
Sudah hampir jam sembilan malam, dan Yumna masih belum sampai rumah karena harus mengantarkan Haidar terlebih dahulu. Dia melirik ke sampingnya, dengan enaknya Haidar terlelap, berkali-kali kepala pria itu ambruk di atas bahu Yumna. Dan berkali-kali pula Yumna menyingkirkan kepala Haidar.
"Dia modus, apa beneran teler sih?!" gumam Yumna mendorong kepala Haidar yang lagi-lagi bersandar pada bahunya. Namun suara dengkuran halus terdengar dari hidung Haidar. Yumna melambaikan tangannya di depan wajah Haidar tapi pria itu tidak bereaksi sama sekali. Bibirnya berdecap persis seperti bayi.
"Rese! Gara-gara dia jadi kemalaman pulangnya. Mudah-mudahan mama gak marah, nanti!" gumam Yumna lagi.
"Mbak, ini sudah sampai di alamat, rumahnya yang mana ya?" tanya sopir pada Yumna.
"Eh, sudah sampai ya? Sebentar ya pak." Yumna beralih pada Haidar membangunkan pria itu.
"Haidar. Hei. Sudah sampai. Dimana rumahmu!" satu menit, dua menit, tidak ada reaksi apa-apa. Bahkan Yumna sudah mengguncang bahu Haidar cukup keras.
"Emang mbak belum tahu dimana rumah pacarnya ya?" taya pak Sopir memberanikan diri.
"Eh, dia bukan pacar saya pak. Dia cuma orang nyasar yang kebetulan kenal saya." ucap Yumna membuat pak sopir itu meminta maaf dengan rasa malu, karena mengira mereka pacaran.
"Enak saja pacaran sama dia! Meski laki-laki di dunia ini habis juga, mendingan aku sendiri daripada harus pacaran sama pria GJ kayak dia!" monolog Yumna dalam hati.
"Ih dasar KEBO!" berteriak keras pun percuma, padahal Yumna berteriak tepat di samping telinga Haidar.
"Maaf ya pak. Gak tahu nih dia pingsan apa mati! Susah banget di bangunin!" Yumna sudah mulai kesal.
"Mammiii..." Haidar bergumam dan malah membalikan dirinya pada Yumna dan lagi-lagi menyandarkan kepalanya di bahu Yumna, tangan dan kakinya memeluk Yumna dia fikir mungkin sedang memeluk bantal guling, atau seperti gumamannya memeluk 'Mami'.
"Aaaaaa...!!!! Dasar kurang ajar!!!"
Plak.
Bugh.
Bugh.
"Awww!!" Haidar yang menerima tamparan dan pukulan di kepalanya terbangun. Dia linglung, menatap ke sekeliling sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Melihat Yumna yang dengan wajah marah dengan nafas memburu.
"Kok gue di tampar?!" tanya Haidar bingung.
"Bilang aja kalau elo itu modus!!" teriak Yumna. "Pura-pura tidur biar bisa peluk-peluk gue!!" tepat di telinga Haidar membuat pria itu dan pak sopir menutup telinganya akibat lengkingan suara Yumna.
"Eh, emang iya? Gue kira lagi peluk bantal guling di kamar. Sumpah gue gak maksud, sorry. Gue lupa masih ada di taksi." Haidar mengedarkan pandangannya ke luar. "Ini udah sampe ya?" tapi yang di tanya malah diam, memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada, nafasnya masih memburu. Kesal.
"Yee, di tanya malah diam!" cerca Haidar. Yumna mengangkat tasnya bersiap untuk menimpuk pria di sampingnya.
"Eh, eh, jangan KDRP dong." Haidar menghalangi wajahnya dengan tangan takut jika Yumna benar-benar membuat wajahnya babak belur. Tamparan tadi saja masih terasa panas di pipinya.
"Yang benar KDRT!" Yumna membenarkan.
"Itu kan rumah tangga! Segitu maunya elo nikah sama gue sampe nyebut KDRT?"
"Cih najis!!"
"Haha, mau tahu KDRP gak?" tanya Haidar sambil mendekatkan dirinya pada Yumna.
"Gak mau tahu, cepat turun deh lo!" usir Yumna.
"KDRP itu, Kekerasan Dalam Ranah Pertemanan!" jelas Haidar.
"Gue kan udah bilang GAK MAU TAHU!!!" teriak Yumna.
"Maaf, mba, mas. Ini ngomong-ngmong kita turun dimana ya?" tanya pak sopir.
