
Wangi dari aroma makanan tersebut membuat Yumna sangat senang sekali. Terserah saja jika nanti dia harus pulang pergi keluar masuk ke dalam kamar mandi, yang terpenting sekarang ini dia ingin makan yang kenyang.
"Eh, makan di sini aja deh. Ya. Aku mau makan di sini aja," ucap Yumna sambil menggoyangkan tangan Haidar.
Haidar hanya bisa mengangguk saja. Lagipula dia tidak akan kemana-mana siang ini, hanya menunggu sore nanti jika Yumna benar-benar ingin menonton ke bioskop.
"Bang, makan di sini aja. Yang itu dibungkus ya," ucap Yumna kali ini kepada pelayan warung. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dan membawakan pesanan yang tadi di tunjuk Yumna.
Yumna dan Haidar memilih makan di tepi jendela besar, pemandangan jalanan terlihat dengan sangat jelas dari tempat mereka duduk.
"Tumben banget kamu mau makan di sini? Biasanya juga dibungkus dibawa pulang?" tanya Haidar. Yumna menatap sinis suaminya itu dan mencebik kesal.
"Kalau telur tadi nggak kamu habiskan aku juga nggak akan makan di sini," jawab Yumna sekenanya. Haidar hanya memasang wajah tersenyum. Andai Yumna tahu bagaimana rasa yang dia masak tadi, bukankah dia akan kecewa seperti yang sebelumnya? Apalagi ini adalah yang terparah yang pernah Haidar cicipi.
"Iya, makan lah di sini sepuas kamu. Makan yang banyak," ucap Haidar lagi.
Tak berapa lama, makanan yang di pesan telah sampai, Yumna terlihat sangat senang melihat semua makanan yang dia lihat di atas meja.
Melihat pesanan makanan yang ada di depannya membuat Haidar menjadi terpaku. "Banyak banget. Kamu pesen sebanyak ini?" tunjuk Haidar pada makanan tersebut.
"Yup!" Yumna mengangguk, bersiap untuk memulai menikmati makanan tersebut. Gulai nangka yang tadi telah dia pesan kini dia siramkan ke atas nasi hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
"Mau makan lagi, nggak?" tanya Yumna sebelum mulai melahap makanannya. Haidar menggelengkan kepala. Sudah cukup makanan tadi yang dia nikmati saat di rumah.
"Kamu aja makan yang banyak. Aku masih kenyang," jawab Haidar.
Satu persatu makanan telah Yumna coba, gulai nangka, rendang, ikan goreng, juga telur balado seperti buatannya tadi, tapi kali ini dia mendapati bentuknya yang bulat utuh.
Haidar yang memperhatikan istrinya menelan ludahnya dengan susah payah, tidak menyangka jika ternyata porsi makan istrinya bisa sebanyak ini.
Setelah hampir satu jam berada di sana dan menghabiskan semua makanan, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang dengan membawa sayur berupa rendang dan juga sayur nangka.
Baru saja Yumna akan naik ke atas motor, tiba-tiba saja mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali.
__ADS_1
"Eh, Yumna. Ternyata ketemu di sini," ucap seorang wanita yang ternyata adalah teman satu kerjaan di perusahaan.
Yumna urung naik ke atas motor, tersenyum seraya menganggukkan kepalanya ke arah wanita tadi. "Mbak di sini juga?" tanya Yumna, helm yang sudah hampir dia pakai kini hanya dipeluk di depan dada.
"Iya, kita mau beli lauk pauk, ada tamu di rumah," terang wanita itu. "Sudah mau pulang?" tanyanya lagi. Yumna menganggukkan kepalanya kini.
"Iya, sudah selesai. Mau pulang."
Wanita itu melihat Haidar yang hanya memakai pakaian biasa dan celana pendek setinggi lutut. Meski memang Haidar tampak tampan dan juga menawan, tapi melihat dia hanya memakai kaos biasa dengan sandal jepit biru sejuta umat membuatnya menatap sinis kepada mereka. Apalagi, motor yang Haidar pakai adalah motor keluaran tahun lama dan sudah tampak menyedihkan karena terdapat bagian yang pecah dan berlubang di bagian sampingnya.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya kaget loh tadi ketemu sama kamu, tapi kok mobil yang biasanya nggak di pake ya? Kemana?" tanya wanita itu.
"Ada di rumah, Mbak. Kalau cuma buat keluar sebentar aja sih repot harus keluarin mobil segala. Jadi, kami pakai motor aja," ucap Yumna lagi.
