
"Astaga!" Haidar menepuk keningnya keras saat melihat beberapa notif di hpnya. Jam sudah menunjukkan setengah sembilan malam.
"Kenapa, sayang?" tanya Vio.
"Aku lupa, gak kasih kabar Yumna! Aku telfon Yumna sebentar!" ucap Haidar lalu berdiri meninggalkan Vio sendiri di meja restoran. Vio mendecih sebal.
"Ish, apaan sih dia. Jelas-jelas lagi sama aku. Malah ingat dia lagi!"
Selang beberapa menit Haidar kembali dengan wajah masam. Yumna sama sekali tidak mengangkat telfon darinya.
'Yah... Dia pasti marah ini!' batin Haidar, dia menjatuhkan dirinya di kursi. Vio menatapnya tidak suka.
"Apa sih, yang. Asem gitu mukanya?!"
"Yumna gak angkat telfon aku!" ucap Haidar.
"Ya udahlah! Lagian kan dia udah tahu kali kalau kamu gak sama dia ya kamu lagi sama aku!" ucap Vio. Haidar mengangguk.
"Bener juga. Ya sudah, habiskan makanannya. Aku antar kamu pulang nanti!" ucap Haidar, dia bersiap menyendok makanan di piringnya.
"Udah gak nafsu! Kita pulang aja!" ujar Vio. Dia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring berisikan beef steik yang baru dia makan setengah. Haidar urung menyuapkan makanannya.
"Kamu marah, yang?" tanya Haidar. Vio berdiri.
"Kamu pikir aja sendiri!" dia kemudian berjalan meninggalkan Haidar yang masih duduk diam di tempatnya. Haidar segera berlari menyusul Vio setelah membayar makanannya.
"Vi! Vivi, sayang!" panggil Haidar. Vio tersenyum tipis tak terlihat, dia meneruskan langkahnya.
"Vi!" panggil Haidar lagi. Dia menahan lengan Vio hingga gadis itu berhenti.
"Vi, maafin aku!" ucap Haidar.
"Maaf? Haidar, kamu denger ya. Kamu menikah sama Yumna itu karena kamu janji akan nikahin aku kan? Karena kamu nunggu aku selesaikan kontrak, kan? Kenapa rasanya jadi dia yang penting buat kamu sekarang? Mana Haidar yang dulu? Yang selalu perhatian sama aku? Yang selalu prioritaskan aku?" tunjuk Vio pada dada Haidar.
Haidar tertegun dengan panggilan Vio. Vio akan memanggil namanya jika dalam keadaan marah.
"Tentu kamu yang jadi prioritas aku, Vi."
"Terus tadi kenapa, kamu kelihatan kayak nyesel gak kabarin dia?"
"Ya... aku cuma takut dia masih nunggu di kantor!" ucap Haidar.
"Hehh... Alasan!" Vio kembali berjalan meninggalkan Haidar. Dia menuju ke tepi jalan untuk menghentikan taksi. Haidar segera berlari dan menarik tangan Vio.
"Lepas, Haidar!" Vio mencoba menarik tangannya.
"Gak! Kamu pulang sama aku!" ucap Haidar.
"Gak mau. Urus aja tuh istri kamu. Aku gak mau sama cowok yang perasaannya sudah berubah berpaling dari aku!" jerit Vio.
Haidar tidak peduli, dia menarik tangan Vio dan mendorongnya ke mobilnya hingga punggung Vio terbentur disana.
__ADS_1
"Vio! Aku cuma cinta sama kamu! Perasaan aku gak pernah berubah! Aku gak pernah berpaling dari kamu!" ucap Haidar menatap tajam mata Vio.
"Haidar, sakit!" Vio merintih merasakan tangannya yang kesakitan akibat perlakuan Haidar. Haidar tersadar, dia melepaskan tangan Vio.
"Maaf. Maaf. Aku gak sengaja!" Haidar mengelus tangan Vio dengan lembut.
"Aku minta maaf!" ucap Haidar sekali lagi. Vio memalingkan wajahnya ke samping. Haidar memeluk Vio erat. Tidak ingin Vio marah atau salah faham lagi padanya.
"Maafkan aku, ya." ucap Haidar. "Cuma kamu yang aku sayang. Sumpah!" Vio tersenyum dalam pelukan Haidar.
"Bener kamu sayang aku?"
"Iya, aku sayang sama kamu! Saaangat sayang!" ucap Haidar, dia mencium kening Vio.
"Aku ada permintaan sama kamu!" ucap Vio.
"Apa?" Haidar menatap lamat ke dalam bola mata Vio.
"Bantu aku menangin iklan dari perusahaan milik Jordy! Aku sangat ingin jadi bintang iklan itu!"
"Jordy Wilaga?" tanya Haidar.
Vio mengangguk. Haidar menghela nafasnya berat. Jordy Wilaga adalah salah satu rivalnya.
"Oke akan aku usahakan." Vio tersenyum senang, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Haidar.