__ADS_1
"Eh, terus aja ke dalam pak." titah Haidar. "Nah, itu di ujung. Rumah cat putih itu, yang ada pohon mangga di depan." tunjuk Haidar.
Sopir pun melajukan taksinya tepat ke alamat yang Haidar tunjuk, dan berhenti tepat di depan rumah sederhana itu.
"Pak tunggu sebentar ya, saya mau ambil uang dulu."
Pak sopir mengangguk.
"Udah gak usah! Biar gue yang bayar entar di rumah, gue udah kemaleman ini!." sergah Yumna.
"Eh, gak bisa gitu dong. Cuma bentar aja!" tutur Haidar membuat pak sopir lagi-lagi bingung dengan tingkah kedua muda mudi penumpangnya ini.
"Ih, elo denger gak sih, gue udah kemaleman ini. Biar nanti gue yang bayar." ucap Yumna lagi sambil membukakan pintu untuk Haidar dan mendorongnya agar keluar dari sana.
"Eh tapi Yumna..."
"Elo mau keluar atau mau gue tendang?"
"Iya-iya, dasar cewek bar-bar! Ya udah elo yang bayar, nanti kalau ketemu lagi, gue akan bayar hutang ongkos gue!" ucap Haidar.
"Pede banget kita bakalan ketemu! Gue akan pura-pura gak kenal sama elo!" sarkas Yumna.
"Sombong banget sih lo!"
"Biarin!"
"Jangan sombong-sombong gitu, ntar gak laku loh!"
"Haidaaaarrr!!! Jangan kurang ajar mulut elo!!!" teriak Yumna semakin kesal.
Pak sopir yang menyaksikan perdebatan dari spion di depannya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kalau mereka jadi pasangan, lucu kali ya! Setiap hari rame!" tanpa sadar pak sopir terkekeh membuat Yumna dan Haidar menoleh bersamaan.
"Saya hanya ingin mengingatkan, anak-anak ini debat sudah hampir sepuluh menit loh."
Yumna dan Haidar terdiam melihat jam di masing-masing pergelangan tangannya.
"Udah keluar deh lo, gue mau pulang!" teriak Yumna.
Akhirnya Haidar menurut keluar dari dalam sana dengan keadaan kesal karena sebelum keluar tadi Yumna mendorong bokongnya dengan menggunakan kaki, mendorong ya bukan menendang. Haidar menatap kepergian taksi itu hingga mengilang di kegelapan malam.
"Dasar cewek bar-bar!" gumam Haidar sambil mengusap bokongnya yang linu pasti akibat ujung heels Yumna yang lancip.
*
*
*
"Yumna kamu dari mana saja?" tanya Lily saat mendapati putri sulungnya baru pulang hampir di jam sepuluh malam. Ini pertama kalinya Yumna pulang lebih dari jam sembilan malam.
"Kan tadi sudah bilang, ketemu Tia lah ma." Yumna mendekat ke arah mamanya.
"Tapi tadi mama telfon, Tia bilangnya kamu udah pulang dari jam delapan. Kenapa baru sampai di jam segini? Ho kamu juga mati!" Yumna merasa sedang di interogasi sekarang, seperti maling yang ketahuan telah mencuri makanan.
Yumna mengeluarkan hpnya dari dalam tas.
"Hehe, batrenya habis. Dan tadi ada insiden sedikit!" ucap Yumna jujur tapi malah membuat Lily khawatir.
__ADS_1
"Insiden apa? Kamu gak celaka kan?" tanya Lily .
"Enggak, cuma ketemu sama teman lama, dan anterin dia pulang dulu." ucap Yumna santai lalu mengeluarkan sebuah undangan untuk Lily.
"Ini, undangan untuk mama dan papa! Tia harap kalau mama dan papa gak sibuk, berkenan untuk datang."
Lily mendengus kesal melihat undangan itu.
"Kok mama kayak gak seneng di undang Tia?" lirik Yumna heran.
"Mama seneng, tapi yang mama mau bukan cuma datang di kondangan nikahan temen kamu, mama maunya ngundang orang buat pernikahan kamu!" cecar Lily.
"Ya ampun, ma. Ini lagi!" Yumna memutar bola mata malasnya. Dia hendak berdiri tapi di tarik oleh sang mama.
"Kapan mau bawa pacar kamu kesini?" tanya Lily mendekatkan dirinya pada sang putri.
"Nanti sebentar lagi!" jawab Yumna malas.
