
Yumna memakan kembali satenya sambil memandang pantai yang hanya di terangi cahaya bulan yang temaram. Meski gelap, tapi Yumna cukup menikmati pemandangan indah malam itu.
Sesekali Haidar menoleh pada Yumna. Terlihat gadis itu sangat tenang menikmati pemandangan laut. Dia sudah selesai dengan makanannya begitu juga dengan Yumna yang baru saja menyimpan piring di sampingnya.
"Ke pantai, yuk!" ajak Haidar.
"Gak mau, ah. Mau balik ke kamar aja, ngantuk!" Yumna segera berdiri dan meninggalkan Haidar.
"Yeee anak ini gak bisa di ajak romantis sedikit!" menatap punggung Yumna yang terus menjauh. Haidar pun bangkit dan membayar makanannya, kemudian menyusul Yumna.
Yumna berjalan dengan cepat. Mengingat bagaimana sifat Haidar yang sedikit pemaksa membuat dia takut jika Haidar akan menyeretnya ke pantai.
"Yumna tunggu, dong!" Haidar berseru, berlari mendekati Yumna.
"Apa? Gue kira elo mau nyelem dulu di laut!" cibir Yumna.
"Elo gak bisa di ajak romantis dikit sih!"
"Ogah gue romantisan sama elo. Meskipun iya elo suami gue, tapi elo harus ingat elo tuh udah punya Vio! Sana, romantisin aja si Vio!" tiba-tiba saja perasaannya menjadi kesal. Yumna berjalan dengan cepat meninggalkan Haidar. Haidar kembali mengejar sang istri.
"Yee, elo ngomong gitu kayak yang cemburu aja!"
"Siapa yang cemburu? Gue cuma kesel, disini gue jadi pengangguran gara-gara ngikutin elo, cuma buat apa? Buat nungguin orang pacaran!" kesalnya.
"Tapi elo juga seneng kan dapet kenalan baru. Mana dia belanjain banyak lagi!" Haidar juga ikutan kesal mengingat kejadian tadi siang.
"Kemana aja seharian ini kalian pergi? Gue tungguin lama bang..." Haidar menutup mulutnya. Perkataannya tidak bisa ia tarik lagi.
__ADS_1
Yumna menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Haidar. Lalu tersenyum penuh ejekan.
"Elo nungguin gue?" tanya Yumna.
"Gak! Siapa yang nungguin elo?" Haidar menjawab dengan canggung, salah tingkah karena ia ketahuan menunggu Yumna pulang. Sekarang Haidar yang berjalan menjauh meninggalkan Yumna.
"Tadi dia bilang gitu kan?" gumam Yumna. Lalu mengejar Haidar.
"Haidar, elo beneran nungguin gue?"
"Enggak!"
"Serius?"
"Serius. Gue enggak!" ucap Haidar. Yumna terus mengejar Haidar hingga akhirnya mereka sampai di hotel tempat mereka menginap.
Yumna berjalan cepat sementara Haidar terus meninggalkannya. Seorang pria dengan menggunakan jaket dan topi hitam melewati Haidar, Melirik sedikit dan berjalan dengan sangat cepat hingga tak sengaja menabrak Yumna.
"Awww!!" Yumna memekik kesakitan, dia terjatuh hingga pantatnya menyentuh lantai.
Haidar berhenti saat mendengar pekikan Yumna. Yumna terlihat sedang jatuh terduduk di lantai.
Merasa di perhatikan pria itu langsung saja pergi dengan cepat tanpa membantu Yumna untuk berdiri.
"Hei. Gak sopan!" teriak Yumna pada pria yang tadi menabraknya. Haidar terus saja memperhatikan, merasa dia kenal dengan pria itu, tapi entah siapa! Dia tidak ingat!
"Elo mau terus duduk disana?" Haidar mendekat dan mengulurkan tangannya. Yumna mencebik menahan rasa sakit, lalu meraih tangan Haidar. Dia berdiri sambil membersihkan bajunya yang kotor.
__ADS_1
"Sakit!" lirihnya menatap tangannya yang lecet.
"Kenapa?" tanya Haidar. Yumna memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit berdarah. Haidar menarik Yumna sampai ke kamar.
Di dalam kamar. Yumna duduk di tepi kasur, sedangkan Haidar mencari kotak p3K yang ia bawa di kopernya.
Haidar mengambil tangan Yumna dan memberikan alkohol di tangannya dengan kapas. Yumna sedikit meringis merasakan sakit di kulitnya.
"Jangan cengeng. Cuma luka dikit juga!" cebik Haidar.
"Sedikit juga sakit tahu! Kalau elo cuma mau ejek gue mending gak usah obatin deh!" Yumna menarik tangannya, kesal. Tapi kemudian Haidar mengambil tangannya lagi untuk kembali di obati.
"Elo itu jadi cewek suka marah-marah terus. Bisa gak sih kalau jadi cewek sedikit lembut gitu! Kalau elo pemarah, siapa yang mau sama elo!" Haidar menarik tangan Yumna ke atas dan meniupnya pelan-pelan.
Deg. Deg. Deg.
Perlakuan Haidar padanya membuat dirinya merasakan sensasi yang aneh. Semakin lama semakin aneh. Yumna tak bisa memalingkan pandangannya dari pria di hadapannya ini. Rasanya sangat menenangkan.
Tampan!
"Udah puas lihatin gue?" Ucap Haidar tanpa menghentikan aktifitasnya, ia lalu mengambil plester dan menempelkannya disana.
Yumna memalingkan wajahnya ke samping, malu karena dirinya ketahuan menatap dan mengagumi sosok di depannya.
"Siapa yang lihatin elo? Gue lihat tangan gue sendiri." elaknya.
"Sudah belum? Gue udah ngantuk!" tanya Yumna. Haidar melepaskan tangan Yumna dan kemudian bangkit untuk menyimpan kembali kotak p3K itu di kopernya.
__ADS_1
Yumna dan Haidar tidur bersebelahan saling memunggungi. Tak ada sofa di dalam sana untuk Haidar tidur.