
Pesta ulang tahun perusahaan tampak meriah saat mobil yang dikendarai oleh rombongan keluarga Mahendra datang, mereka menempati tempat parkir khusus yang telah disediakan untuk keluarga besar dan juga para sahabat terdekat.
Mobil berhenti di tempat yang semestinya, Haidar segera turun untuk membukakan pintu mobil bagi Yumna.
"Hati-hati," ucap Haidar sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri. Yumna menyambut tangan Haidar dan keluar dari dalam mobil itu dengan pelan.
"Waaah, kayaknya meriah banget ini ya?" Ujar Syifa mengagumi hiasan yang sudah tampak di luar perusahaan tersebut. Yumna pun melihat hal yang sama, sudah lama juga dia tidak menghadiri sebuah pesta dan dia yakin di dalam sana keadaan sudah sangat meriah.
"Ayo." Haidar memberikan lengannya untuk digandeng oleh istrinya, dengan senyuman yang lembut Yumna memegang lengan suaminya tersebut dan kemudian mereka bersama-sama masuk ke dalam perusahaan. Mereka berjalan dan diarahkan untuk pergi ke aula utama perusahaan itu. Tampak di dalam sana sudah banyak orang-orang yang berkumpul. Beruntung acara masih belum dimulai, kini semua anggota keluarga tersebut mencari keberadaan si empunya acara.
Mama Lily bersama dengan Papa Bima pergi ke arah di mana Yoga, dan Wanda berada, juga tampak Adit, Celia, juga Alvas --putra dari Adit dan Celia-- dan tak ketinggalan Aldy juga di sana. Di belakangnya mengikuti keempat anaknya dan satu menantu, yaitu Haidar.
"Kenapa kamu tegang seperti itu, Sayang?" tanya Yumna saat merasakan tubuh Haidar yang sedikit kaku. Haidar hanya terkekeh pelan.
"Jujur aja di sini kayak kandang macan," jawab sang suami yang sontak membuat istri tertawa dan segera menutup mulutnya saat adik-adiknya melirik padanya.
"Sudah kamu tenang saja, lagian apa-apaan juga sih. Mereka juga nggak akan makan kamu kok," ucap Yumna yang sudah mengerti apa maksud Haidar.
"Jujur saja, Sayang. Papa Bima, Papi Yoga, dan ada Papi Adit, mereka sangat kompak sekali. Aku cuma takut mereka akan...."
"Enggak akan, ada aku yang akan jadi penyelamat kamu dari mereka berdua," potong Yumna dengan cepat. Mereka memang seperti itu orangnya, selain dulunya mereka adalah sahabat bersama satu lagi yang lainnya, nyatanya Papi Adit adalah sepupu sang mama.
"Sudah jangan khawatir. Aku juga nggak akan tega kalau mereka jahilin kamu. Papa Bima dan Papi Adit sangat sayang kepada kita, Papi Yoga juga meski sikap mereka seperti itu, cuma mereka sepertinya belum terlalu yakin saja sama kamu. Ayo, Papa Sayang. Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Yumna yang membuat Haidar tersenyum dipanggil seperti itu oleh istrinya.
Perlahan Haidar mendekat dan berbisik, "Aku suka panggilan itu. Mulai dari sekarang kamu harus panggil aku seperti itu ya," ujar Haidar, Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Yoga, Wanda, dan Aldi sangat senang sekali ketika melihat keluarga besar itu datang. Mereka menyambut dengan hangat dan senyuman ramah di bibirnya.
"Lily akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggu kalian sedari tadi." Wanda memeluk Lily dengan erat, sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena kesibukan Wanda yang kini mengelola bisnis kulinernya.
Celia juga memeluk Lily dan menempelkan pipinya kanan dan kiri, begitu juga dengan anggota yang lainnya kecuali Arkhan dan Haidar. Arkhan memang sendiri dulu selalu menghindar dari pelukan Celia yang suka gemas terhadap mereka.
"Mas Bima, apa kabar? Sudah lama ya nggak ketemu," ucap Wanda sambil mengulurkan tangannya.
"Baik sekali. Kamu sudah jadi wanita yang sangat sibuk belakangan ini. Terlalu peduli dengan perut orang lain sampai perut suami sendiri terabaikan," ucap Bima terkekeh. Wanda melirik suaminya dengan tatapan dingin.
"Apa suamiku mengeluh begitu?" tanya Wanda tak suka, yang ditatap meringis saja, takut.
"Bukan, aku nggak ngeluh begitu. Bima, jangan main fitnah ya. Aku nggak bilang gitu loh," ucap Yoga dengan nada marah.
"Loh, iya kah? Bukannya kanu bilang beberapa hari yang lalu kamu kelaparan?" tanya Bima sambil tertawa kecil.
