
Menjelang sore hari persiapan pesta sudah hampir selesai, hanya tinggal menunggu kehadiran si bintang pesta datang dan membuat suasana ini menjadi lengkap dan juga meriah.
Matahari sudah berada di ufuk barat, suasana kota semakin hiruk pikuk karena aktifitas yang tidak akan pernah ada matinya. Mobil Haidar melaju di antara mobil-mobil yang lainnya, dengan senyum yang mengembang lebar, laki-laki itu bersiap untuk menjemput sang istri dan membawanya ke tempat pesta.
Dia melirik ke arah sampingnya, tersenyum melihat sebuket bunga mawar putih yang ada di sana. Semangat sekali Haidar pergi berkendara untuk menjemput sang istri ke tempat pesta. Dia tidak sabar melihat raut wajah Yumna dengan pesta yang akan dia buat, semoga saja istrinya itu akan menyukainya.
Sementara itu di kantor, Yumna tengah bersiap untuk pulang. Semua barang yang dia bawa sudah dimasukkan ke dalam tasnya. Cukup lelah tubuhnya hari ini, tidak seperti biasanya. Sepertinya kehamilan ini telah membuat tubuhnya berubah menjadi cepat lelah.
Surat pengunduran diri sudah dia berikan ke pada pihak HRD, meski mendapatkan protes dan juga omelan yang lumayan cukup membuat telinga menjadi panas, juga bujukan untuk tetap lanjut bekerja yang berupa cuti hamil dan melahirkan, pun dengan ancaman denda yang pernah disebutkan di dalam perjanjian kontrak, tapi Yumna tak bergeming baginya denda sebesar itu sangat mudah untuk dia berikan. Masih banyak sisa di dalam tabungan meskipun dia mengeluarkannya untuk itu.
"Kalau kamu akan keluar, aku nggak ada teman dong," ucap Mira sedih. Dia merasa sangat kehilangan saat Yumna mengatakan akan resign demi buah hatinya ini.
Yumna menjadi merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi, dia juga sudah berjanji untuk beristirahat jika mengandung.
"Maaf, ya habis aku dulu bilang sama suamiku kalau hamil akan istirahat di rumah," ucap Yumna. Mira mengembuskan napasnya pelan dan juga berat. Dia sadar jika dirinya tidak boleh membuat ibu hamil ini merasa terbebani.
Dua orang itu berjalan ke luar, sudah tampak mobil Haidar menjemput di luar perusahaan tersebut, dengan Haidar yang bersandar pada pintu dan menunggu sang istri pulang bekerja. Haidar melambaikan tangannya pada Yumna dan dibalas juga dengan lambaian tangan oleh istrinya. Semua hal itu terlihat oleh beberapa teman Yumna yang juga ada di sana, menatap kagum pada sosok laki-laki yang kini mendekat ke arah Yumna.
"Ih yang seneng dijemput suami, tapi juga jangan segitunya bohongin publik. Totalitas banget sih pengen terlihat kaya!" ujar seorang wanita menyindir Yumna membuat wanita itu menurunkan tangannya dengan raut wajah yang kecewa.
"Tukang kebun mah ya tukang kebun aja lagi, jangan sok pake baju dan mobil punya majikan. Nggak tau malu banget sih jadi orang!" tambahnya lagi.
Rasanya mendengar ucapan itu membuat Yumna menjadi marah. Meski iya dia tidak berharap temannya percaya, tapi setidaknya perkataan itu tidak juga keluar seperti demikian.
"Hei kalian ini, kalau emang nggak pengen percaya ya udah, cukup diam aja, nggak usah segitunya. Punya mulut kok nggak dijaga!" ucap Mira kesal sedangkan Yumna yang ingin berbicara kini hanya diam karena sudah ada Mira yang meledak marah kepada dua wanita itu.
"Ya emang bener kan? Kalau emang tukang kebun mah ngapain juga susah payah bikin terkesan gini? Percuma, tuh baju sama mobil juga dapat minjem. Percuma kalau statusnya aja masih tukang kebun!" ucapnya tak ingin kalah.
__ADS_1
Debat terjadi antara Mira dan dua orang itu, sedangkan Yumna sedang berusaha menahan perutnya yang tiba-tiba saja tidak nyaman. Ingin muntah rasanya melihat dua wanita julid di depannya ini.
"Ada apa ini?" tanya suara seseorang dari belakang Yumna yang membuat semua orang yang ada di sana menolehkan kepalanya. Randy baru saja turun bersama dengan seorang laki-laki tampan yang sangat berkharismatik, membuat beberapa wanita yang ada di sana terperangah mengagumi ketampanannya meski pun usianya tak lagi muda.
