
Yumna tidak bisa menahan dirinya untuk terus tersenyum. Semakin lama semakin dekat dirinya dengan Haidar. Akan tetapi, ketakutannya masih tetap sama. Bagaimana jika kedua orangtuanya tidak merestui kembalinya hubungan mereka, dan lagi, adiknya, apa mereka akan menerima kembali Haidar di sisinya?
"Yumna," panggil Bima setelah masuk ke dalam ruangan dimana Yumna berada.
"Iya, Pa?" Yumna menutup berkas yang ada di hadapannya.
Bima duduk di kursi di depan Yumna.
"Ada apa? Apa ada yang harus aku lakukan lagi?" tanya Yumna pada ayahnya.
"Tidak ada apa-apa. Papa cuma mau ketemu saja sama kamu," ucap Bima.
Yumna melirik Bima, lalu menundukkan kepalanya. Dadanya berdebar dengan cukup cepat. Rasa takut tiba-tiba saja menggelayuti pemikirannya. Ada apa? Kenapa? Dan beberapa pertanyaan lagi terbersit di kepalanya tanpa dia bisa berkata secara langsung.
"Kamu dan Haidar. Apa kalian kembali bersama?" tanya Bima dengan ada yang datar.
Deg!
Dada Yumna semakin berdebar, napasnya juga serasa terhenti. Bingung dia harus menjawab apa yang paling penting adalah, bagaimana jika Bima tidak merestuinya kembali dengan pria itu.
"Jawab!" ucap Bima dengan nada yang tegas.
Yumna semakin menundukkan kepala, melihat lututnya sendiri.
"Iya," jawab Yumna lirih.
Bima menghela napasnya mendengar jawaban Yumna. Kelakuan gadis itu dan juga sura yang terdengar ketakutan membuat Bima tidak enak hati sebenarnya. Akan tetapi, semua ini harus dia lakukan untuk mengetahui kebenarannya dari mulut putrinya sendiri.
"Sejak kapan?"
Yumna semakin menunduk.
"Sudah lumayan lama," jawab Yumna, masih tidak kuasa menatap sang ayah yang ada di hadapannya menatap Yumna dengan tajam.
"Kenapa kamu gak bilang sama Papa?" tanya Bima dengan lembut nada suaranya kali ini. Yumna mengangkat kepala, tidak menyangka dengan apa yang papanya katakan barusan.
"Apa ... Papa gak marah?" tanya Yumna hati-hati. Yumna melihat senyum di bibir Bima terbit dengan perlahan. Rasa takutnya perlahan menghilang, meski tidak sepenuhnya.
__ADS_1
"Kalau kamu bahagia, kenapa juga Papa marah?" tanya Bima balik.
"Jadi ... Papa setuju aku balikan sama Haidar?" tanya Yumna takut-takut. Bima menggelengkan kepalanya.
"Suruh saja dia datang ke rumah. Vote akan diadakan apa dia layak atau tidak untuk kembali bersama dengan kamu," ucap Bima. Yumna menatap papanya tidak percaya.
Vote?
"Astaga! Papa kira Haidar itu barang lelang?" tanya Yumna dengan kesal. Bima hanya mengangkat kedua bahunya tinggi seraya mencebikkan bibirnya.
Yumna menggelengkan kepalanya perlahan, tidak mengerti dengan apa yang baru saja papanya ini katakan, Vote? Kenapa harus mengambil suara hanya untuk hubungan mereka kembali? Iya kalau vote setuju lebih banyak, kalau tidak? Apakah tidak ada harapan?
"Kenapa?" tanya Bima yang melihat Yumna menggelengkan kepala.
"Kalau soal vote, mendingan jangan deh. Dia bukan barang," ujar Yumna dengan kesal.
"Sudah lah, mending aku sendiri saja kalau memang Papa ingin vote-vote segala. Gak sopan!" cerca Yumna dengan kesal. Dia tidak peduli dengan siapa dia bicara.
Keterlaluan sekali Papa ini!
"Memangnya Papa salah kalau melakukan hal itu? Keluarga kita kan keluarga besar, bisa saja kalau ada yang tidak setuju dengan dia," ucap Bima dengan cuek.
Yumna memutar bola mata malas. Memang benar dengan hal itu, mereka keluarga besar, tapi tidak juga vote untuk melakukan pemilihan setuju dan tidaknya.