"Ish, itu beda lagi, kan aku memang nggak makan siang karena sibuk kerja," ucap Yoga.
"Kelaparan bagaimana?" Aku setiap hari suruh orang buat antarkan makanan loh!" kata Wanda bingung dan marah.
"Iya, Sayang. Makanan dari kamu selalu tepat waktu, cuma emang kemarin itu aku yang nggak makan karena terlalu sibuk dan ingat makan pas akan pulang kerja," ucap Yoga lagi.
Melihat interaksi orang-orang yang ada di sana membuat Haidar merasa hangat, seru sekali mendapatkan sahabat yang sangat baik dan menyenangkan seperti itu, tidka seperti dirinya yang entah kemana para sahabatnya. Sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Mas Bima apa kabar, sudah cukup lama kita tidak bertemu, ya." Celia tiba-tiba saja menarik lengan Bima dan melakukan hal yang sama seperti kepada istrinya tadi.
Melihat hal tersebut Adit menjadi tidak suka, segera dia menarik lengan sang istri untuk menjauh dari suami sepupunya itu.
"Sayang apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak menganggap aku ada di sini?" tanya Adit tidak suka. Celia hanya tersenyum geli melihat wajah suaminya yang marah seperti itu.
"Apa kamu cemburu, Sayang?" tanya Celia kepada sang suami. Adit tidak menjawab hanya mendelik ke arah Bima dengan tatapan tidak suka.
Bima yang ditatap seperti itu melakukan protes. "Salahkan istrimu, jangan salahkan aku," ucap Bima.
__ADS_1
"Lily sayangku dan adikku tercinta, bisakah kamu menjaga suamimu? Tolong pegangi dia dengan baik supaya istriku melihat jika dia sudah ada yang punya. Ya ampun, apakah hormon kehamilan membuat dia menjadi genit!" ujar Adit yang membuat semua orang terkejut.
"Celia hamil?" tanya Lily sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Begitu juga dengan Yoga dan Wanda yang senang mendengar berita tersebut.
Adit segera menutup mulutnya, sadar dengan rahasia yang baru saja dia bocorkan. Dia melirik pada sang istri dan tersenyum meringis, tatapan dari Celia membuatnya merasa bersalah dan takut. Sesuatu yang ingin dirahasiakan sementara waktu kini gagal sudah.
"Maaf, keceplosan." Adit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Terdengar hembusan nafas kasar dari sang istri.
"Kamu itu kenapa bilang-bilang." Celia merasa kesal, dia melirik ke arah putranya yang juga terkejut mendengar penuturan dari sang ayah.
"Alvas, nggak apa-apa kan kamu akan punya adik?" tanya Celia kepada sang putra. Alvas hanya melongo mendengar ucapan dari sang ibu dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Astaga, apa Mami nggak salah hamil di usia Mami yang sudah tua seperti ini?" gumam Alvas yang kemudian mendapatkan jeweran dari sang mama di telinganya. "Aduh!" rintihnya sakit pada telinga.
"Yang sudah tua itu Papi kamu, usia Mami masih jauh di bawah dia " ucap Celia geram. Hal tersebut sontak menjadi bahan tawaan dari keluarga tersebut.
"Aku sangat senang sekali kamu bisa mendapatkan anak kedua setelah selama ini kalian berusaha. Akhirnya apa yang ditunggu datang juga," ucap Lily memberi selamat kepada Celia dan juga Adit. Celia mengerutkan bibirnya, melepaskan tangannya dari telinga sang anak.
"Aku sudah lama pasrah, kalau mungkin anakku cuma satu ya sudah tidak apa-apa. Tapi ternyata, aku malah dapat anak kedua di usiaku yang sekarang sudah sebanyak ini," ucap Celia sedikit terdengar nada khawatir.
Lily mendekat dan mengusap lengan sepupu iparnya tersebut. "Rezeki jangan ditolak. Percaya saja kalau kalian akan baik-baik saja. Aku yakin kok," ucap Lily sambil tersenyum. Celia menganggukkan kepalanya dan mengelus perutnya yang masih rata.
"Iya aku tahu, kami pasti bisa melewati semua ini. Meski rasanya memang nggak mudah, tapi aku yakin bisa melahirkan anak keduaku dengan selamat. Papa, Kakak, mohon bantuannya, ya!" seru Celia dengan senyuman di bibirnya. Adit dan Alvas saling berpandangan satu sama lain.
Suasana kemudian menjadi sendu saat mendengar Celia mengatakan hal tersebut. Memang mengandung di usianya yang sudah memasuki usia banyak tidaklah mudah. Akan tetapi, setelah dokter mengatakan jika ada yang hamil di usia lebih darinya dia menjadi tenang.
