
"Pokoknya yang lain gak boleh!" ucap Haidar lagi. Yumna hanya diam pasrah, membiarkan Haidar melakukan apa yang dia mau. Tidak hanya cukup dengan tangan saja, tapi Haidar juga mengeluarkan sapu tangan dan mengusap rambut Yumna.
"Sudah belum?" tanya Yumna dengan malas.
"Sedikit lagi. Coba mendekat," pinta Haidar. Tak sabar dengan permintaannya, laki-laki itu menarik bahu Yumna dan mencium rambutnya. "Masih ada baunya, nanti pulang kerja kamu harus keramas tujuh kali," ucap Haidar.
"Astaga, Haidar. Emangnya apaan juga harus keramas tujuh hari? Emangnya ini ...."
"Gak mau dibantah, kamu sudah disentuh sama orang lain, jadi kamu mau gak mau harus keramas tujuh kali. Kalau bisa sampai habis tujuh botol sampo sama kondisioner," ucap Haidar lagi. Yumna memutar bola matanya dengan malas. Dia menepis tangan suaminya dari sana.
"Gak usah lebay, deh. Pemborosan namanya."
"Ya gak apa-apa pemborosan, yang penting kamu suci lagi dari hadas besar," ucap Haidar tidak peduli.
Yumna memang kesal kepada Haidar, tapi entah kenapa di dalam hatinya sangat senang sekali Haidar cemburu seperti ini.
"Apa kamu senyum-senyum? Senang kamu dielus kepalanya sama dia?" tanya Haidar kesal.
Yumna menggelengkan kepalanya. "Gak juga, aku seneng aja suamiku ini ternyata bisa cemburu juga," ucap Yumna. Dia memeluk Haidar dan menatapnya senang, kali ini tidak peduli saat beberapa orang memperhatikan kemesraan mereka. Haidar sampai bingung melihat tingkah Yumna yang tanpa lagi ada rasa malu.
"Kamu sehat? Apa ada virus yang menyerang kamu?" tanya Haidar menyentuh kening Yumna yang hangat. Yumna yang mendengar hal itu menjadi sebal, melepaskan pelukannya dan menghentakkan kakinya dengan keras.
__ADS_1
"Ish, kamu ini. Aku lapar, cepat cari tempat makan!" ucap Yumna lalu mendorong Haidar dan membuka pintu mobil.
Bruk!
Haidar memejamkan mata saat pintu itu ditutup dengan cara dibanting. "Aih, ada apa sih? Apa aku salah, ya?" gumam Haidar.
Haidar masuk ke dalam mobil, segera menyalakan mobilnya dan melajukan kendaraan itu dari sana.
"Kita mau makan di mana, Sayang?" tanya Haidar pada sang istri, mencoba untuk merayu agar Yumna tidak lagi cemberut. Yumna yang terlanjur kesal hanya diam, melipat kedua tangannya di depan dada dan tidak menoleh sama sekali.
"Sayang, aku tanya loh. Kok gak dijawab, sih?" ujar Haidar lagi.
"Aku mau makan nasi goreng," ucap Yumna dengan cepat. Haidar tersenyum dan mengusap kepala Yumna dengan lembut.
"Oke. Apa kamu tau tempat yang dekat dan juga enak?" tanya Haidar. Yumna menunjuk ke arah depan, tak jauh dari sana terdapat sebuah cafe yang juga terlihat oleh Haidar.
Mobil melambat lajunya tepat di depan kafe tersebut. "Di sini?" tanya Haidar. Yumna tidak menjawab, tapi segera membuka pintu dan keluar dari sana tanpa menunggu Haidar.
"Eh, ya ampun. Aku ditinggal," gumam Haidar. Dia tidak kesal dengan Yumna, hanya saja sedikit bingung dengan sikap istrinya itu. Rasanya dulu, meski Yumna sedang marah juga tidak pernah seperti ini.
Haidar masuk ke dalam kafe tersebut, menyusul Yumna yang kini sudah duduk di dekat jendela.
__ADS_1
"Sayang, kenapa tinggalin aku sih?"
"Aku marah!" ujar Yumna.
"Kok marah? Kenapa? Aku salah ya?"
"Iya, salah! Kamu tuh terlalu berlebihan!" ucap Yumna masih kesal. Haidar menarik kursi miliknya semakin dekat dan mengambil tangan Yumna, mengelusnya dengan ibu jari.
"Maaf, deh. Ya habisnya aku gak tahan lihat dia sentuh kamu. Aku kan jadi cemburu." Ya sudah, sebagai permintaan maaf aku, kamu mau makan apa? Aku pesankan. Mau es krim juga?" bujuk Haidar. Yumna menjadi tidak tahan, dia yang biasanya keras kepala kini tidak bisa bertahan dengan sikap Haidar.
"Gak mau, tapi kentang goreng aja," ucap Yumna.
"Oke, asalkan kamu gak marah lagi, aku akan pesenin," ucap Haidar lagi. Dia memanggil seorang pegawai dan melakukan pemesanan.
Yumna rasanya sedikit malu, bingung juga dengan dirinya kini. Dia yang selalu bersikap dewasa kini malah seperti anak kecil yang haus akan perhatian.
Tak lama pesanan mereka datang, bersamaan dengan itu dua orang telah masuk ke dalam sana dan duduk sedikit jauh dari keduanya. Hatinya lagi-lagi terbakar saat melihat dua orang yang sama yang tadi dia lihat di kantor.
"Apa dia orang yang berkesan buat kamu?" tanya Randy, menunjuk dengan dagunya ke arah Yumna berada. Aldy yang tersadar telah memperhatikan Yumna kini mengalihkan wajahnya ke arah lain. Rasanya menyesal sekali kenapa mereka harus dipertemukan lagi di sini. Apa lagi sikap Haidar yang sangat manis, menyuapi Yumna dan juga tertawa bersama.
"Lupakan saja, aku tidak mau lagi berharap," ucap Aldy.
__ADS_1