
Haidar senang dengan jawaban Yumna. Syukurlah jika gadis itu menyukai tempat ini. Dia senang melihat Yumna yang kini diam menatap ke depan sana sambil tersenyum kecil.
Yumna menatap pemandangan malam di depannya, sangat menyenangkan dan juga menenangkan untuk dinikmati. Entah kapan terakhir kalinya dia menikmati pemandangan alam seperti ini. Meskipun hanya sekedar pemandangan sederhana di malam hari, tapi bisa membuat hatinya damai. Berhenti sejenak dari penatnya kegiatan dia selama ini.
Haidar menyandarkan punggungnya pada pagar, terdengar suara derit kayu tersebut, tapi tidak membuat Haidar dah Yumna terganggu sama sekali. Dia masih memperhatikan Yumna yang tersenyum seraya menikmati hembusan angin yang membelai rambutnya dengan lembut.
"Haidar, terima kasih kamu sudah ajak aku ke sini. Aku senang sekali," ucap Yumna yang ditanggapi anggukan kepala oleh Haidar.
"Kapan kamu pergi?" tanya Yumna.
Haidar menghela napasnya dengan berat. Hal ini yang membuat dia membawa Yumna ke toko perhiasan dan juga ke tempat ini.
"Aku akan pergi lusa. Maaf, ya. Karena kesalahanku dulu, kita jadi tidak bisa dengan mudah menjalani hubungan ini," ucap Haidar menyesal. Yumna tersenyum kecil.
"Bukan hanya kamu saja. Tapi aku juga yang salah. Jika saja kita tidak melakukan hal lelucon seperti itu, mungkin kita sudah menikah dengan orang yang dijodohkan dengan kita. Mungkin juga kita sudha bahagia, atau ... tidak," ucap Yumna. Haidar menatap wajah Yumna yang terlihat sendu. Memikirkan nasib mereka berdua membuat hal yang sangat mudah menjadi sangat rumit.
Haidar tertawa miris. Semua kesalahan ada pada dirinya, padahal saat mereka belum bercerai pun, dia sudah merasakan getaran pada Yumna.
__ADS_1
"Aku yang bodoh. Aku yang tidak mengerti dengan hatiku sendiri." Yumna menatap Haidar, dan sama-sama tertawa kecil.
"Yumna," panggil Haidar.
"Hem?"
"Aku akan beli rumah untuk tinggal kita nanti setelah menikah," ucap Haidar tanpa Yumna duga.
"Hah?"
Yumna tersenyum senang, membayangkan ada taman dan juga kolam di sana tentu akan sangat menyenangkan.
"Aku kira, kita akan tinggal di rumah Mami dan Papi lagi," ujar Yumna.
"Tentu saja tidak. Kamu pikir aku akan mau rumah tangga kita diganggu Mami? Aku gak rela ya di hari liburku Mami malah bajak kamu seharian untuk temani ke salon dan juga belanja!" ujar Haidar kesal. Ingat jika hal itu yang dilakukan oleh sang Mami dulu saat Yumna masih berstatus istrinya. Yumna menggelengkan kepala.
"Ya aku kira wajar. Mami tidak bisa ajak kamu nyalon bareng, dan kamu juga pasti gak mau kan temani Mami Mitha untuk belanja?" cecar Yumna. Haidar tersenyum meringis mendengar ucapan Yumna yang benar adanya.
__ADS_1
"Menurutku itu wajar," ucap Yumna lagi. Haidar tidak bisa mengelak atau membela dirinya. Dia hanya tertawa kecil dengan tatapan tajam mantan dan calon istrinya.
"Aku sudah memutuskan, nanti setelah kita menikah aku tidak mau ada orang lain di rumah kita. Aku hanya mau ada kita berdua," bisik Haidar di dekat telinga Yumna.
Yumna merasakan desir aneh di dalam dirinya. Dagup jantungnya berpacu dengan cukup kencang dan tidak bisa dia atur dan tahan. Sesaat Yumna terpaku menatap Haidar. Akan tetapi, dia tersadar dan kemudian menjauhkan dirinya dari Haidar saat Yumna yakin jika dia sudah mulai masuk ke dalam hipnotis sorot mata laki-laki yang ada di sampingnya ini.
Haidar tidak membiarkan Yumna menjauh, menarik keras tangan Yumna sehingga gadis itu menubruk dada Haidar. Rasanya malam ini Haidar tidak ingin memiliki jarak dengan Yumna walau hanya sejengkal.
Yumna terpaku, hangat dekapan dari tubuh Haidar membekukannya. Dia tidak mampu bergerak sama sekali. Tatapannya tidak bisa ia alihkan dari mata Haidar, seakan sorot mata itu mempunyai kekuatan magis yang bisa membuat Yumna tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sana.
"Maaf, Yumna. Aku memang laki-laki yang kurang ajar, tapi aku ingin jujur sekali sama kamu malam ini. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu maafkan atas segala kesalahanku."
Yumna tersenyum, dia menganggukkan kepala mendengar ucapan Haidar.
"Aku sudah maafkan kamu," ucap Yumna.
Malam yang semakin syahdu menuntun mereka pada kedekatan yang sangat intens. Dinginnya malam tidak menghentikan mereka yang kini saling mendekat dan semakin mendekat.
__ADS_1