Kalau aja Roman dan keluarganya ada di sini, mereka pasti akan sangat senang dengar berita ini," ucap Bima pada yang lainnya.
"Iya, sayang sekali mereka nggak bisa datang," ucap Yoga sedih.
Haidar mendekat kepada sang istri. "Serius Mami Celia hamil lagi? Kok bisa?" tanya Haidar kepada Yumna.
"Selamat untuk kehamilannya Mami, aku ikut senang mendengarnya," ucap Yumna memberikan pelukan kepada wanita tersebut.
Celia balas memeluk putrinya, anak Lily adalah anak-anaknya juga, dia tidak membedakan antara Alvas dan juga Yumna. "Terima kasih, Sayang. Semoga kamu juga akan cepat mendapatkannya," ucap Celia. Rasanya sedih karena melihat perjuangan Yumna dan Haidar yang belum membuahkan hasil.
"Iya, terima kasih Mami. Aku doakan Mami dan bayi akan sehat selalu. Alvas, kamu harus baik dengan adik kamu," ucap Yumna yang mengundang tertawa dari yang lainnya. Alvas hanya bisa mendengkus kesal, tidak bisa melakukan apa-apa. Ingin protes pun rasanya percuma, dia hanya tidak menyangka jika akan memiliki adik di usianya yang hampir tiga puluh tahun.
"Sudahlah Yumna, aku pasrah kalau nanti disangka adikku adalah anakku," ucap Alvas pasrah yang mendapatkan tawa dari yang lainnya.
"Kalau aku punya adik, aku akan belajar belajar dari kamu agar menjadi kakak yang baik untuk adikku kelak," ucap Aldy, sontak membuat Haidar tersentak, segera dia maju ke dekat Yumna dan menghalangi pandangan pria itu dari istrinya.
"Sebenarnya tidak perlu banyak belajar juga, kamu hanya tinggal bersikap baik kepada adik kamu." Tatapan dua laki-laki itu bak petir yang saling menyambar. Jelas Yumna melihatnya sebagai tatapan permusuhan. Yumna sedikit bingung, pasalnya ini adalah Alvas.
"Oke Sayangku, suamiku tercinta. Bisa kita ke meja prasmanan? Aku haus," ucap Yumna sambil menarik lengan Haidar untuk menyingkir dari sana. Meskipun dia yakin Haidar akan memegang janjinya tadi saat di rumah, tapi rasanya lebih baik jika dia harus menjauhkan laki-laki ini dari sini sekarang juga.
"Semuanya, aku permisi sebentar," pamit Yumna kepada yang lainnya yang dijawab anggukan oleh beberapa orang.
Yumna segera membawa Haidar ke meja prasmanan di mana terdapat berbagai macam minuman dan makanan di sana. Haidar pasrah Yumna membawanya, tapi dia merasa itu jauh lebih baik daripada laki-laki lain menatap istrinya tersebut.
"Haidar bukannya tadi kamu sudah janji kalau tidak akan berdebat dengan dia kan?" ucap Yumna dengan nada sedikit kesal.
"Aku nggak berdebat, Sayang, aku cuma ingin mempertahankan apa yang aku punya." Yumna menjadi kesal kepada sang suami.
"Itu sih sama aja. Haidar, aku ingin minum, bisa tolong ambilkan?" pinta Yumna kepada sang suami, padahal minuman tersebut ada di belakangnya dan bisa dia ambil sendiri.
Haidar mengambilkan satu gelas minuman berwarna merah untuk Yumna, tapi wanita itu menggelengkan kepalanya. "Aku pengen air putih, nggak mau yang berwarna," ucapnya. Haidar kembali menyimpan gelas tersebut dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada air biasa di sana.
"Kayaknya aku harus minta sama pelayan. Kamu tunggu di sini sebentar ya." Minta Haidar yang mendapati anggukkan kepala dari istrinya. Haidar kemudian pergi dari sana untuk mencari seorang pelayan dan meminta apa yang Yumna inginkan.
__ADS_1
Yumna menunggu sang suami kembali dengan apa yang dia minta, dia kini memainkan hp-nya.
Seorang pria baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, beberapa gadis yang ada di sana menatap pria tersebut dengan penuh minat. Sangat tampan sekali dan juga gagah, tinggi dengan tubuh yang proporsional.
Laki-laki itu terus berjalan melewati para tamu dan tiba-tiba saja pandangannya tertuju kepada seorang wanita yang kini tengah berdiri sendiri. Dia mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan kehadiran wanita tersebut. Langkah kakinya yang lebar dia gerakan dengan cepat.
"Yumna?" Panggil laki-laki tersebut. Yumna menoleh dan terkejut ketika melihat atasannya ada di sana.
"Pak Randy! Bapak ada di sini juga?" tunjuk Yumna tanpa sadar kepada atasannya tersebut.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Randy bingung.