"Tidak apa-apa, Pak Randy. Kami hanya sedang mengobrol saja," ucap wanita itu mengelak.
"Saya tidak suka jika ada debat di sini, ini masih wilayah kantor, kalau kalian mau debat silakan di luar sana," ucap Randy terlihat kesal. Dia tersenyum malu kepada laki-laki yang ada di sampingnya. Sementara Bima, laki-laki yang bersama dengan Randy menatap Yumna yang tengah pucat dan memegangi perutnya.
"Yumna. Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima mendekat ke pada sang putri. Yumna yang dipanggil mendongak dari pandangannya di lantai dan terkejut saat melihat sang ayah ada di sana.
"Papa?" ucap Yumna tanpa sadar, lebih terkejut melihat sosok itu. Yumna mengatupkan mulutnya saat seseorang mengulangi ucapannya barusan.
"Kenapa kamu pucat? Kamu sakit?" tanya Bima khawatir, menyentuh pundak Yumna, putrinya itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Enggak apa-apa. Aku baik kok," ucap Yumna berusaha tersenyum, dia melirik ke arah yang lain yang tampak terkejut.
"Eh, kayaknya aku kenal deh sama Bapak ini," bisik seorang wanita menyenggol lengan si wanita julid. "Ini seperti bos suamiku di kantor, aku pernah ikut ke pesta pembukaan kantor cabang baru," tambahnya.
"Be-beneran?" tanya wanita julid lalu mengatupkan mulutnya saat Bima dan Randy menatap mereka dengan tajam.
"Pak Randy, perkenalkan ini putri pertama saya. Waktu di pesta kemarin saya belum mengenalkan Yumna pada Anda," ucap Bima, sontak semua yang ada di sana membuka mulutnya. Membuat terkejut beberapa orang yang ada di sana.
"Iya, saya sudah tau. Aldy yang memberi tau saya. Saya sangat terkejut sekali karena tidak menyangka jika Yumna adalah putri sulung Anda," ucap Randy. Jujur saja Randy sangat malu sekali karena tidak menyadari jika Mahendra yang ada di belakang nama Yumna adalah nama yang sama dengan laki-laki yang dia kagumi ini.
Para wanita yang ada di sana semakin takut dengan kenyataan yang mereka terima kali ini. Jika saja mereka tahu dari awal, tidak akan mereka menyepelekan Yumna atau bahkan mengganggunya.
Haidar sadar dengan adanya seseorang yang ada di sana, dia yang telah berjalan melajukan kakinya lagi lebih cepat ke arah di mana istri dan mertuanya berada.
__ADS_1
"Papa," sapa Haidar setelah sampai di dekat Yumna. Para wanita itu menunduk dalam saat Yumna menatap mereka. Mira yang ada di sana tersenyum puas melihat para wanita itu hanya menunduk takut dan tidak bisa berkutik sama sekali.
"Takut kan? Makanya, setidaknya kalau pun tidak tau jangan sepelekan orang lain. Mau kalian aku laporin sama Pak CEO biar dituntut?" ucap Mira puas melihat wajah pucat keduanya.
"Ka-kami permisi dulu. Bus sudah datang," ucap salah satu dari mereka, lalu dengan langkah cepat melarikan diri karena malu setelah berpamitan kepada Randy dan juga Bima.
"Apa kita harus ke rumah sakit?" tanya Bima sekali lagi. Yumna menggelengkan kepala dan meraih tangan Haidar.
"Nggak usah, Pa. Aku nggak apa-apa, ini karena aku nggak pake lipstik aja makanya kelihatan pucat," ucap Yumna beralasan.
"Yakin?" tanya Bima lagi tidak percaya.
"Iya, aku yakin," ucap Yumna.
"Beneran kamu nggak apa-apa? Saya khawatir dengan keha---"
"Nggak apa-apa, Pak. Saya baik-baik aja, cuma tadi nggak sempat pake lipstik aja," ucap Yumna dengan cepat memotong ucapan Randy. Dia lalu menyenggol lengan Mira untuk membantunya.
"Iya, Pak. Tadi kita nggak sempat ke kamar mandi buat pake riasan, soalnya takut kalau ketinggalan yang lain, waktunya nggak cukup," ujar Mira dengan gelagapan, semoga saja alasan mereka cukup untuk membuat atasan mereka diam.
Randy terdiam, seakan paham dengan apa yang Yumna mau. Apakah Pak Bima belum tahu?
...***...
Mari mampir dulu ke sini, yuk
__ADS_1