YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
199. Ingin Bertanya Terus Sampai Pagi


__ADS_3

Mobil hitam itu kini telah sampai di sebuah rumah besar. Haidar menatap kedalam pagar. Rumah itu, tempat dia dulu melamar Yumna, dan bertunangan dengan wanita ini.


Haidar menghela nafasnya dengan berat, hingga membuat yumna menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Yumna kepada Haidar.


Haidar menggelengkan kepalanya, "Tidak ada. Cuma aku ingat saat pertama kalinya datang ke rumah ini. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu adalah putri dari seorang pengusaha yang sukses seperti Papa Bima," ujar Haidar.


Yumna terkekeh dengan apa yang dia dengar barusan.


"Lalu? Kamu sangka aku bagaimana dulu?" tanya Yuma pada mantan suaminya itu.


Haidar jadi malu sendiri mengingat hal itu.


"Aku pikir karena kamu menerima pernikahan kontrak itu, kamu ... seperti yang ada di dalam pikiranku. Maaf, tidak hidup dalam kemewahan seperti ini," ucap Haidar dengan malu.


Yumna tertawa mendengar apa yang dikatakan Haidar. Dia cukup mengerti dengan maksud pria ini.


"Kamu itu terlihat sederhana. Aku tidak pernah melihat kamu dengan segala kemewahan yang ada pada diri kamu. Dan aku kira kamu adalah orang biasa," ujar Haidar lagi.


"Oh, aku memang tidak suka memakai hal yang berlebihan. Semua yang ada pada diriku itu masih milik orang tuaku. Jadi untuk apa aku berbangga diri dengan segala apa yang tidak aku hasilkan. Aku tidak suka hal yang seperti itu, Haidar," ucap Yumna kepada Haidar.

__ADS_1


Haidar senang dan bangga mendengar hal itu dari bibir Yumna. Banyak orang yang dia temui selalu saja membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya. Akan tetapi, Yumna berbeda. Dia tidak pernah sama sekali membahas atau membanggakan harta orang tuanya. Haidar bersyukur mengenal wanita sebaik dan secantik Yumna.


"Aku turun dulu, ya. Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Kamu hati-hati di jalan," ucap Yumna sebelum dia membuka pintu mobil.


"Yumna, tunggu!" Haidar menahan langkah kaki Yumna. Dia lalu menoleh kepada Haidar.


"Iya? Ada apa?" tanya Yumna. Yumna menatapnya dengan bingung. Pria itu terlihat merah wajahnya dan malu-malu.


"Tidak apa-apa, sih," jawab Haidar sambil menggelengkan kepalanya. "Hanya saja aku ingin bilang selamat beristirahat." Tambahnya.


Mendengar ucapan itu Yumna menjadi malu sendiri. Sudah lama sekali dia tidak mendapatkan ucapan selamat seperti itu.


"Iya, terima kasih. Kamu juga. Selamat beristirahat malam nanti," ucap Yumna dengan malu.


"Sudah. Kalau aku banyak bertanya, aku takut kamu pasti akan marah," ucap Haidar membuat Yumna bingung.


"Marah kenapa?"


"Kalau aku bertanya dan kamu menjawab, kamu sudah pasti tidak akan masuk ke dalam rumah karena menjawab pertanyaanku. Dan kalau aku keterusan bertanya bagaimana? Aku sih senang bertanya sampai pagi besok," tutur Haidar dengan kekehan di bibirnya.. Yumna menatap Haidar dengan sebal.


"Aku tidak akan marah, tapi yang pasti Mama atau Papa yang marah kalau aku tidak segera masuk ke dalam rumah sekarang," ujar Yumna.

__ADS_1


Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika sudah berurusan dengan mama dan papa Yumna, jujur saja dia takut. Bagaimana kalau mereka tidak memberi restu lagi kepadanya untuk dekat dengan Yumna lagi?


"Oke baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Kalau kamu mau masuk ke dalam rumah silakan, aku akan menunggu sampai kamu masuk dengan selamat." Haidar mempersilahkan Yumna jika benar benar dia ingin masuk ke dalam.


"Iya." Yumna kini membuka pintu mobil dan menurunkan kedua kakinya, tapi sedetik kemudian dia mengangkat kakinya lagi untuk masuk ke dalam mobil.


"Aku lupa. Ini ketinggalan." Yumna menunjuk buket bunga yang ada di dashboard.


"Terima kasih atas bunganya. Aku akan bawa bunga ini ke dalam," ucap Yumna kepada Haidar. Dengan cepat ia membawa buket bunga itu di tangannya.


Haidar terpaksa merelakan kepergian Yumna. Dia tidak bisa menahan wanita itu lebih lama bersama dengan dirinya, karena Yumna masih belum bisa jadi milik Haidar seutuhnya. Ah jangankan milik, sekarang saja hubungan mereka entah seperti apa.


Yumna kini masuk ke dalam pagar hingga membuat Haidar tidak bisa melihatnya lagi. Haidar menghela napasnya dengan berat. Sekali lagi dia menoleh ke arah pagar. Tubuh yang tinggi ramping itu tidak bisa dia lihat lagi. Dengan segera Haidar menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah itu.


Kini mobil hitam itu telah menjauh. Haidar menyusuri jalanan yang sudah mulai gelap. Kendaraan yang bergerak tersendat dan semakin ramai membuatnya kini merasa kesal, padahal tadi saat dia dengan Yumna dia merasa senang dengan kemacetan yang terjadi.


Hampir setengah perjalanan Haidar mengendarai mobilnya. Dia tidak sadar jika seseorang mengikutinya dari belakang. Mobil itu kini berjalan di sampingnya, sedikit cepat menyalip ke depan mobil Haidar dan tiba-tiba saja berhenti. Haidar yang tidak siap dan tidak menyangka jika mobil yang ada di depannya itu akan berhenti, refleks menekan rem dengan kakinya sehingga tercipta garis hitam di atas aspal.


Haidar merasa marah dengan apa yang terjadi. Dia menatap marah mobil yang kini berhenti dengan seenaknya di depannya itu. Bisa saja kecelakaan terjadi jika Haidar tidak segera menekan rem. Untung saja kendaraan yang ada di belakangnya itu tidak rapat. Bagaimana jika ada mobil atau motor yang menabraknya dari belakang?


Haidar keluar dan mendekat ke arah mobil yang ada di depannya dengan perasaan marah. Dengan tangan yang besar dia mengetuk kaca mobil itu dengan kencang.

__ADS_1


"Sialan! Keluar kamu!" teriak Haidar dengan lantang, tak peduli dengan beberapa pegendara yang melihat kejadian itu.


__ADS_2