
Haidar membawa Yumna pergi dari taman tersebut. Seperti apa yang Haidar tadi katakan, dia ingin membawa Yumna pergi seharian ini menikmati waktu mereka berdua hingga malam menjelang.
Mobil kini berhenti di sebuah rumah makan sederhana, membuat Yumna sedikit bingung karena mereka ternyata tidak lantas pulang ke rumah.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Yumna bingung.
"Sarapan, lah. Aku mau bawa kamu seharian ke luar, kita gak akan pulang sebelum malam nanti," ucap Haidar dengan senyumannya.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Yumna lagi.
"Kemana saja, yang penting menikmati waktu kita di luar hanya berdua. Kamu gak ada janji sama Mama Lily kan?" tanya Haidar lagi. Yumna menggelengkan kepalanya, memang hari ini dia tidak ada janji dengan siapapun.
"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu. Jangan cuma makan sedikit karena perjalanan akan sedikit jauh," ucap Haidar lagi.
"Kemana sih? Aku jadi penasaran," ucap Yumna lagi, baru dia tahu jika Haidar ternyata bisa membuatnya penasaran juga.
"Ada saja. Ayo," ucap Haidar.
Mobil dia parkirkan dengan baik dan kemudian keluar dan berjalan ke sisi yang lain dan membukakan pintu untuk istrinya keluar dari dalam mobil tersebut. Yumna hanya menurut saja, jangan sampai banyak bertanya karena bisa saja Haidar tidak suka dan akhirnya membatalkan kepergian mereka hari ini.
Kedua orang itu masuk ke dalam rumah makan sederhana yang berada tidak jauh dari taman tempat tadi mereka berolahraga, sudah sedikit siang untuk disebut sarapan pagi. Haidar dan Yumna memesan makanan yang berbeda.
"Jangan cuma satu piring saja, perjalanan akan sedikit jauh, Yumna. Kamu harus makan yang banyak biar gak kelaparan di jalan," ucap Haidar saat Yumna hanya memesan nasi campur dengan lauk daging ayam dan sayuran saja.
"Ih, kamu nih ya. Bikin aku penasaran aja. Memangnya perjalanan sampai berapa jam sih, sampai kamu bilang aku harus makan banyak?" tanya Yumna semakin penasaran saja.
"Yang pasti lebih dari dua jam perjalanan sampai kita ke sana," ucap Haidar lagi.
"Tapi aku gak akan kuat makan banyak, sepiring juga sudah cukup," ucap Yumna. Haidar tersenyum dan akhirnya tidak meminta Yumna untuk menambah makanannya lagi.
Yumna merasa penasaran dengan perjalanan hari ini. Entah kemana Haidar akan membawanya pergi. Akan tetapi, sepertinya perjalanan memang akan sedikit lama mengingat Haidar barusan sudah membeli cemilan di minimarket dan segala persiapan lainnya.
"Aku penasaran, Haidar. Lagian juga lihat baju kita, masa pake baju olahraga," ucap Yumna sambil menunjuk pakaian yang melekat pada tubuhnya.
"Ada tuh di belakang. Aku sudah siapin baju, kok," ucap Haidar lagi menunjuk dengan kepalanya ke arah belakang.
"Ha? Serius? Kamu seniat itu?" tanya Yumna tidak percaya, dia hanya tahu Haidar membawanya pergi berolahraga, tidak dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Iya lah. Aku sudah dari kemarin kok, rasanya pengen bawa kamu pergi, tapi belum bilang aja karena takut kamu nolak," ucap Haidar sambil mengusap belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali sambil tersenyum malu.
"Kalau kamu ngajak ke tempat yang menyenangkan kenapa juga aku nolak. Aku juga kan bosan di rumah terus, Haidar." Yumna mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dia ingin sekali pergi di hari libur, hanya saja dia takut jika Haidar lelah karena telah bekerja keras di hari-hari biasanya. Bosan karena di saat libur hanya menghabiskan waktu mereka di rumah atau di rumah orang tua mereka.
"Aku juga pengen pergi, tapi takut kamu capek kalau pergi ke luar," ujar Yumna malu.
Haidar tertawa kecil, begitu juga dengan Yumna yang menyadari jika keduanya ternyata memiliki keinginan yang sama. Nyatanya, enam bulan pernikahan dan tinggal di bawah atap yang sama belum membuat mereka cukup mengenal satu sama lainnya.