"Sudah lah, Papa pergi saja. Kalau sampai melakukan vote apa tidak membuat Haidar marah? Papa tidak sopan, dikira apa pake vote. Yumna mending sendiri saja kalau begitu. Biar menjomblo dan gak tau sampai kapan menikah lagi!" ujar Yumna kesal.
"Yum–,"
"Sudah lah, Pa. Jangan perpanjang lagi pembicaraan ini. Papa bilang setuju dengan Haidar, tapi kalau caranya seperti ini juga aku yang tidak mau!" ujar Yumna sangat kesal.
"Aku banyak pekerjaan. Kalau Papa tidak ada pembahasan soal pekerjaan, Yumna mau lanjut urus semua berkas ini." Usir Yumna pada Bima tanpa menoleh sama sekali.
Bima menatap putrinya tidak percaya. Dia bangkit dari duduknya dan menatap putrinya sekali lagi. Pria yang tak lagi muda itu meninggalkan sang putri yang terlihat sangat kesal.
Yumna menyimpan pulpen yang ada di tangannya dengan kasar ke atas meja. Dia mendengkus kesal kala mengingat pembicaraan dengan ayahnya tadi. Tidak terima jika Haidar datang hanya untuk mendapatkan vote suara terbanyak.
Yumna kembali mengambil pekerjaannya dan segera menyelesaikan apa yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Pikiran Yumna menjadi tidak tenang, sepertinya butuh teman untuk bicara. Yumna mengambil hpnya dan menghubungi Tia.
"Tia, bisa bertemu sore nanti?" tanya Yumna pada sahabatnya itu.
"Hem, baik lah. Ke rumah saja. Aku lagi gak bisa keluar rumah," ucap Tia dari seberang teleponnya.
"Oke, aku akan ke rumah nanti sore."
Sepulang bekerja, Yumna pergi ke rumah Tia dengan menggunakan taksi. Dia sudah pamit pada Bima jika tidak akan langsung pulang. Seperti biasa, Bima menyuruh seseorang untuk membuntuti Yumna.
Yumna sudah sampai di rumah Tia, dia segera berbaring di tempat tidur Tia bersama dengan bayi kecil yang baru Tia lahirkan sekitar dua bulan yang lalu.
"Tumben kamu kesini, ada apa?" tanya Tia, dia baru saja membuang pampers bekas putri kecilnya.
"Aku galau!" rengek Yumna.
"Tumben. Galau kenapa? Soal laki-laki?" tanya Tia curiga. Yumna hanya terdiam, dia malu sebenarnya. Tidak pernah bercerita tentang dirinya pada siapapun termasuk Tia. Bahkan, Lily saja yang ibunya juga tidak tahu apa isi hati Yumna.
"Ya, gitu deh," ucap Yumna. Dia membenamkan wajahnya ke selimut bayi yang beraroma khas, menutupi wajahnya yang takut berubah merah karena hal itu.
"Apa sih? Ngomong aja, kali!" ucap Tia.
Yumna duduk, berhadapan dengan Tia. Dia segera menceritakan apa yang menjadi kegalauan dirinya sedari kemarin.
"Astaghfirullah, begitu aja di bawa galau, haha!" Tia tertawa dengan keras hingga membuat sang putri terkejut.
"Tia, ih! Aku tuh kesini pengen curhat, malah di ketawain!" ujar Yumna kesal.
"Sorry-sorry. Ya aku heran aja sama kamu dan keluarga. Aneh tau, gak. Haha ...." Tia kembali tertawa. Yumna hanya cemberut mendengar ejekan dari sahabatnya tersebut.
"Lagian nih ya. itu kan, Papa Bima sudah setuju, ya kamu lanjut aja sama dia. Jangan dipikirkan soal Papa Bima bilang tadi. Mungkin Papa ingin melihat kesungguhan Haidar, makanya bicara seperti itu."
Yumna terdiam mendengar ucapan Tia, benar adanya. Mungkin Papa Bima ingin melihat ketulusan dari Haidar.
"Tapi gak gitu juga caranya, Tia! kan aku jadi kesel karena Papa bilang kayak gitu. Coba kalau papa bilang secara langsung, gak usah gitu bikin aku kesel! Bilang vote kan kayak dia harus dipilih layak atau tidak!" ujar Yumna dengan cemberut.
Tia hanya tertawa melihat sahabatnya yang berwajah kesal.
__ADS_1