YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
380


__ADS_3

Sementara itu di dalam ruangan bersalin, Yumna tengah berjuang dengan aba-aba dari dokter. Dia berpegangan pada lengan Haidar yang duduk di atas kepalanya. Suara erangan terdengar kuat dari mulut Yumna.


"Tarik napas kuat, terus embuskan!" ujar dokter.


Haidar mengikuti arahan dokter, melakukan pengaturan napasnya bersama dengan Yumna.


"Jangan dipaksa ngeden ya, Bu kalau nggak kerasa mulesnya. Biar istirahat dulu buat kumpulkan tenaga," ucap dokter tersebut. Yumna menganggukkan kepala.


Haidar yang melihat sang istri di sana dengan mandi keringat merasa kasihan kepada Yumna, dia mengusap kening Yumna dengan sapu tangan miliknya. Tak terasa air nata meluncur hingga terjatuh di pipi Yumna.


Yumna mendongak, menatap sang suami yang tak disangka menangis seperti itu, mata dan hidungnya sudah memerah, dia juga terisak.


Yumna mengulurkan tangannya dan mengusap air mata yang mengalir di ujung hidung Haidar. "Jangan nangis," ucap Yumna sambil tersenyum. Haidar menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak nangis, aku cuma lagi bahagia sekarang ini," ucap Haidar mencium kening dan bibir Yumna singkat.


Yumna menjulurkan lidahnya, dia mencium sang suami dengan lembut dan memainkan lidahnya di sana, tidak peduli dengan dokter dan perawat yang ada di ruangan itu, dia hanya ingin membuat suaminya tenang sekarang ini.


"Jangan khawatir. Aku juga bahagia bisa jadi istri dan ibu untuk anak-anak kita," ucap Yumna, sekali lagi Yumna menarik wajah Haidar ke dekatnya dan kembali mencium lembut Haidar.

__ADS_1


Perutnya terasa sakit kembali, Yumna menjauhkan Haidar dan mengerang kesakitan. Dokter memerintahkan Yumna untuk menarik napas dan mendorong dengan kuat.


"Aakhh!" teriak Haidar kencang hingga suaranya keluar dari ruangan itu. Mitha dan Arya mendengarnya, juga dengan si kembar dan Syifa yang menatap horor ruangan bersalin tersebut sehingga Syifa tanpa sadar mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Azkhan dan menancapkan kukunya di sana.


"Aww! Syifa, sakit!" Azkhan menarik tangannya dari Syifa dan melihat bekas kuku Syifa yang menancap di sana.


Syifa meringis dan meminta maaf, tindakannya tadi refleks karena mendengar suara keras Haidar. "Bang Haidar kenapa ya?" tanya Syifa.


"Mana gue tau! Ish elo, nih. Awas kalau jadi rabies!" ujar Azkhan kesal. Sakit sekali sampai hampir berdarah.


"Emangnya gue doggy!" kesal Syifa.


"Aakhh!" teriak Haidar saat Yumna menggigit tangannya saat mengejan. Yumna pun melakukan itu tanpa sadar sama sekali. Rasa sakit yang teramat sangat mendorongnya untuk bertindak hal yang tidak dia pikirkan.


"Ayo dorong, Bu. Dorong yang kuat!" seru dokter.


Haidar sadar jika dia tidak boleh berteriak lagi di sini, melihat wajah Yumna yang memerah menahan sakit, apalah dirinya yang hanya digigit oleh sang istri? Jelas wanita yang sedang melahirkan bertaruh segalanya bahkan nyawanya sendiri. Bagaimana tulang-tulang serasa dipatahkan secara bersamaan sat memperjuangkan kehidupan anak-anak mereka.


Haidar menutup mulutnya, dia abaikan tangannya yang terasa sakit. Yumna kehabisan napas, tenaganya sudah terkuras karena hendak mengeluarkan anak yang ada di dalam perutnya.

__ADS_1


"Kepalanya sudah kelihatan, Bu. Tarik napas yang banyak lalu dorong yang kuat saat Ibu ngersa sakit ya," ujar dokter.


"Haidar, aku mau dipeluk," ucap Yumna dengan napas terengah. Haidar beralih di samping Yumna dan memeluk sang istri dengan erat. Tangis Haidar tidak bisa dia tahan lagi, apalagi saat lagi-lagi Yumna menarik napas dan akhirnya mendorong bayi keluar dari inti tubuhnya.


"Dorong yang kuat!" seru dokter mengintip ke dalam kain yang menutupinya.


Dengan sekuat tenaga Yumna mendorong dan berteriak, tidak hanya itu saja, lagi-lagi dia mengigit Haidar di bahunya dengan keras. Haidar pasrah, sekali lagi dia harus pasrah demi anak dan istrinya. Dia merelakan bahunya sehingga terasa perih.


"Sedikit lagi, Bu. Hitungan ke tiga dorong ya!" Dokter mulai menghitung, tapi Yumna sudah tidak kuat lagi sehingga pada hitungan ketiga dia mengejan kuat dan keluarlah satu kepala bayinya. Dokter dan perawat memberikan aba-aba lagi sehingga dalam sekali dorongan lagi, Yumna bisa mengeluarkan seluruh tubuh anak pertamanya.


"Alhamdulillah!" Seru dokter tersebut saat sudah menerima bayi yang keluar dari perut ibunya. Suara tangis yang kencang terdengar hingga keluar dari ruangan. Haidar menangis karena mendengar suara indah anaknya yang selama ini dia tunggu-tunggu.


Dokter memberikan bayi tersebut kepada perawat dan bersiap untuk menerima satu bayi lagi dari perut Yumna. Untuk kelahiran anak keduanya ini Yumna sudah tidak lagi kesulitan, kakaknya sudah membuka jalan untuk sang adik lahir sehingga tidak sampai lima menit, anak keduanya sudah berhasil dilahirkan.


"Alhamdulillah," ucap dokter, kemudian ikut mengurusi anak kedua Yumna.


Yumna melepaskan gigitannya dari Haidar dan menangis terharu. Dia sempat berpikir dirinya tidak akan selamat, tapi Tuhan masih baik kepadanya dan membiarkan dia untuk bisa mengurus anaknya dengan baik.


Akan tetapi, Yumna dan Haidar tidak mendengar suara tangis dari sang adik sehingga Yumna memandang Haidar dengan penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2