
"Sayang—"
"Haidar—"
Dua orang itu terdiam setelah saling memanggil satu sama lain. Mereka hanya tersenyum dengan malu dan canggung karena setelah beberapa saat lamanya kini mereka bertemu kembali.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Yumna pada sang suami.
"Kamu aja deh duluan. Mau bicara apa?" Haidar balik bertanya kepada Yumna.
Yumna terdiam dan tersenyum kaku, dia menunduk dan memainkan jari jemarinya di atas pangkuan.
"Kamu kenapa?" tanya Haidar. Yumna tiba-tiba saja terisak pelan dan menitikkan air mata, membuat Haidar menjadi khawatir.
"Eh, kok nangis?" tanya Haidar bingung. Yumna terisak pelan, kemudian berubah cukup keras.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Haidar lagi. Yumna tidak menjawab, tapi dia menubruk tubuh Haidar dan memeluk lehernya dengan erat.
__ADS_1
"Maafin aku, Haidar!" ucap Yumna sambil menangis keras. Haidar terdiam, dia tersenyum senang karena Yumna kini sudah kembali kepadanya.
"Sudah, jangan nangis. Aku yang minta maaf karena aku sudah nggak jujur sama kamu. Tolong maafin aku, ya. Lain kali aku nggak akan lagi buat seenaknya tanpa persetujuan kamu. Maaf karena aku nggak ngertiin kamu, Yumna," ujar Haidar. Yumna menganggukkan kepalanya. Dia memang tidak suka dengan apa yang Haidar lakukan, tapi dia juga merasa rindu dengan suaminya ini yang sudah jelas menyesal atas perbuatannya.
Haidar memeluk istrinya dengan erat, dia tidak ingin lagi kehilangan Yumna untuk ketiga kalinya.
"Sudah, sekarang kita tidur yuk. Kamu pasti capek ya," ajak Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya, membuat Haidar menjadi bingung. Jadi, haidar membiarkan saja Yumna untuk memeluknya, mungkin saja dia sedang tidak ingin tidur cepat.
Hampir sepuluh menit lamanya Yumna memeluk Haidar hingga sampai ketika terdengar suara dering telepon dari ponsel Haidar.
"Sayang, aku ada telepon," ucap Haidar.
"Aku nggak bisa lihat kalau kamu peluk aku terus. Hp ku ada di saku celana," ujar Haidar. Yumna melonggarkan pelukannya, tapi tidak melepaskan sama sekali.
"Mama, Sayang!" Haidar melihat Mitha yang menghubunginya. Segera dia mengangkat panggilan tersebut.
"Haidar, kamu nggak apa-apa, kan? Kenapa kamu belum pulang juga?" tanya Mitha terdengar khawatir, ini sudah lebih dari jam sepuluh malam, tapi Haidar belum juga kembali dari rumah Bima.
__ADS_1
"Haidar nggak akan pulang, Mi."
"Loh, nggak pulang gimana?" tanya Mitha khawatir, Arya yang ada di sebelahnya tidak peduli dengan kekhawatiran sang istri, masih sibuk memainkan tangannya di dada Mitha.
"Awas kamu jangan mabuk, Haidar. Mami nggak mau ya kalau kamu sampai pulang dalam keadaan mabuk, apa lagi kalau kamu ceburin diri ke dalam laut!" ujar Mitha. Risih dengan tangan sang suami di dadanya, Mitha mengenyahkan tangan itu dengan kasar membuat Arya sebal kehilangan mainannya.
"Nggak lah, Mi. Haidar lagi ada di rumah kok."
"Rumah mana?" Mitha mulai bingung.
"Di rumah, sama Yumna."
Tersentak Mitha mendengar ucapan putranya, antara percaya dan tidak.
"Yumna sudah pulang?" seru Mitha. Arya juga ikut terduduk mendengar sang istri berseru.
"Iya, Yumna ada sama aku sekarang. Yumna sudah pulang, Mi. Sekarang kita ada di rumah," ucap Haidar membuat Mitha dan Arya menghela napasnya lega.
__ADS_1
"Syukur deh kalau emang Yumna sudah pulang, mana dia sekarang?" tanya Mitha.
"Nih, ada lagi peluk suaminya."