
"Aku siap," ucap Yumna yang membuat Haidar tersenyum senang. Takut, tapi Yumna harus melakukan hal yang seharusnya, memberikan hak untuk Haidar dan melakukan kewajiban dirinya sebagai seorang istri.
Yumna memeluk leher Haidar, menatap suaminya itu dengan lekat.
"Kamu yakin?" tanya Haidar tak kalah menatap Yumna dengan lembutnya.
Yumna menganggukkan kepalanya. "Jangan bertanya terus, nanti kalau aku jadi menolak bagaimana? Kamu mau menunggu lama lagi?" tanya Yumna. Haidar terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak lah. Aku mau malam ini."
Tanpa banyak bicara lagi Haidar mendekat dan mengecup bibir Yumna dengan lembut, perlahan dia mendorong tubuh Yumna berbaring dan menyingkirkan hp Yumna ke atas nakas. Suara decapan dari mulut keduanya terdengar dengan sangat jelas sekali memenuhi ruangan tersebut.
"Ah." Satu des*han lolos dari bibir Yumna saat merasakan desir darahnya yang mengalir dengan cepat membuat dadanya berdegup sangat kencang akibat sentuhan Haidar yang mulai meraba punggungnya. Haidar tidak menjeda apa yang dia lakukan, menyedot, menarik, dan mengabsen semua yang ada pada area mulut wanita itu. Mendengar suara lembut itu membuat Haidar menjadi sangat bersemangat sekali. Dia mulai menggerakkan tangannya untuk membuka seluruh kancing piyama Yumna.
Yumna menatap Haidar saat laki-laki itu melepaskan ciumannya, mereka saling bertatapan satu sama lain dengan penuh cinta serta kelembutan. Yumna memalingkan wajahnya ke arah lain, menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang masih terbungkus kain.
Haidar menyingkirkan kedua tangan Yumna dari sana. Pasrah, Yumna tidak lagi menutupi tubuhnya, hanya saja dia tidak kuasa menatap Haidar karena saking malunya. Tanpa berbicara, Haidar mendekat kembali untuk meraih kulit leher wanita itu, memberinya tanda merah di samping tanda yang telah dia buat siang tadi.
"Ah ... Haidar!" Deru napas Yumna terdengar dengan menyebut nama suaminya. Haidar tidak berhenti melakukan hal tersebut, sangat lembut sekali memperlakukan Yumna seakan wanita itu adalah barang antik yang harus dia perlakukan dengan sangat lembut sekali dan sangat hati-hati.
Perlahan ciuman tersebut turun hingga ke bawah, ke tengah area yang masih tertutupi kain berbentuk kaca mata berenda. Tangannya melingkar ke belakang untuk membuka kaitan dari satu sama lain sehingga terbebaslah kini dua benda yang ada di dalamnya.
"Ha-Haidar. Aku malu," ucap Yumna menutupi tubuhnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain mendorong dada Haidar.
"Kenapa harus malu?" tanya Haidar menatap Yumna. Lagi-lagi Yumna mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Aku malu. Boleh gak kalau lampunya dimatikan?" tanya Yumna pelan hampir tidak terdengar. Haidar mengangguk, tersenyum, dan pergi untuk mematikan lampu utama kamar tersebut sehingga kini yang tersisa hanyalah sorot dari luar kamar Yumna yang sedikit menembus tirai tipis berwarna putih.
"Sudah dimatikan. Boleh kita lanjutkan?" tanya Haidar. Yumna mengangguk pelan.
__ADS_1
Haidar membuka kaos yang dia pakai, membuat dada Yumna berdegup dengan sangat kencang sekali melihat bayangan Haidar yang sedang melemparkan kaosnya ke lantai.
Haidar mendekat kembali, memberikan ciuman serta sentuhan lembut pada tubuh Yumna yang kini menegang. Tangan besar itu perlahan menyusuri tubuh Yumna yang tak terbalut kain. Ciuman dan sentuhan lembut itu perlahan membuat Yumna menjadi rileks dan benar pasrah. Dia serahkan semuanya kepada Haidar malam ini.
Selimut yang ada di kaki Yumna dia tarik sehingga menutupi tubuh kaduanya hingga sampai di kepala.
"Kamu sudah siap? Aku akan lakukan dengan sangat pelan," ucap Haidar, Yumna tidak menjawab, hanya saja dia mengangguk pelan memberikan akses masuk untuk Haidar. Kedua pahanya dia buka lebar-lebar untuk mempersilakan Haidar berlaku sesukanya.
Dengan perlahan Haidar mulai mengarahkan miliknya, menggesekkan ujungnya ke kulit sensitif Yumna yang masih kencang. Sekali lagi tubuh Yumna menegang atas perlakuan Haidar di sana. Terkejut dan juga takut masih mendominasi pikirannya.
"Akh!" seru Yumna merintih, bibir bawah dia gigit saat merasakan sesutu di bawah sana membuatnya perih.
Sadar dengan wajah Yumna yang kesakitan, Haidar menghentikan gerakannya mendorong, dia kecup bibir Yumna dan membawa wanita itu rileks kembali. Memang sakit Haidar rasakan pada miliknya, Yumna masih tersegel sehingga membuat kepala yang ada di bawah tidak mudah untuk mengintip ke arah dalam.
Kembali Haidar mendorong tubuhnya ke depan dan membuat Yumna lagi-lagi meringis kesakitan. Haidar menarik kepalanya dan melihat air mata kini telah membasah di tepian mata istrinya tersbut.
"Apa sakit? Apa kita lakukan lain kali saja?" tanya Haidar dengan rasa bersalah. Yumna menggelengkan kepalanya dan melingkarkan kedua tangannya ke belakang leher Haidar.