"Ternyata kita belum terlalu dekat sepertinya ya. Aku masih belum paham apa yang kamu mau," ucap Haidar. Yumna mengangguk setuju.
"Iya, aku juga belum paham apa yang kamu mau. Maaf," ucap Yumna. Keduanya kini saling terdiam, menikmati perjalanan yang panjang. Kendaraan tidak terlalu ramai sekarang ini, membuat Haidar bisa memacu laju mobilnya sedikit lebih kencang.
Mobil berhenti pada sebuah lampu merah bersama dengan beberapa kendaraan yang lainnya, Haidar dan Yumna menunggu sebentar hingga lampu berubah hijau kembali.
"Kamu mau ganti baju?" tanya Haidar kepada Yumna. Yumna mencubit pakaiannya, rasanya tidak ada aroma aneh dan tidak perlu mengganti pakaiannya.
"Gak ah, lagian gak bau juga," ucap Yumna sambil tersenyum.
Haidar mengangukkan kepalanya. "Sepertinya aku yang butuh ganti pakaian," ucap Haidar sambil mencium aroma tubuhnya yang sedikit beraroma karena berkeringat tadi.
"Aku bantu ambilkan." Yumna melepas sabuk pengaman dan beralih ke belakang, mengambil tas yang ada di bagian belakang mobil. Pakaian yang dia ambil dia serahkan pada Haidar, segera laki-laki itu mengganti kaosnya dengan cepat sebelum lampu lalu lintas benar-benar berubah hijau. Yumna di belakang sana membuka jaketnya dan hanya memakai tanktop putih yang dia pakai dari rumah dan kembali ke kursinya di depan.
"Gak pa-pa, cuma di mobil kok. Nanti kalau sampai aku pakai lagi jaketnya," ujar Yumna lagi.
Perjalanan mereka lanjutkan kembali, hingga hampir menjelang siang dan Yumna sampai ketiduran karena bosan.
Mobil kini telah sampai di tempat yang dituju, sedikit panas hari ini membuat Haidar mempersiapkan kacamata hitam yang telah dia siapkan sedari rumah untuk mereka berdua, melihat ke arah samping di mana istrinya kini tengah tertidur lelap.
"Yumna, sudah sampai. Kita turun, yuk." Ajak Haidar sambil mengguncang bahu Yumna, wanita itu membuka matanya dan menatap ke sekeliling ternyata mobil telah berhenti bersama dengan mobil-mobil yang lainnya. Dia tidak menyangka dengan tempat yang ada di depannya.
"Pantai?" tanya Yumna tidak percaya saat melihat laut dan hamparan pasir yang ada di luar mobilnya, ranting pepohonan melambai-lambai akibat angin yang menerpa tempat tersebut. Beberapa orang juga ada di sana, berlarian saling mengejar di antara ombak yang datang silih berganti. Semua itu terlihat dengan sangat jelas sekali sampai membuat Yumna masih menatap tidak percaya.
"Kamu suka gak? Maaf ya, sudah bikin kamu capek di perjalanan yang jauh ini," ucap Haidar. Yumna menggelengkan kepalanya.
"Kemana pun, asal sama kamu aku senang kok," ujar Yumna yang menerbitkan senyuman pada bibir Haidar. Yumna segera memakai jaketnya tadi, tidak ada niatan untuk mengganti pakaiannya karena dia cukup nyaman dengan apa yang dia pakai kali ini.
"HP kamu ada di tas yang tadi," ujar Haidar memberi tahu.
__ADS_1
"Eh, kamu bawa hp ku juga?" tanya Yumna terkejut. Haidar menganggukkan kepalanya dan turun dari dalam mobil untuk mengambil tas di bagian belakang. Haidar membuka kembali mobilnya dan menyerahkan hp milik Yumna. Dua orang itu turun dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah pantai berada, tidak terlalu jauh karena parkiran mobil mereka juga ada di tepi jalan dan tidak jauh dari pantai tersebut, hanya lima puluh meter saja dan berjalan kaki sudah sampai di pantai dengan pasir yang lembut dan hangat karena terpapar sinar matahari.
