
Yumna kembali ke rumah, rasa yang ada di dalam dadanya kini sudah sedikit ringan. Meskipun dia tidak mendapatkan jawaban atas masalahnya, tapi rasanya beban yang dia rasakan di dalam dirinya hilang dengan berbagi cerita pada Tia.
Yumna ingat apa yang Ronald katakan, dia berpikir tentang ucapan pria dengan satu anak itu tentang Haidar.
"Semoga saja, apa yang Ronald katakan benar kali ini." gumam Yumna.
Mobil taksi yang membawa Yumna kini melaju dengan kecepatan konstan. Malam semakin larut, kendaraan sudah mulai sepi di jalan raya. Tak lama, Yumna sudah sampai di rumahnya.
"Kakak dari mana?" tanya Azkhan yang sedang duduk di teras dengan rokok di tangannya.
"Dari mana aja. Kepo!" Yumna mendekat, merebut rokok dari tangan Azkhan dan mematikan rokok itu di asbak.
"Kak! Itu belum habis!" protes Azkhan marah.
"Rokok gak baik untuk kesehatan, Az!"
"Tapi enak untuk hilangkan stress, Kak!" seru Azkhan kesal. Yumna tidak peduli. Dia mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas.
"Eh, jangan dong, Kak!" tatapnya penuh permohonan. Azkhan hendak meraih benda itu, tapi Yumna segera menjauhkan tasnya dari jangkaun sang adik.
"Jangan ngerokok lagi. Kamu tuh kebiasaan, ya. Kalau ada masalah dengan Iriana bicarakan dengan baik. Jangan lari ke rokok. Kalau Iriana tau kamu balik ngerokok lagi, dia pasti akan marah!" cerca Yumna, mengingatkan Azkhan.
Azkhan cemberut, Yumna mneyebutkan nama Iriana.
__ADS_1
"Kami dah putus, apa yang bisa dibicarakan lagi? Balikin dong, Kak. Please!" mohon Azkhan.
"Putus? Kenapa? Sesulit apa masalah kalian sampai putus?" tanya Yumna bingung, menata wajah adiknya yang kesal.
"Heh, kenapa?" tanya Yumna mendesak.
"Gak apa-apa!" jawab Azkhan, dia tidak ingin membahas masalah ini dengan kakaknya. Azkhan memutuskan untuk pergi dari hadapan Yumna.
"Azkhan. Hei kenapa? Kamu bisa cerita sama Kakak. Siapa tahu Kakak bisa bantu!" teriak Yumna dari luar sedangkan Azkhan dengan langkah lebarnya sudah hampir mencapai tangga.
"Gak perlu! Sudah gak ada yang bisa dibicarakan lagi!" teriak Azkhan. Yumna berjalan dan mendapati adiknya sudah di tengah tangga.
Lily mendengar teriakan dari luar, segera dia keluar dari kamarnya.
"Gak ada apa-apa, Ma. Yumna masuk kamar dulu, ya." Pamit Yumna. Lily mengangguk dan membiarkan Yumna untuk ke kamarnya.
Kamar Azkhan sudah tertutup dengan rapat. Yumna ingin tau dengan apa yang terjadi pada adiknya, tapi dia urung masuk ke dalam kamar itu.
'Besok saja aku akan tanyakan lagi,' batin Yumna.
...***...
Haidar sudah tidak tahan rasanya. Dia ditekan oleh Mami Mitha untuk memperjelas hubungannya dengan Yumna. Begitu juga dengan Papa Arya. Dia tidak mau Haidar berlama-lama sendiri, selain agar Haidar mempunyai pendamping, juga karena sang istri yang terus merengek ingin ada teman di rumah.
__ADS_1
Ini sudah tiga bulan semenjak haidar sudah dekat kembali dengan sang mantan. Yumna sedari kemarin belum mengatakan apa-apa. Mungkin kah kali ini dia yang harus bertindak?
Haidar bingung, dia hanya menatap layar hpnya yang mati menyala, satu nomor yang sudah lama dia simpan hanya dia tatap sampai layar hpnya mati. Dia menyalakannya lagi, tapi terdiam lagi hingga layarnya kembali gelap.
"Apa aku harus melakukan ini? Bagaimana kalau Yumna marah?" gumam Haidar. Pekerjaan yang ada sedari tadi dia abaikan demi memikirkan hubungannya dengan Yumna.
Hatinya kini dia mantapkan, ibu jarinya bergerak menekan ikon bergambar telepon.
"Iya? Ada apa?" tanya suara laki-laki dengan tegas. Haidar terkesiap mendengar suara itu, membuat dirinya yang tadi sudah sangat yakin kini hanya terdiam membeku.
"Tidak jadi bicara? Saya tidak punya banya waktu untuk telepon main-main!"
"Eh, tunggu, Pa!" sergah Haidar dengan cepat.
"Saya bukan Papa kamu lagi!"
Haidar menyadari kesalahannya.
Duh, kenapa aku bisa memanggilnya Papa?
Haidar merasa malu, juga takut dengan ucapan bernada tegas dari Bima.
"Maaf, Pak. Maafkan saya! Anu ... saya ingin bicara dengan Pak Bima. Apakah ada waktu untuk kita bisa bicara berdua?" tanya Haidar dengan wajah yang merah dan dada yang berdebar dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Bicara saja!" jawab Bima.