Yumna menegakkan tubuhnya dan tersenyum, menyelipkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. Hal tersebut membuat Randy seakan melihat sesuatu yang sangat indah, Yumna terlihat sangat cantik di matanya. Bagaikan ada cahaya dan bintang-bintang yang ada di sekeliling wanita itu. Randy menatap Yumna dari atas hingga ke bawah, dan juga sebaliknya. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan sangat pantas sekali memakai gaun yang indah. Beruntung sekali dia datang ke tempat ini. Dia bisa bertemu dengan Yumna tanpa sengaja.
"Bapak sendirian datang ke sini?" tanya Yumna yang membuat Randy tersentak dari dalam lamunannya. Yumna teringat jika atasannya ini adalah teman dari Aldy, maka sekarang dia sudah tidak heran lagi jika laki-laki ini ada di sini.
"Eh, iya. saya datang sendirian ke sini. Kamu datang dengan siapa?" tanya Randy bingung.
"Saya datang dengan suami."
Randy masih saja bingung dengan kehadiran Yumna yang ada di sini. Pasalnya dia meyakini jika kamu yang datang di pesta ini bukanlah orang-orang yang biasa. seketika di dalam pikirannya bertanya-tanya, siapakah suami Yumna.
"Suami kamu? Di mana?" tanya Randy sambil mengedarkan tatapannya ke sekeliling.
Yumna menunjuk ke depannya tepat ke arah Haidar yang sedang berbicara dengan seorang pelayan. Randy mengerutkan keningnya, seperti dia kenal dengan laki-laki itu, tapi siapa? Jelas penampilannya bukanlah seperti orang biasa, dan lagi melihat penampilan Yumna malam ini dengan memakai gaun yang indah, dia menjadi semakin bertanya siapa Yumna sebenarnya.
Tak lama Haidar kembali ke tempat di mana Yumna berada. Dia menatap heran seseorang yang ada di samping Yumna. Laki-laki Itu tampak tidak asing di matanya. Sejenak Haidar mencoba mengingat sambil terus berjalan ke arah sang istri berada.
"Ini minuman kamu, Sayang." Haidar memberikan minuman yang ada di dalam botol kepada Yumna.
"Terima kasih. Haidar, perkenalkan ini bosku di kantor, Pak Randy. Pak Randy, ini suami saya, Haidar." Yumna memperkenalkan kedua pria itu.
"Saya Haidar, suami Yumna," ucap Haidar mengulurkan tangannya kepada atasan Yumna. Laki-laki itu pun menyambut uluran tangan dari Haidar.
"Saya Randy. Atasan Yumna di kantor."
Randy sedikit merasa ciut melihat laki-laki yang ada bersama Yumna. Dia memperhatikan Haidar dari atas hingga ke bawah dan kemudian sebaliknya.
Dia tidak lebih baik dari aku, aku lebih keren darinya, batin Randy di dalam hati.
Haidar merasakan genggaman tangan Randy sedikit keras, dari tatapan laki-laki itu dia yakin jika atasan istrinya ini memiliki maksud yang tidak baik.
Sial sekali, aku tidak akan membiarkan istriku disukai oleh yang lain! Haidar menahan tangannya, dan balik menggenggamnya lebih erat lagi.
Kalau saja dulu aku bertemu dengan Yumna sebelum dia, aku pasti akan bersama dengannya, batin Randy.
Yumna menatap tangan kedua orang yang sedang bersalaman. Dia tidak mengerti dengan tatapan kedua laki-laki itu. Jika melihat dari wajah dan tatapan itu, sepertinya ini bukan hal yang baik. Sama seperti tadi saat Haidar menatap Aldy.
"Sayang, jangan menahan orang penting seperti Pak Randy bersama dengan kita. mungkin beliau ingin bertemu dengan yang lainnya juga," ucap Yumna lalu menarik lengan sang suami. Terpaksa Haidar melepaskan tangan itu meskipun rasanya dia masih kesal saat tadi melihat tatapan Randy yang penuh minat kepada istrinya.
"Oh iya tentu. Maafkan saya karena telah menahan Pak Randy di sini. Silakan jika Pak Randy ingin bertemu dengan yang lainnya," kata Haidar mengulurkan tangannya untuk memberi jalan kepada laki-laki itu.
Randy menganggap jika kalimat itu adalah usiran halus untuk dirinya. Maka, dia pun kini berpamitan untuk pergi.
"Kalau begitu saya duluan. Senang bertemu dengan Yumna dan Pak Haidar di sini."
Yumna dan Haidar menganggukkan kepalanya dan membiarkan Randy pergi dari hadapan mereka.
"Sial sekali! Kenapa auranya begitu kuat?" gumam Randy mengelus tangannya yang sedikit sakit.
__ADS_1