Yumna sangat menikmati udara di pantai ini, angin yang lembut membelai kulitnya yang putih, rambutnya beterbangan terbawa angin lembut pantai di siang ini. Udara panas dari matahari yang terik tidak dia hiraukan, bahkan dia melepaskan sepatunya demi merasakan pasir pantai yang hangat di bawah telapak kakinya.
Ombak di depan sana membuat Yumna terpaku, suara deburan air itu sangat indah di telinganya. Yumna ingat saat terakhir ke pantai adalah waktu honeymoon-nya dengan Haidar waktu itu di Lombok. Waktu yang seharusnya menjadi momen yang indah di dalam pernikahan mereka. Namun sayang, honeymoon itu hanyalah kedok agar Haidar bisa bersama dengan kekasihnya.
"Apa kita perlu reservasi hotel dekat sini juga?" tanya Haidar membuyarkan lamunan Yumna.
"Kayaknya gak perlu, buat apa reservasi hotel kalau gak nginap? Besok kerja, kita harus pulang nanti sore, Haidar," ujar Yumna. Haidar menganggukkan kepalanya. Benar apa yang Yumna katakan, pekerjaan terlalu banyak dan mereka tidak bisa meninggalkannya.
"Harusnya kita ke sini kemarin, jadi bisa nginap ya," ujar Haidar dengan penuh penyesalan. Yumna tertawa terkekeh dan setuju. Rasanya sayang sekali pergi ke sini hanya sebentar saja.
"Iya, lain kali kita harus pergi dan menginap, Haidar," ujar Yumna.
Haidar mendekat pada Yumna dan menggenggam tangan istrinya itu, tampak Yumna mengalihkan sejenak tatapannya dari ombak di pantai. "Jalan sebentar, sambil cari makan siang?" tanya Haidar yang juga merupakan sebuah ajakan. Mereka berdua berjalan di tengah panasnya siang sambil menikmati suasana pantai di siang ini, tidak peduli dengan terik sinar matahari yang membakar kulit. Beberapa orang menatap aneh pada Yumna dan Haidar yang masih mengenakan pakaian olah raga, tapi kedua orang itu tidak peduli dengan pandangan orang lain, mereka hanya ingin menikmati waktu mereka berdua dengan suasana yang berbeda. Sepatu keduanya mereka bawa di tangan, membiarkan jejak-jejak kaki mereka terlihat jelas dan tertinggal di belakang.
"Terima kasih kamu sudah ajak aku ke sini. Sudah lama banget gak ke pantai dan lihat laut," ujar Yumna lagi sambil tersenyum.
"Mau main basah-basahan di tepian? Berenang?" tanya Haidar, Yumna menggelengkan kepalanya, dia terlalu takut untuk berenang. Bayangan masa lalunya terlalu menakutkan sampai-sampai hingga saat ini dirinya takut untuk menaklukan air baik itu di kolam renang rumahnya, apalagi di kumpulan air yang banyak ini.
"Aku gak mau berenang," ucap Yumna sambil memegang erat tangan Haidar, sadar dengan genggaman tangan istrinya yang semakin keras membuat Haidar menatap Yumna.
"Oh ya, aku lupa. Kamu trauma dengan air ya?" Haidar ingat dengan cerita Yumna dulu saat mereka menikah pertama kalinya. Yumna menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan tatapan dari depan sana. "Kenapa?" tanya Haidar penasaran. Dia tidak sampai mendengar cerita tersebut dulu.
"Ada seseorang yang tenggelam dan aku gak tau dia selamat atau tidak, setelah itu aku gak mau berenang lagi," ujar Yumna bercerita dengan singkat.
"Siapa? Pacarmu?" tanya Haidar, melihat wajah Yumna yang sedih saat bercerita membuat dia semakin penasaran dan juga sangat ingin tahu. Jika memang benar pacarnya, ada rasa tak suka di dalam hati Haidar.
"Bukan. Itu kejadian lama, jauh sebelum aku tau apa yang namanya cinta," ujar Yumna. Haidar tersenyum lega, menatap Yumna dengan penuh cinta.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Haidar.
"Apa?"
"Aku, orang ke berapa yang kamu cinta?" tanya Haidar ingin tahu.
Yumna menghentikan langkah kakinya, sedikit basah karena terkena ujung ombak yang datang silih berganti mengenai kakinya yang putih.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tanya itu, Haidar," ujar Yumna menolak menjawab pertanyaan suaminya. Malu rasanya untuk menjawab.