"Jangan lama-lama. Mama gak mau kamu jadi perawan tua!"
"Ih mama, doain Yumna jadi perawan tua!" dengus Yumna tidak suka.
"Ya enggak lah. Masa mama doain anak sendiri jadi perawan tua!" ucap Lily.
"Lah tadi itu apa, mama bilang begitu!" tanya Yumna.
"Mama cuma heran kamu dandan seperti ini mana ada yang mau. Sudah jelas-jelas cantik malah di bikin culun!" ucap Lily kesal seraya menepuk kepala Yumna dengan gemas.
"Mama percayakan aja deh sama Yumna..."
"Gimana mau percaya kalau kamu nya begini? Bisa-bisa lama mama akan dapat menantu, Yumna!" dengus Lily kesal dengan putrinya yang ternyata keras kepala.
"Aaah mama tenang aja deh dalam waktu dekat Yumna akan bawa pacar Yumna kesini, biar mama puas!" ucap Yumna setengah kesal karena terus di desak. "Yumna mau ke kamar, capek! Selamat malam ma." Yumna berdiri mencium pipi mamanya dan pergi ke arah kamarnya.
Lily menatap kepergian putrinya dengan gelengan kepala. Tak lama Bima datang menghampiri sang istri.
"Jangan di paksakan lah, ma. Biarkan saja Yumna menjalani harinya dengan santai. Kasihan dia kalau tertekan seperti itu." ucap Bima pada sang istri.
"Papa lebih baik diam. Memangnya papa tidak mau gitu punya menantu yang bisa membantu di kantor, punya cucu yang bisa di ajak main?" tanya Lily menggeserkan tubuhnya menjauh dari jangkauan bibir Bima yang mulai tidak mau diam di lehernya.
"Ya mau lah." Bima beringsut, mendekat ke arah sang istri.
"Ya kalau papa mau, dukung mama dong. Bantuin mama buat pegaruhin Yumna biar dia cepet cari calon! Kan nanti kalau punya cucu siapa juga yang akan senang, he?!" Lily menepis tangan sang suami yang sudah masuk ke dalam bajunya dan hampir menyentuh dadanya.
"Jangan pikirkan cucu dulu. Masih lama juga waktunya sampai dia lahir. Mending kita bikin baby sendiri yuk." Tangan Bima sudah tidak bisa di kondisikan. Mulai menekan, dan mem*lin tonjolan di dada istrinya. Bibirnya tak berhenti mencium dan mencumbu leher sang istri meninggalkan bekas merah di sana.
"Pahh...sshhh...paph" Lily sudah tidak kuat bertahan. Bima paling tahu mana titik yang menjadi kelemahannya. Lily meremas belakang kepala Bima, satu tangannya menuntun tangan Bima yang lain untuk bermain di dadanya.
Mereka sudah di lingkupi nafsu membara, tidak sadar dimana mereka berada sekarang.
"Ekhemmm!!" suara seseorang membuat aktifitas mereka berhenti. Lily dan Bima menjauh sama-sama merapikan pakaiannya masing-masing. Wajah Lily memerah menahan malu, sedangkan wajah Bima terlihat biasa saja malah seperti yang sedang menahan kesal karena di ganggu.
"Lebih baik kalian ke kamar, tidak baik bercinta disini." Usirnya yang tidak lain tidak bukan adalah Yumna yang kembali turun ingin mengambil minum ke dapur, tapi malah melihat adegan 21plus disana, masih mending belum plus-plus. Membuat jiwa jones Yumna mendadak merana. Hareudang euy 😅.
"Memang kenapa? Mau? Cari suami sana!" ujar Lily santai lalu menarik tangan suaminya.
"Ayo, sayang. Kita lanjutkan di kamar! Tidak baik kalau anak di bawah umur seperti Yumna melihat!" sindir Lily. Yumna melongo mendengar penuturan mamanya.
"Ayo. Benar kata kalian kita lanjutkan di kamar. Yuk aahhh!" Bima bangkit lalu menggendong istrinya ala bridal ke kamar, Lily menyenderkan kepalanya dengan manja ke ceruk leher suaminya. Yumna menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orangtuanya yang kembali seperti ABG.
__ADS_1
"Dasar tua-tua keladi!" gumam Yumna menatap mama dan papanya yang menghilang di balik pintu kamar.
Yumna segera pergi ke dapur untuk mengambil air dingin untuk mendinginkan otaknya yang tiba-tiba terasa panas.