"Oh, gitu. Tapi--"
"Em, saya permisi, Mbak. Di rumah sudah ada yang menunggu. Saya pamit dulu," ucap Yumna pamit, lalu memakai helmnya dan naik di belakang Haidar.
"Saya duluan," pamit Yumna sekali lagi yang dibalas anggukkan kepala oleh wanita tadi.
"Siapa?" tanya sang suami saat Haidar dan Yumna sudah pergi dari tempat itu.
"Karyawan juga di kantor. Katanya sih istri orang kaya, ke kantor aja bawa mobil bagus, tapi kok itu motornya aja kayak motor tukang kebun!" jawab wanita itu dengan nada mencibir.
"Papa lihat kan tadi gimana baju keduanya? Kayak lusuh gitu, warnanya aja nggak jelas, udah pudar," ucapnya lagi, kemudian wanita tersebut mendekat kepada suaminya.
"Pa, ikutin mereka, yuk."
"Buat apa?" tanya sang suami bingung.
"Pembuktian," jawab istrinya.
"Haduh, Ma. Ini kan kita ada tamu di rumah--"
__ADS_1
"Sebentar!" ujar wanita itu memaksa, lalu duduk di atas motor matic besar milik sang suami, motor dengan body lebar keluaran tahun kemarin, tentunya masih belum terlalu banyak yang memiliki kendaraan tersebut.
"Ayo, Pah. Cepat sebelum ketinggalan!" ujar wanita itu dengan tak sabaran.
Motor itu pun kemudian berjalan untuk membuntuti Yumna dan Haidar. Laki-laki itu hanya pasrah mengikuti perkataan istrinya, daripada nanti terus mengomel dan tidak akan bisa diam sampai di rumah.
Yumna dan Haidar berjalan dengan kecepatan yang sedang, cukup menikmati waktu perjalanan mereka berdua meski udara siang ini sedikit terasa panas. Angin yang menerpa kulit memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Yumna.
"Sudah ini mau kemana? Jajan?" tawar Haidar dengan berteriak dari depan.
"Nggak, ah. Pulang aja," balas Yumna sama berteriak juga. Akhirnya kedua orang itu pun masuk ke dalam area perumahan di mana rumah mereka berada.
Motor berhenti di depan pagar. Yumna turun terlebih dahulu dan membukakan pintu gerbang agar Haidar bisa membawa motornya masuk ke dalam sana. Bersamaan dengan itu, Pak Dani keluar dari dalam rumah dengan mengenakan baju koko dan sarung, serta peci, baru saja melaksanakan salat Dhuhur. Yumna mendorong kembali pagar hingga tertutup sempurna.
"Pak Dan, ini makanan saya belikan buat Pak Dani. Bapak ambil rendangnya, sayur gulai nangka buat saya. Tolong pisahin ya," ucap Yumna.
"Loh, nggak salah ini rendang buat saya?" tanya Pak Dani bingung sambil menerima bungkusan makanan tersebut.
"Enggak, saya lagi pengen sayur gulai. Tolong nanti simpan di atas meja, ya. Bapak segera makan siang," ucap Yumna lagi. Pak Dani segera membawa bungkusan kresek tersebut ke dalam rumah melewati pintu depan.
Melihat banyak daun kering bertebaran di halaman membuat Yumna tidak tahan. Dia mengambil sapu lidi yang ada di dekat pos dan mulai membersihkannya.
Haidar baru saja selesai menyimpan motor ke dalam garasi. Melihat sang istri membersihkan halaman membuat dia kasihan, apalagi saat mengusap keringat yang ada pada dahinya.
"Sini aku aja yang sapu," pinta Haidar akan sapu yang ada pada Yumna.
"Nggak usah, daripada nyapu mendingan bantu aku buat tebang dahan ini deh," ucap Yumna menunjuk dahan pohon yang sudah mengering. Daun-daun yang ada di sana berjatuhan ke tanah.
"Oh, aku bawa dulu kapaknya." Haidar hendak pergi ke arah dapur, tapi Yumna menyuruhnya untuk pergi ke pos jaga Pak Dani, ada alat berkebun juga di sana.
"Oke." Haidar pergi ke pos dan mendapatkan alat-alat lebih di bawah bangku Pak Dani. Tak butuh waktu yang lama, Haidar sudah kembali dengan kapak dan gunting tanaman.
"Tuh kan, Pah. Apa Mama bilang, penipu kan mereka tuh! Ngakunya istri orang kaya, ternyata cuma istri tukang kebun," ucap wanita itu, lalu menepuk pundak suaminya untuk pergi dari sana.
__ADS_1