"Aku akan pelan, kamu tahan sedikit, ya?" ucap Haidar, mendapatkan jawaban Yumna berupa anggukkan kepala membuat Haidar jkembali bergerak di atas tubuh Yumna dengan pelan.
"Akh! Sakit!" ucap Yumna menarik tubuh Haidar semakin mendekat ke arahnya, dia mengigit bahu Haidar tanpa sadar saat laki-laki itu kembali mendorong tubuhnya dan memaksakan sesuatu memasukinya. Perih, sakit. Benar kata yang lain, sakit ini tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
"Akh! Sem-sempit sekali," ucap Haidar dengan susah payah mencoba untuk menjebol gawang milik Yumna. Mliknya terasa linu, sungguh tempat yang sedang dia jelajahi sangat sempit dan tidak mudah untuk dimasuki.
"Yumna!" des*h Haidar berbisik di dekat telinga Yumna. Sakit pada bahu dia abaikan, ingin rasanya segera menyelesaikan misinya untuk memberikan keturunan bagi keluarga Rahadian dan juga keluarga Mahendra.
Yumna tidak lantas melepaskan gigitannya, dia juga tidak sadar jika telah menancapkan kukunya pada punggung Haidar saat laki-laki itu terus menggesek di dalam lubang miliknya. Rasa perih belum juga mereda, apalagi di saat dia merasakan kepala itu tertahan di ujung dan ....
"Akh, sakit!" teriak Yumna tanpa sadar saat merasakan sesuatu yang sobek di dalam sana. Lagi-lagi dia menancapkan kukunya lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Yumna!" teriak Haidar, ada rasa lega dan juga nikmat saat berhasil lolos dari ujung yang sulit ditembus semenjak tadi. Terpaksa sedikit menghentak agar dia bisa meloloskan miliknya dan tidak membuat Yumna kesakitan lebih lama lagi.
Menatap wajah istrinya yang terkena sinar temaram dari luar, nampak wajah kesakitan itu kini mengeluarkan air matanya kembali. Haidar mengecup kening Yumna dan tersenyum. Dia kembali mengecup bibir Yumna dan melesakkan lidahnya, kembali bermain dengan benda kenyal tersebut yang sedikit bergetar.
Rasa sakit masih terasa akibat hentakan Haidar tadi, tapi Yumna tidak mau mengatakannya. Dia tidak mau membuat Haidar kecewa karena bisa saja jika Haidar memilih menyudahi kegiatan mereka.
"I love you," ucap Haidar, sekali lagi kening itu dikecupnya dengan lembut. Haidar kembali bergerak saat melihat istrinya sudah tidak nampak kesakitan lagi. Meski masih terasa sakit dan perih, tapi Yumna bisa merasakan hal yang lain di bawah sana. Darahnya berdesir dengan cepat, detak jantungnya berdetak dengan tidak karuan saat Haidar bergerak kembali di atasnya.
Maju, mundur. Naik, turun. Di bawah selimut itu kini keduanya saling menatap dan juga merasakan kasih sayang satu sama lain. Mencetak generasi penerus untuk keluarga besar mereka.
"Haidar, aku ... mau pip–. Akh!" ucap Yumna tertahan saat bibir Haidar menyambar mulutnya. Yumna sedikit panik akan rasa panas yang ada di bawah sana. Dia benar ingin pergi ke kamar mandi sekarang ini, sehingga tangannya memukul bahu Haidar.
"A-aku harus ke kamar mandi," ucap Yumna terbata di antara gerak tubuhnya yang diguncang oleh Haidar dengan gerakan yang cepat.
"Keluarkan saja di sini, tidak apa-apa," ucap Haidar. Deru napasnya sangat tidak karuan akibat pergulatan mereka yang masih belum selesai.
"Tapi–." Ucapan Yumna tertahan saat Haidar lagi-lagi membungkam bibirnya dengan ciuman yang panas. Tanpa terasa Yumna sudah mengeluarkan ca*ran ci*ta pertama miliknya. Rasanya sangat nikmat dan tidak lagi merasakan sakit di sana.
Haidar tersenyum tatkala area kesat itu kini menjadi licin, dia berhenti sejenak saat milik Yumna berkedut memijat miliknya. Haidar bergerak kembali, menikmati sesuatu yang baru pertama kali ini dia nikmati. Lepaslah perjakanya kini oleh istrinya sendiri.
Sakit sudah tidak Yumna rasakan lagi, berganti dengan rasa nikmat yang tidak bisa dia gambarkan. Entah berapa lama mereka melakukan penyatuan, bertukar peluh dari tubuh masing-masing dan tidak peduli jika malam terus saja merangkak naik. Hingga akhirnya ....
"Yumna, aku mau ke–." Belum sempat Haidar berkata, sesuatu menyembur dari dalam miliknya sehingga membuat Yumna terkejut dan membusungkan tubuhnya. Kedutan pada milik Haidar membuatnya merasakan nikmat yang lain dan juga panas di rahimnya. Benih milik Haidar kini tersebar ke dalam rahim Yumna.
"Terima kasih, Yumna," ucap Haidar lalu mencium kening Yumna dengan lembut beberapa kali. "Terima kasih, My Lovely."
...******...
Fix sudah ya, yang menunggu malam pertama Yumna-Haidar. Maaf kalau kurang HOT😅. Takut gak lolos dan Othor juga pengen jadi anak baik sebenarnya 😇, hehe.
__ADS_1
Like loh, Othor menuntut jempol. Mana jempol, jempol, jempol. Pokoknya jempol! Komentar juga ditunggu. Hihi.
Mampir juga yuk, ke cerita temen Othor, masih baru dan hangat loh. Dinikahi Anak Majikan, karyanya Kak Anisa Dwi Septia Ningrum.