintu yang tak bersalah itu. Dia bangkit berdiri lalu kemudian duduk lagi. Beberapa berkas di tangannya harus segera di tanda tangani oleh Haidar, tapi ia tak berani masuk.


Dirinya pernah kena semprot Haidar waktu dulu saat Haidar baru menjabat sebagai CEO, padahal bukan dirinya yang lalai melainkan bosnya sendiri yang terlalu sering keluar hingga pekerjaannya terbengkalai.


Tina bangkit lagi. Dia meyakinkan dirinya untuk berani. Tapi baru saja dia akan mengetuk pintu terdengar teriakkan kekesalan dari dalam sana. Tina kembali lagi ke tempatnya dengan lutut yang bergetar.


'Biarkan saja lah.' batin Tina lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Haidar menatap barang yang kini berserakan di lantai. Dia menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya. Memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ingat akan apa yang tadi dia lakukan pada Yumna.


'Kenapa aku bisa melakukan hal itu pada Yumna?'


Haidar mengusap wajahnya kasar. Dia ingat jelas pria itu yang ada di Lombok. Dan kenapa dia sampai di sini? Yumna menyebutkan dia hanya seorang teman waktu itu, tapi kenapa rasanya Haidar merasa kalau pria itu tidak menatap Yumna seperti biasa layaknya seorang teman? Perlakuan pria itu pada Yumna seperti perlakuan seorang pria pada kekasihnya!


"Aarrgghhhtt!!" Haidar memukul sandaran tangannya dengan kesal, tak peduli dengan tangannya yang sakit.


Dia terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan sampai pandangannya tertuju pada patung kecil yang berada di atas mejanya.


Ya ampun. Vio!!


...****************...

__ADS_1


Ya ampyunnn!!!


Jempol othor sering keseleo. Nama Haidar malah seringnya jadi Axel, dan sebaliknya. Alhasil, harus di revisi sendiri. 😅


__ADS_2