
"Yumna, bisa kita bicara?" tanya Bian saat Yumna dan Syifa sudah naik ke lantai atas.
"Ya sudah, aku duluan ke kamar. Kakak jangan malam-malam balik ke kamar ya," pinta Syifa.
"Oke," jawab Yumna lalu mengikuti langkah sepupunya itu pergi ke balkon di luar.
Syifa menatap kamar yang luas milik Yumna jika berkunjung kemari, rasanya sedikit takut juga dia di sini, tempat asing yang jarang dia kunjungi. Akhirnya Syifa memutuskan untuk pergi ke kamar adiknya.
"Ada apa?" tanya Arkhan yang membuka pintu. Syifa masuk meski tanpa izin dari adiknya itu.
"Ikut di sini, di kamar Kak Yumna serem sendirian," ucap Syifa. Kening Arkhan mengkerut mendengarnya.
"Emang Kak Yumna kemana?" tanya Arkhan.
"Lagi bicara sama si Bibi," jawab Yumna.
"Bibi?" Kerutan itu semakin dalam dan banyak.
"Bian, ah masa gitu aja gak paham!" ujar Syifa kesal lalu duduk di tepi ranjang. Adik bungsunya sudah terlelap sedari tadi sehingga tidak terbangun saat Syifa duduk di sana.
__ADS_1
"Oh, terus ngapain elo di sini? Gak ikut sekalian ngobrol?" tanya Arkhan .
"Gak lah, gak ada urusan juga. Numpang di sini, gak ada temennya di kamar sana," pinta Syifa. Arkhan mengangkat kedua bahunya yang berarti 'terserah' untuk kakaknya itu.
*
"Gimana hubungan kamu sama mantan suami? Masih nyambung?" tanya Abian setelah mereka duduk di kursi yang ada di sana, terpisahkan oleh meja yang ada di tengah mereka.
"Masih. Tapi lagi gak ada dia," jawab Yumna.
"Kemana?" tanya Bian.
"Misi apa?" tanya Bian bingung.
"Ah, apa aku harus bicarain ini juga sama kamu?" tanya Yumna. Rasanya tidak semua hal bisa dia bicarakan dengan laki-laki ini.
"Gak juga sih, tapi ya kali aja aku bisa bantu kan?" tanya Bian sekali lagi. Yumna hanya diam, dia menggelengkan kepala. Bukan tidak yakin juga jika tidak bisa membantunya, tapi Yumna berpikir untuk tidak membuat orang lain ikut campur dengan segala urusannya.
"Gak mau cerita?" tanya Bian, sedikit kecewa melihat Yumna yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak ah, ini urusan pribadi. Maaf," ujar Yumna, memutuskan untuk tidak semua hal orang lain tahu tentang dirinya.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu gak salah apa-apa, gak masalah kalau kamu gak cerita," ujar Bian, Yumna merasa tidak enak hati. Bian yang selama ini seringkali menemaninya di kala hatinya sedih dan gundah.
Suara dering telepon terdengar di kamar Yumna, menyala dan mati tanpa ada yang menyentuhnya untuk menjawab panggilan sedangkan pemiliknya masih berbincang di luar.
***
Yumna dan ketiga adiknya menikmati waktu liburan mereka yang singkat di Surabaya. Bian setia menemani mereka berempat ke mana pun mereka mau, benar-benar puas selama dua hari di sana sehingga Syifa kelelahan.
"Coba kalau liburan kita masih panjang, aku masih mau pergi ke tempat lain," ujar Syifa sambil merebahkan dirinya di kursi sofa yang sejak tadi dia duduki. Yumna yang duduk di samping adiknya itu tersenyum.
"Lain kali, kalau kamu libur semester. Gak apa-apa kan, Nek, kita ke sini lagi?" tanya Yumna pada sang nenek. Kue hangat tersedia di depan meja dan sedang dinikmati oleh si kembar dan juga Bian.
"Tentu gak apa-apa, kapan pun kalian mau datang, datang saja. Tidak perlu pergi ke hotel, datang saja kemari kapan pun kalian suka," ujar Nenek Melati. Yumna dan yang lainnya tersenyum senang karena keramahan nenek angkat mereka ini.
"Sebelum pulang, nanti sore Yumna mau ke makam Papa Azka," celetuk Yumna. Melati mengangguk dan mengatakan akan ikut serta juga.
"Kami juga ikut," ujar salah satu dari si kembar.
__ADS_1
Syifa juga tidak kalah ingin ikut, tidak mungkin dirinya sendirian ditinggal di rumah. "Aku juga ikut, deh."