"Aku antar pulang!" Haidar membukakan pintu untuk Vio. Mereka pun segera pergi dari sana.
Haidar menatap jam di tangannya, sudah hampir jam sembilan malam. Dia mencoba menelfon Yumna.
"Dimana kamu?" tanya Haidar saat baru saja terdengar suara Yumna di kejauhan sana.
'Aku di rumah mama. Mau nginep disini. Tadi udah izin sama mami."
Klik. Haidar menutup telfonnya lalu segera menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
'Mudah-mudahan Yumna gak marah! Kalau dari nada suaranya sih kayaknya biasa aja!' batin Haidar.
...***...
Yumna menatap hpnya yang baru saja mati.
"Apa sih GJ banget nih orang!" gumam Yumna lalu kembali berguling di atas kasur, ke kanan dan ke kiri.
"Aaaah... enaknya.... Kangen sama kasur ku!" Yumna menggerakkan kedua tangannya mengelus kasurnya.
"Gak kerasa ya, sudah dua bulan aja aku tinggal sama Haidar. Berarti tinggal sepuluh bulan lagi."
"Sepuluh bulan... Bisa gak ya aku move on dari Aldy. Eh, kenapa juga sendirian gini jadi inget Aldy, padahal kalau di rumah Haidar aku gak inget sama dia!"
"Bisa gak ya aku dapetin cowok lain. Haidar sudah ada Vio, bahkan mereka tadi sudah pergi sama-sama. Mereka pasti lagi makan malam bersama. Makan malam romantis. Nyebelin!"
__ADS_1
"Aaaaahhh! Kenapa juga harus inget mereka sih? Biarin aja. Toh juga Haidar nikah sama aku juga tujuannya untuk menghindari perjodohan, dan dia ingin sama Vio kan! Dan aku juga nikah sama Haidar karena gak mau di jodoh kan mama."
"Ya sudah lah Yumna. Apalagi? Kita nikah juga untuk sama-sama hindarin orang lain yang gak di kenal!
"Tapi kan Haidar enak udah ada Vio, sedangkan aku? Kalau aku pisah sama Haidar, aku sama siapa?"
Yumna bergumam sendiri sambil memeluk bantal gulingnya.
Tok.Tok.
"Kak. Kak Yumna!" teriak suara dari luar.
"Iya!" Yumna balas berteriak, dia bangun dan membuka pintu. Terlihat Arkhan sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada bang Haidar tuh di bawah!"
"Hah?"
"Eh. Malah melongo. Ada bebeb tuh di bawah!" Arkhan menunjuk ke arah bawah.
"Dia disini?" tanya Yumna tidak percaya.
"Iya, lagi sama papa tuh!"
"Oke!" Yumna menutup pintu kamarnya. "Makasih adikku!" Yumna mengacak rambut Arkhan hingga berantakan.
"Ih apaan sih. Udah sana turun kasihan dia di ceramahin papa!" ucap Arkhan, dia merapikan rambutnya dengan menggunakan jari tangannya.
"Di ceramahin apa?" tanya Yumna sebelum turun ke lantai bawah.
"Gak tahu! Coba aja ke bawah sendiri!"
Yumna berjalan ke bawah. Dia melihat Haidar sedang menunduk di depan Bima. Mendengarkan Bima yang sedari tadi bicara.
Haidar meremas jari tangannya. Keringat dingin sudah mengalir di keningnya. Dia salah. Jelas-jelas yang di katakan Bima semuanya benar. Meski pernikahan mereka hanyalah kontrak semata tanpa di dasari rasa cinta, tapi perlakuan Haidar pada Yumna tadi sore memang jelas salahnya!
"Haidar?" Merasa ada angin yang berhembus membuat Haidar bisa bernafas lega. Sedari tadi oksigen di sekitarnya terasa sangat tipis.
Haidar menoleh, dia terpana melihat bidadari turun dari tangga. Eh... Yumna maksudnya. Haidar menelan salivanya dengan susah payah. Baju tidur Yumna yang terbuat dari kain satin tipis membuat matanya seketika bisa menembus ke dalam lapisan kain itu dan mengira-ngira apa yang ada di dalam sana. Paha putih Yumna terlihat dengan jelas menggoda iman. Apalagi belahan dada Yumna yang terlihat.. Wow...
'Kenapa kalau di rumah pake piyama panjang setiap malam?'
"Kenapa kamu turun Yumna?" tanya Bima.
"Arkhan tadi ke atas, pa. Bilang sama Yumna kalau Haidar datang." jawab Yumna.
"Naik ke atas. Papa masih mau bicara sama Haidar!"
Glek....
Haidar semakin sulit menelan salivanya. Pembicaraan tadi saja sudah membuat dirinya ingin lari ke kamar mandi apalagi sekarang!
__ADS_1
'Hehh... lolos dari macan, malah sekarang terjebak sama bapaknya macan!'